Memaknai "Tarot" .Feast: Hal-Hal Yang Tidak Bisa Kita Ramalkan

Mahasiswi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Dhaveella Anggrainy Heilga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada hal-hal tentang seseorang yang mungkin tidak akan pernah kita ketahui.
Bukan karena ia sengaja menyembunyikannya. Barangkali memang begitulah manusia: selalu menyisakan sedikit ruang yang hanya bisa dimasuki oleh dirinya sendiri.
Kita bisa mengingat cara seseorang tertawa, hafal kebiasaannya, tahu apa yang membuatnya kesal dan apa yang membuatnya pulang dengan senang. Kita bisa mendengarkan ceritanya berulang kali sampai merasa telah mengenalnya begitu jauh.
Namun tetap ada pikiran yang tidak sempat ia ceritakan, perasaan yang belum menemukan bentuk kata, juga perubahan-perubahan kecil yang mungkin baru kita sadari setelah semuanya berlalu.
Mengenal seseorang, pada akhirnya, adalah pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Barangkali karena itu pula kita membutuhkan komunikasi. Kita mendengar, memperhatikan, menafsirkan, lalu mencoba memahami. Dalam psikologi komunikasi, proses memahami orang lain berkaitan dengan persepsi interpersonal: cara seseorang memberi makna terhadap orang lain berdasarkan informasi yang diterimanya, sekaligus dipengaruhi oleh faktor personal dan situasional. Apa yang kita lihat belum tentu seluruh cerita. Apa yang kita pahami pun belum tentu seluruh kebenaran.
Saya menemukan kegelisahan yang serupa dalam “Tarot” milik .Feast.
Ketika Kita Tidak Bisa Membaca Hari Esok
“Tarot” merupakan salah satu lagu dalam album Membangun & Menghancurkan yang dirilis pada 30 Agustus 2024. Lagu ini ditulis oleh Baskara Putra dan dikomposisikan bersama Rastafarian.
Judulnya seperti menawarkan sesuatu yang sederhana: sebuah cara untuk mengetahui apa yang belum terjadi.
Namun semakin didengarkan, lagu ini justru terasa seperti kebalikannya.
Tidak ada ramalan yang benar-benar bisa memberi tahu bagaimana sebuah hubungan akan berakhir. Tidak ada kartu yang dapat menjelaskan apakah dua orang akan tetap tinggal ketika keadaan berubah. Tidak ada jawaban yang cukup pasti untuk memastikan bahwa seseorang tidak akan terluka.
Yang ada justru keraguan.
Ada hubungan yang telah berjalan lama, kemudian menemukan dirinya berada di sebuah ruang yang tidak lagi sama. Ada sesuatu yang berubah, sementara dua orang di dalamnya masih mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa pembacaan terhadap “Tarot” melihatnya sebagai kisah tentang hubungan yang diuji oleh waktu, rasa sakit, dan ketidakpastian.
Lalu muncul pertanyaan yang sederhana, tetapi terasa berat: mengapa masih bertahan?
Mungkin karena ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika.
Sebab Kita Sering Salah Membaca Seseorang
Ada masa ketika seseorang membalas pesan lebih singkat dan kita langsung mengira ia sedang berubah.
Ada diam yang kita baca sebagai marah. Ada jarak yang kita kira sebagai kehilangan rasa. Ada kalimat sederhana yang kita bawa terlalu jauh karena kita membacanya dengan perasaan kita sendiri.
Padahal, kita tidak pernah benar-benar berada di dalam kepala orang lain.
Dalam komunikasi interpersonal, persepsi terhadap seseorang dapat memengaruhi bagaimana kita berkomunikasi dengannya.
Kita membentuk kesan dari apa yang kita lihat, dengar, dan alami, kemudian membawa kesan itu ke dalam hubungan.
Mungkin di situlah hubungan menjadi rumit.
Bukan karena dua orang selalu berhenti saling menyayangi, tetapi karena masing-masing membawa dunia kecilnya sendiri ketika berhadapan satu sama lain.
Kita datang dengan pengalaman masa lalu, dengan ketakutan yang pernah tumbuh, dengan cara masing-masing dalam memahami perhatian. Satu tindakan yang sama dapat berarti berbeda bagi dua orang.
Karena itu, mencintai seseorang tidak otomatis membuat kita mampu memahaminya.
Kita tetap perlu bertanya.
Tetap perlu mendengar.
Tetap perlu memberi kesempatan kepada seseorang untuk menjelaskan dirinya sendiri.
Kepercayaan yang Tidak Punya Bukti Lengkap
Di bagian akhir “Tarot”, kepercayaan justru menjadi sesuatu yang terasa paling kuat.
Setelah keraguan, luka, dan kemungkinan bahwa semuanya bisa menjadi lebih buruk, lagu berakhir pada kepercayaan yang bahkan diakui tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh logika.
Saya menyukai bagian itu karena ia tidak menjadikan kepercayaan sebagai sesuatu yang sempurna.
Percaya bukan berarti tidak takut.
Percaya juga bukan berarti yakin bahwa seseorang tidak akan pernah berubah atau bahwa hubungan akan selalu baik-baik saja.
Mungkin percaya hanya berarti kita memilih untuk tidak mengisi semua ruang kosong dengan prasangka.
Ada seseorang yang membuat saya memahami hal itu dengan cara yang sederhana.
Bahwa menyayangi seseorang tidak selalu berarti mengetahui seluruh isi kepalanya. Tidak harus tahu ke mana hubungan akan berjalan. Tidak perlu memiliki jawaban untuk setiap kemungkinan yang mungkin datang.
Kadang, mencintai seseorang hanya berarti bersedia mengenalnya lagi ketika ia berubah.
Mendengarkannya ketika ia sedang tidak pandai menjelaskan.
Dan tetap membuka percakapan ketika ada sesuatu yang terasa berbeda.
Barangkali Cinta Memang Tidak Pernah Selesai Dipahami
Saya kira, salah satu hal paling manusiawi dari “Tarot” adalah kenyataan bahwa ia tidak menjanjikan akhir yang indah.
Ia hanya menunjukkan dua orang yang menghadapi sesuatu yang tidak mudah.
Itulah yang membuat lagu ini terasa lebih luas daripada kisah cinta. Kita bisa menemukannya dalam persahabatan yang sedang diuji, keluarga yang perlahan berubah, pekerjaan yang tidak lagi terasa sama, atau keputusan hidup yang kita ambil tanpa tahu ke mana arahnya.
Sebab ketidakpastian tidak hanya tinggal di dalam hubungan.
Ia ada di hampir semua hal yang kita jalani.
Kita memilih jurusan tanpa tahu akan menjadi siapa beberapa tahun setelah lulus. Kita menerima pekerjaan tanpa mengetahui apakah tempat itu akan menjadi bagian panjang dari hidup kita. Kita memulai sesuatu tanpa pernah diberi kesempatan melihat halaman terakhirnya lebih dulu.
Kita berjalan sambil membawa kemungkinan.
Dan mungkin itu yang ingin diingatkan “Tarot”: hidup tidak selalu meminta kita untuk tahu. Kadang ia hanya meminta kita untuk menjalani.
Tidak Ada Kartu untuk Hari Esok
“Tarot” mengajarkan kita untuk berdamai dengan hal-hal yang belum memiliki jawaban.
Sebab ada hal-hal yang hanya bisa diketahui oleh waktu.
Tentang ke mana sebuah perasaan akan tumbuh. Tentang jalan yang suatu hari mungkin mempertemukan kita dengan banyak hal yang belum pernah kita bayangkan. Tentang seseorang yang hari ini terasa begitu dekat, sementara hari esok selalu memiliki kemungkinan untuk menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.
Kita bisa saja ingin membuka kartunya lebih dulu.
Ingin melihat apakah nama yang sama masih akan tinggal di halaman-halaman berikutnya. Ingin memastikan bahwa segala yang terasa indah hari ini tidak hanya kebetulan yang sebentar.
Ingin tahu apakah langkah yang kita pilih akan membawa kita sampai pada tempat yang selama ini kita sebut tujuan.
Tetapi mungkin hidup memang tidak ditulis untuk dibaca dari halaman terakhir.
Dan kepada seseorang yang saya sayangi, barangkali saya tidak ingin mengetahui seluruh ceritanya sejak awal.
Saya ingin mengenalmu dalam perjalanan.
Pada percakapan-percakapan yang belum pernah kita punya.
Pada cerita yang suatu hari akan kamu bawa pulang. Pada cara pandang yang mungkin berubah. Pada mimpi-mimpi yang belum kamu ceritakan. Pada bagian-bagian kecil dari dirimu yang belum saya temui hari ini.
Sebab mungkin, mencintai seseorang adalah menyadari bahwa akan selalu ada sesuatu yang belum kita ketahui tentangnya, dan tetap merasa ingin tinggal cukup lama untuk menemukannya.
Bukan untuk memiliki seluruh jawabannya.
Hanya untuk terus mengenalnya.
Hari ini, mungkin saya mengenalmu sebagai seseorang yang saya sayangi. Besok, mungkin ada sisi lain dari dirimu yang belum pernah saya lihat. Dan lusa, mungkin kita sama-sama menjadi sedikit berbeda dari hari ini.
Tidak apa-apa.
Barangkali justru itu yang membuat sebuah pertemuan menjadi berarti: kita tidak pernah benar-benar tahu berapa banyak halaman yang masih tersisa, tetapi kita tetap memilih untuk membacanya.
Tidak ada tarot yang bisa memberitahu bagaimana akhirnya.
Dan mungkin saya tidak membutuhkannya.
Selama hari esok belum datang, biarlah ia menjadi sesuatu yang belum kita ketahui.
Untuk sekarang, saya hanya ingin berjalan bersamamu di hari ini, dan setiap kali hari berikutnya datang, memilih untuk mengenalmu lagi.
