Menelusuri Lorong Waktu Emosional dan Bisikan Ruang di INFEX FSRD UNS 2026

Mahasiswi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dhaveella Anggrainy Heilga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bagi mahasiswa Desain Interior Universitas Sebelas Maret (UNS), tugas kuliah kerap kali berakhir hanya dinilai dan diberi angka. Rasa lelah berbulan-bulan menahan kantuk dan memotong lembaran karton maket seolah ikut berlalu begitu tugas dikumpulkan. Namun, ada satu momentum ketika tumpukan maket dan guratan nirmana itu kembali mendapat ruang untuk hadir. Lewat pameran bertajuk “INFEX (Interior First Exhibition) 2026”, mahasiswa angkatan 2025 Desain Interior UNS memilih untuk menolak lupa atas karya-karya yang menjadi bagian dari perjalanan mereka selama setahun belakangan.

Mengusung tema utama "Where Room Can Speak", INFEX yang digelar di Gedung 2 FSRD UNS pada 26–27 September lalu tidak hanya ajang unjuk gigi pameran seni kampus biasa. Lebih dari itu, ajang ini menjelma menjadi ruang katarsis dan narasi visual yang jujur.
INFEX 2026 dikonsepkan menyerupai lorong waktu emosional sebuah rumah. Pameran ini membagi alur pengunjung ke dalam tiga fase perjalanan: fase gelap, fase peralihan, dan fase warna (colorful).
"Aku melihat sebuah bangunan rumah itu adalah saksi bisu dari setiap kejadian yang terjadi dalam keluarga. Ada suka, duka, hal yang nggak menyenangkan, sampai yang membahagiakan," tutur Benedikta, Wakil Ketua INFEX 2026, saat menjelaskan alasan di balik pemilihan konsep visual pameran tersebut.
Di fase pertama yang remang dan gelap, pengunjung disambut oleh karya-karya yang merepresentasikan luka, konflik domestik, KDRT, hingga suasana rumah yang jauh dari kata harmonis. Berjalan sedikit lebih jauh, atmosfer berganti ke fase peralihan, momen ketika luka perlahan disembuhkan (healing). Perjalanan itu lalu bermuara pada fase colorful, sebuah garis akhir yang merayakan kehangatan, harapan, dan memori manis sebuah hunian.
Menariknya, kepribadian sang kreator terpancar di atas karya-karya 3D (Nirmana Trimatra) maupun maket yang dipamerkan. Ada karya yang didominasi lekukan-lekukan oval nan lembut pada kabinet dapur, ada pula maket yang dipenuhi pola polkadot menonjol. Bahkan pada Nirmana Trimatra yang terkesan abstrak, kerapian dan ketelitian detail menyusun struktur terkecil menjadi cermin seberapa teliti dan "cinta kebersihan" si pembuatnya. Karya pameran tidak hanya susunan bahan maket, melainkan ekstensi dari kepribadian mahasiswa itu sendiri.
Dari puluhan karya angkatan yang masuk, proses kurasi yang dilakukan langsung oleh para dosen pengampu mata kuliah berhasil meloloskan karya-karya terbaik untuk mejeng secara eksklusif. Meski begitu, INFEX tetap memegang nilai inklusivitas: karya seluruh mahasiswa yang tidak lolos pameran utama tetap dibundel rapi dalam buku portofolio interaktif agar tetap bisa diakses dan diapresiasi oleh pengunjung.
Selama dua hari penyelenggaraan, dinamika acara terus diisi dengan helatan workshop kreatif, mulai dari pembuatan kursi, seni simpul macrame, hingga eksperimen nirmana.
Di hari kedua, suasana pameran berubah drastis saat malam mulai merayap. INFEX yang biasanya identik dengan ketenangan pameran arsitektur/interior melompat keluar batas dengan menghadirkan live painting mural serta panggung musik eksperimental. Penampilan musik dari genre alternative pop hingga underground justru berhasil menarik simpati komunitas punk dan pegiat street art Solo untuk memadati FSRD UNS.
Peleburan sekat antara akademisi desain dan komunitas subkultur ini memberi warna baru yang jarang ditemui pada pameran interior konvensional.
Di balik megahnya penataan tata cahaya dan riuh rendah pengunjung, ada perjuangan berdarah-darah dari seluruh panitia angkatan yang bertindak sebagai penggerak acara. Berbeda dengan kepanitiaan pameran umum yang melalui tahap seleksi terbuka, INFEX adalah program kerja wajib angkatan.
Kondisi "harus mau tak mau ikut" ini menjadi ujian besar bagi dinamika internal. Tidak semua orang memiliki porsi antusiasme yang sama. Tantangan kian berat saat masalah finansial menghadang: anggaran awal panitia berada di titik nyaris nol, membuat tim dana usaha harus pontang-panting mencari sponsor.
Tak berhenti di situ, bayangan ideal pameran sempat luluh lantak dua bulan menjelang hari-H. Rencana awal untuk menggelar pameran megah selama tiga hari di Javanologi dengan dekorasi all-out harus dibatalkan. Panitia harus mengalah dan menunda ritme kerja (slow down) demi memberi jalan pada agenda kampus lain, yang berujung pada pemindahan venue ke Gedung 2 FSRD UNS dan pemangkasan durasi acara menjadi dua hari.
Namun, di situlah letak keajaiban karya kolektif. Keterbatasan ruang dan anggaran justru memaksa panitia berpikir lebih kreatif, membuktikan bahwa keterbatasan visual bukan penghalang untuk menyampaikan pesan emosional yang kuat.
Pameran INFEX 2026 juga tak hanya menjadi ajang penugasan orientasi jurusan bagi mahasiswa baru yang diwajibkan hadir, tetapi juga menjadi media rekat antarangkatan dan masyarakat umum.
Saat gerbang pameran ditutup pada malam 27 September 2026, INFEX telah menunaikan tugasnya: memberi panggung bagi karya-karya yang dulunya tersisih di sudut studio, serta membuktikan bahwa ruang, seperti halnya manusia, selalu punya cerita untuk disampaikan, asalkan kita mau berhenti sejenak dan mendengarkannya. Bagi saya, di situlah INFEX menjadi cara untuk melihat kembali proses yang mungkin selama ini hanya dianggap sebagai bagian dari tugas kuliah, lalu menyadari bahwa setiap karya punya waktunya sendiri untuk ditemukan, dilihat, dan dimaknai.
