Carpe Diem, But Whose Dream?

Mahasiswi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Dhaveella Anggrainy Heilga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul ketika kita mulai beranjak dewasa: “Nanti kamu mau jadi apa?”
Waktu kecil, pertanyaan itu terdengar menyenangkan. Kita bisa menjawab apa saja. Dokter, guru, penyanyi, pemain bola, astronot. Jawabannya bahkan bisa berubah setiap minggu tanpa perlu merasa bersalah.
Semakin besar, pertanyaan yang sama justru terasa semakin berat.
Sebab semakin banyak suara yang ikut menentukan jawabannya. Ada harapan orang tua, standar lingkungan, pencapaian teman-teman, sampai bayangan tentang kehidupan seperti apa yang seharusnya kita miliki. Perlahan, kita bisa saja begitu sibuk mengejar sesuatu sampai lupa bertanya: sebenarnya, ini keinginan siapa?
Pertanyaan itulah yang kembali muncul setelah menonton Dead Poets Society.
Film garapan Peter Weir yang dirilis pada 1989 ini berlatar di Welton Academy, sekolah asrama khusus laki-laki yang menjunjung tinggi tradisi, disiplin, dan prestasi akademik. Di tengah sistem yang begitu teratur, hadir John Keating, guru Bahasa Inggris yang diperankan Robin Williams. Cara mengajarnya berbeda, ia mengajak murid-muridnya melihat puisi, kehidupan, bahkan diri mereka sendiri dari sudut pandang yang tidak biasa.
Film ini dikenal lewat satu ungkapan yang terus diingat hingga sekarang, carpe diem, seize the day. Namun setelah menontonnya kembali, rasanya film ini menyimpan pertanyaan yang lebih sulit daripada sekadar bagaimana kita memanfaatkan hari.
Kalau kita diminta untuk mengejar mimpi, mimpi siapa yang sebenarnya sedang kita kejar?
Ketika Masa Depan Sudah Terlihat Seperti Jalan yang Harus Dilewati
Salah satu gambaran paling jelas terlihat melalui Neil Perry
Neil adalah siswa yang cerdas dan aktif. Ia juga memiliki ketertarikan besar pada dunia teater. Ketika mendapatkan kesempatan untuk bermain dalam sebuah pertunjukan, ia menemukan sesuatu yang membuatnya benar-benar bersemangat.
Masalahnya, keinginan itu tidak sejalan dengan apa yang sudah ditentukan ayahnya.
Neil diharapkan menjadi dokter. Masa depannya sudah seperti sebuah jalan yang selesai digambar, sekolah, kuliah, profesi, lalu kehidupan yang dianggap berhasil. Teater tidak termasuk di dalamnya.
Yang membuat konflik ini terasa dekat bukan hanya karena Neil memiliki ayah yang keras. Konfliknya terasa dekat karena bentuk tekanan seperti itu tidak selalu hadir sebagai larangan.
Kadang ia datang melalui kalimat, “Ini demi masa depan kamu.”
Kadang melalui, “Orang tua cuma ingin kamu sukses.”
Kadang bahkan muncul dari diri sendiri ketika kita mulai berpikir, “Kalau aku memilih yang berbeda, nanti orang-orang kecewa nggak, ya?”
Di titik tertentu, kita mungkin tidak lagi bertanya apa yang kita inginkan. Kita justru lebih sibuk mencari pilihan yang paling sedikit mengecewakan orang lain.
Dan di situlah Dead Poets Society mulai terasa lebih personal.
John Keating dan Kelas yang Tidak Lagi Terasa Seperti Kelas
Kehadiran John Keating menjadi semacam gangguan kecil di tengah keteraturan Welton.
Ia meminta murid-muridnya berdiri di atas meja. Ia mengajak mereka melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Ia memperkenalkan puisi bukan sekadar sebagai teks yang harus dianalisis, tetapi sebagai sesuatu yang memiliki hubungan dengan kehidupan.
Dari sanalah carpe diem menjadi salah satu gagasan paling melekat dari film ini.
“Seize the day” sering dipahami sebagai ajakan untuk berani mengejar apa yang kita inginkan sebelum kesempatan berlalu. Namun bagi saya, ada bagian lain yang tidak kalah penting, kita perlu tahu terlebih dahulu apa yang sebenarnya kita inginkan.
Sebab mengetahui bahwa waktu terbatas tidak otomatis membuat kita tahu harus berjalan ke mana.
Kita bisa saja berani mengambil keputusan, tetapi tetap salah arah.
Kita bisa mengejar sesuatu dengan sangat keras, lalu suatu hari menyadari bahwa selama ini kita hanya sedang mengejar standar keberhasilan yang dibuat orang lain.
Keating mungkin tidak memberikan jawaban tentang kehidupan yang harus dipilih murid-muridnya. Ia justru memberikan ruang agar mereka mulai bertanya sendiri.
Dan mungkin, di situlah fungsi seorang guru yang sebenarnya, bukan memberikan seluruh jawaban, tetapi membuat seseorang berani mencari jawabannya sendiri.
Mimpi Tidak Selalu Berbentuk Keberanian Besar
Hal menarik dari Dead Poets Society adalah setiap karakter memiliki cara berbeda dalam berhadapan dengan keinginannya.
Neil ingin menjadi aktor.
Todd Anderson, yang diperankan Ethan Hawke, justru lebih banyak bergulat dengan rasa tidak percaya diri dan ketakutan untuk menyuarakan dirinya.
Knox mengejar perasaannya sendiri dengan cara yang berbeda lagi, sementara Charlie menunjukkan bentuk keberanian yang lebih impulsif dan penuh risiko.
Mereka tidak memiliki mimpi yang sama. Bahkan, tidak semuanya tahu dengan jelas apa yang mereka inginkan.
Dan menurut saya, bagian ini penting.
Kita sering membayangkan menemukan mimpi sebagai sebuah momen besar. Seolah-olah suatu hari kita akan bangun dan tiba-tiba tahu: “Ini dia. Ini tujuan hidupku.”
Padahal, tidak selalu begitu.
Kadang mimpi berubah seiring kita bertumbuh.
Dulu kita ingin menjadi sesuatu karena terlihat keren. Kemudian kita mencoba, ternyata tidak cocok. Kita menemukan hal lain. Kita meninggalkannya lagi. Kita mencoba sesuatu yang berbeda.
Itu bukan berarti kita gagal menemukan jalan.
Mungkin memang begitulah cara kita mengenal diri sendiri.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah keputusan itu benar-benar datang dari diri kita, atau hanya karena kita melihat orang lain berhasil melakukannya.
Robin Williams dan Para Siswa yang Membuat Ceritanya Terasa Hidup
Robin Williams membawa John Keating sebagai sosok guru yang hangat, spontan, sekaligus berbeda dari lingkungan Welton yang kaku. Di sisi lain, Robert Sean Leonard sebagai Neil Perry memberikan wajah paling kuat dari konflik antara keinginan pribadi dan tuntutan keluarga.
Ethan Hawke sebagai Todd juga memberikan kontras yang menarik. Jika Neil terlihat begitu tahu apa yang ia inginkan tetapi terhalang keadaan, Todd justru masih berusaha menemukan keberanian untuk mengeluarkan apa yang ada di dalam dirinya.
Perbedaan karakter ini membuat film tidak hanya berbicara tentang satu jenis keberanian.
Ada keberanian untuk mengejar.
Ada keberanian untuk berbicara.
Ada keberanian untuk berbeda.
Dan mungkin, ada juga keberanian yang jauh lebih sederhana: mengakui bahwa kita belum tahu.
Secara visual, Welton juga terasa mendukung cerita. Ruang kelas, lorong sekolah, seragam, dan suasana akademi membangun kesan dunia yang penuh aturan. Kontrasnya semakin terasa ketika para siswa keluar dari lingkungan sekolah dan menemukan ruang yang terasa lebih bebas.
Perubahan ruang tersebut membuat kebebasan yang ditawarkan Keating tidak hanya terasa lewat dialog, tetapi juga melalui atmosfer film.
Film Ini Tidak Sempurna, dan Justru Itu Menarik
Dead Poets Society bukan film yang harus diterima tanpa kritik.
Dalam ulasannya pada 1989, kritikus film Roger Ebert menilai film ini terlalu banyak mengandalkan kalimat-kalimat inspiratif dan menjadikan Keating lebih sebagai penggerak cerita daripada karakter yang sepenuhnya berkembang. Ia juga menganggap beberapa bagian film terlalu dibuat untuk menggiring emosi penonton.
Kritik tersebut terasa masuk akal.
Beberapa adegan memang terasa sangat sadar bahwa dirinya sedang berusaha mengharukan. Pesan tentang kebebasan dan keberanian juga terkadang disampaikan begitu terang sehingga penonton hampir tidak diberi ruang untuk menemukan maknanya sendiri.
Namun, justru di situlah film ini menarik untuk dibaca ulang.
Sebuah karya tidak harus sempurna untuk tetap meninggalkan pertanyaan.
Lebih dari tiga dekade setelah perilisannya, persoalan yang dibawa Dead Poets Society masih terasa dekat, tentang anak yang ingin memilih jalannya sendiri, tentang keluarga yang merasa tahu apa yang terbaik, tentang pendidikan yang kadang terlalu sibuk membentuk prestasi, dan tentang seseorang yang sedang berusaha memahami dirinya sendiri.
Jadi, Mimpi Itu Milik Siapa?
Mungkin bagian paling sulit dari memiliki mimpi bukanlah mengejarnya.
Melainkan memastikan bahwa mimpi tersebut benar-benar milik kita.
Kita hidup di masa ketika kehidupan orang lain begitu mudah terlihat. Media sosial membuat pencapaian seseorang bisa muncul di layar hanya dalam beberapa detik. Ada teman yang sudah punya organisasi, lomba, pekerjaan, bisnis, pasangan, atau rencana masa depan yang terlihat begitu jelas.
Tanpa sadar, keberhasilan orang lain bisa berubah menjadi standar untuk mengukur kehidupan sendiri.
Lalu kita mulai berpikir bahwa kita juga harus seperti mereka.
Padahal, hidup bukan daftar pencapaian yang harus selesai pada usia tertentu.
Ada orang yang menemukan passion sejak kecil. Ada yang baru menemukannya setelah kuliah. Ada yang sudah merasa yakin, kemudian berubah pikiran. Ada juga yang sampai sekarang masih mencoba memahami apa yang sebenarnya mereka sukai.
Semuanya manusiawi.
Maka pertanyaan yang mungkin perlu kita ajukan sesekali bukan hanya, “Aku mau jadi apa?”
Tetapi:
“Kalau tidak ada seorang pun yang menyuruhku menjadi apa-apa, aku sebenarnya ingin menjadi siapa?”
Sebelum Mengejar Mimpi, Kenali Dulu Mimpi Itu
Dead Poets Society sering dikenang sebagai film tentang keberanian untuk menjalani hidup sepenuhnya. Namun bagi saya, film ini juga berbicara tentang sesuatu yang lebih sunyi: proses mengenali keinginan diri sendiri di tengah begitu banyak suara dari luar.
Carpe diem bukan berarti setiap hari harus diisi dengan keputusan besar.
Kadang, mengambil kesempatan berarti mencoba sesuatu yang selama ini membuat penasaran.
Kadang berarti mengatakan tidak pada jalan yang ternyata tidak cocok.
Kadang berarti berhenti membandingkan diri dengan orang lain.
Dan kadang, keberanian terbesar justru sesederhana mengatakan, “Aku belum tahu.”
Sebab tidak semua orang sedang mencari keberanian untuk mengejar mimpi.
Sebagian dari kita mungkin sedang mencari keberanian untuk mengakui bahwa mimpi yang selama ini dikejar ternyata bukan milik kita.
Mungkin sebelum benar-benar seize the day, kita perlu belajar satu hal terlebih dahulu:
Seize the choice.
Memilih dengan sadar.
Karena ketika akhirnya sampai di suatu tempat yang kita tuju, mungkin kalimat yang paling ingin kita dengar dari diri sendiri bukanlah,
“Akhirnya aku berhasil.”
Melainkan:
“Ini memang yang aku inginkan.”
