Cerpen: Gadis Bisu

Mahasiswa Politeknik Ketenagakerjaan program studi Relasi Industri tahun 2020.
Tulisan dari Dhea Agustiani Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Angan hanyalah sebuah angan. Secercah harapan yang tak kunjung terkabulkan. Namun, selalu ku lantunkan doa agar angan itu berubah menjadi kenyataan. Ku titipkan pesan pada sang pencipta agar bisu ini berubah menjadi kalbu. Meski pada kenyataannya amat sulit berkawan pada takdir Tuhan, akibat pahit yang harus aku rasakan. Jatuh memang sakit, namun lebih baik jatuh ketimbang jadi pembunuh. Lebih baik menjatuhkan hati ketimbang membunuh perasaan sendiri. Walau tak ada asa untuk rasa yang aku sembunyikan. Namun, semuanya harus tetap aku lakukan dan aku jalankan, karena pada kenyataannya memang semua adalah takdir Tuhan yang diberikan padaku yang suka berangan.
Aku adalah gadis bisu yang candu menikmati senyuman pria itu. Gadis yang rela jatuh walau tak tahu seberapa rapuh. Namaku Dhia, seorang gadis dengan sejuta cerita, entahlah, ceritaku kali ini mungkin memang sedikit aneh, tapi memang ini lah yang aku alami selama hidupku. Aku yang rela membuang waktuku hanya untuk mencari tahu segala hal tentang pria itu. Pria yang cukup membuatku heran, mengapa aku bisa jatuh hati padanya dan mengapa aku baru jatuh hati padanya. Pria itu bernama Adnan, pria yang baru aku sadari betapa tampan dirinya. Sejujurnya aku menyesal pernah mengatakan satu hal saat aku melihatnya memperkenalkan diri di depan kelasku pada saat itu. Dia adalah salah satu pengurus OSIS di sekolahku pada saat itu, dia yang mengenalkanku tentang sekolah itu, memberitahuku setiap sudut yang ada di sekolah itu. Dia adalah pria yang mengajarkanku tentang mencintai dalam sunyi, dan memberiku kalbu dalam sebuah bisu. Cinta dalam kebisuan memang tidak seindah dan semudah yang sudah ada dalam angan. Aku juga membutuhkan dukungan dan informan tentang tuan cintaku. Dan dia adalah sahabatku sendiri, informan terbaik yang memberikanku seribu informasi yang menjawab rasa penasaranku tentang pria itu. Dia adalah Camilla, sahabat sekaligus informan terbaik bagiku. Dia juga yang menyemangatiku ketika aku rapuh dalam jatuhnya diriku pada pria itu.
***
Seperti hari-hari sebelumnya, setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung keluar sekolah. Sebelum menuju rumah, aku melipir sejenak ke pedagang kaki lima. Aku memesan satu buah martabak di pedagang yang letaknya persis di depan gerbang sekolah. Sembari menunggu pesananku siap, aku melihat siapa saja yang berlalu lalang memasuki atau mengeluari gerbang sekolah, ada yang aku kenal, tapi lebih banyak yang tidak aku kenal. Namun, ada seseorang yang membuatku heran, di depan gerbang aku melihat pria itu, pria yang dulu sangat aku segani untuk aku jumpai, tapi mengapa rupanya saat itu berbeda, tidak seperti biasanya, ia seperti memiliki kharismanya sendiri. Dengan baju cokelat yang penuh dengan lencana di atasnya, ditambah celana cokelat tua dengan panjang selutut yang penuh dengan kantong di samping kiri dan kanannya, menambah ketampanan yang dimiliki oleh pria itu. Tapi, mengapa dulu aku menilainya seburuk itu, padahal dia sangat jauh dari kata buruk rupa dan hampir mendekati kata sempurna. Namun, aku tidak berbohong pada siapapun itu, dia tampan dan aku mulai memiliki rasa yang lebih untuknya. Sepertinya aku telah jatuh padanya, bukan pada saat pertama kali jumpa, tapi saat mataku telah terbuka sepenuhnya, dan aku mencintainya walaupun aku pernah mencacinya.
Sesampainya di rumah, aku jadi memikirkan pria itu, sepanjang jalan menuju rumahpun begitu. Aku penasaran dengan pria itu, mengapa aku bisa dengan semudah itu menilainya memiliki kharisma, padahal sebelumnya aku menilainya sebagai seorang yang buruk rupa. Rasa penasaranku semakin memuncak, membuatku semakin memikirkan siapa pria itu sebenarnya, hingga aku bisa jatuh padanya. Mengobati rasa penasaran yang ada dalam diriku itu, aku langsung menelusuri segala macam informasi yang bisa aku dapatkan tentang pria itu. Berbeda dengan saat pertama kali aku mengenal dirinya, saat aku enggan untuk mengetahui siapa pria itu sebenarnya. Aku menyerbunya dengan seribu pertanyaan dan memburu semua jawaban untuk menjawab pertanyaan. Kau telah membuat duniaku berubah, tidak seperti biasanya dan mengubah setitik warna dalam hidupku.
***
Bel istirahat sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Aku dan Camilla sudah berada di kantin dan duduk di satu meja bersama. Aku harus bertanya pada Camilla, seperti apa sifat kak Adnan aslinya dan bagaimana hubungannya dengan teman-teman disekitarnya. Camilla pasti punya informasi lain tentang dirinya, karena dia cukup dekat dengan kakak kelas, terutama yang seangkatan dengan Kak Adnan.
“Cam, kamu tahu kak Adnan, kan?”
“Tentu, memang siapa yang tak tau dia di angkatan kita? Dia kan OSIS.”
“Iya sih, tapi aku coba cari informasi lain tentang dia gitukan...” Belum juga selesai pembicaraanku, Camilla sudah menyerbuku dengan pertanyaannya.
“KAMU SUKA KAK ADNAN YA?!”
Bagaimana Camilla bisa tahu jika aku mulai mengagumi kak Adnan, padahal aku saja belum cerita ke siapapun. Aku lebih memilih bungkam dan tidak menganggapi ucapan Camilla. Sejujurnya aku belum tahu seperti apa rasa yang aku alami saat ini. Entah hanya sekedar suka atau malah rasa cinta.
“ Kamu serius suka sama kak Adnan, Dhi?”
“Mungkin, aku juga masih bingung, kenapa aku bisa penasaran sama dia.”
“Berarti kamu harus siap sakit hati, Dhi. Soalnya banyak banget yang suka sama kak Adnan.”
Ucapan Camilla tersebut membuatku mendapatkan sebuah rambu jika aku mencintai pria itu. Aneh, banyak gadis yang tergila-gila dengan dirinya sementara aku baru mencintainya. Mungkin itu adalah pilihan untuku, haruskah aku lanjut berjuang atau berhenti di tengah jalan. Tapi aku sudah jatuh pada hatinya, dan aku tidak mungkin membunuh rasa yang tumbuh dalam diriku. Sehingga, apapun tantangannya harus aku lalui, karena memang itulah rumus jatuh hati, harus siap untuk sakit hati.
***
Hari itu aku latihan Taekwondo di sekolah, sembari menunggu latihan di mulai, aku bersama dengan Camilla, Fida, Sandra dan temanku yang lain, menyelesaikan tugas Tata Busana yang diberikan oleh guruku. Kami menyelesaikannya di salah satu ruang kelas yang letaknya tidak jauh dari tempat kami latihan Taekwondo.
Saat itu aku sedang mengenakan jam berwarna biru dengan motif garis di sekelilingnya. Melihat aku mengenekan jam tersebut, Camilla dengan segala macam keusilannya mengatakan satu hal yang membuat suasana yang sebelumnya cair dan menyenangkan seketika berubah menjadi menegangkan.
“Jam yang dipake Dhia itukan jam dari kak Adnan.”
Suasana berubah menjadi menegang karena di dalam ruangan tersebut ada Fida, aku mengetahui betul bahwa Fida adalah salah satu dari sekian banyak gadis yang juga mengagumi kak Adnan. Fida yang sebelumnya menjahit dengan serius, menjadi diam dan menghentikan aktivitasnya. Aku jadi tidak enak dengan dirinya, karena apa yang di sampaikan oleh Camilla itu tidak benar adanya.
Malam hari setelah kejadian itu, aku membuka salah satu sosial media yang biasa digunakan seseorang untuk menanyakan satu hal tentang orang lain didalamnya. Karena saat itu ada satu notifikasi dari sosial media itu, aku membuka sosial media tersebut, dan benar saja ada yang menulis pertanyaan untukku. Pertanyaan yang membuatku tertawa, tapi juga menjadi sebal karena pertanyaan itu mengenai kejadian yang baru saja aku alami sebelum latihan Taekwondo.
‘Cantik banget sih, pantes aja Adnan kepincut!’
‘Pake pelet apa sih, kok Adnan bisa kepincut?’
Dan banyak pertanyaan lainnya, yang berhubungan dengan kak Adnan seperti menerorku, tanpa diketahui siapa pengirimnya. Pertanyaannya itu lucu, bahkan kak Adnan saja tidak mengenal betul siapa diriku, bagaimana bisa dia mau denganku? Dia juga terlalu tampan untuk aku yang tidak menawan.
***
Setelah malam yang menyebalkan itu, paginya aku sudah berada di tempat renang sekitar rumah Camilla. Camilla mengajakku untuk berenang, setelah mendengarkan ceritaku tentang orang yang menerorku di malam setelah kami latihan Taekwondo. Tujuannya adalah untuk menghiburku, ingin aku melepas semua masalah itu, dan tidak lagi memikirkan hal itu. Katanya, jika kita berenang bisa melepas semua kepenatan yang kita alami.
Setelah puas melepas penat dengan berenang, aku memilih untuk naik dan membersihkan diri lebih dulu dari Camilla. Setelah selesai membersihkan diri, Camilla sudah naik dan bergantian membersihkan diri. Aku menunggu Camilla di tempat istirahat yang sebelumnya kami gunakan untuk menyimpan tas, aku memandangi sekitar kolam, memang sangat tenang rasanya menikmati warna biru dari kolam itu.
Di sebrang kolam aku melihat seorang pria yang hendak berenang, sepertinya aku tahu siapa pria itu, postur tubuhnya tidak asing dalam penglihatanku. Pria itu membalikkan badannya untuk melaksanakan niatnya untuk berenang. Ia melihat ke sekelilingnya dan melihat ke arahku, mata kami saling bertemu. Kami saling menatap dari kejauhan, beruntung aku tidak membutuhkan bantuan kacamata untuk melihatnya, dan aku rasa pria itu juga sama sepertiku, memiliki mata yang masih sehat. Setelah bertatapan dengan waktu yang cukup lama, aku melihat kedua sudut bibirnya terangkat yang menimbulkan sebuah senyuman di wajahnya, senyuman itu amat sangat menyejukkan bagiku, dan senyuman itu mengobati segala macam masalah yang membebani hidupku. Pria itu adalah kak Adnan, anggota OSIS di sekolahku yang sangat aku kagumi.
Ternyata benar yang dikatakan Camilla, berenang dapat mengobati segala macam masalah yang ada dalam hidupku, aku harus berterima kasih padanya. Senyuman itu mampu mengubah hidupku, mampu membuang segala macam beban dalam hidupku dan senyuman itu yang mengobati rinduku.
***
Senyuman yang diberikan kak Adnan padaku hari itu kurasa adalah senyuman yang menandakan akhir dari pertemuan kami, karena sejak saat itu, antara aku dan dirinya tidak lagi bertemu. Aku tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, karena aku juga tidak tahu lebih banyak tentang dirinya dan aku tidak memiliki media yang bisa aku gunakan untuk mencari informasi lebih tentang dirinya.
Hingga hari kelulusannya tiba, aku kembali melihatnya, memegang sebuah kertas yang aku tahu betul itu adalah hasil capaiannya selama tiga tahun menuntut ilmu di sekolah. Wajahnya terlihat sangat bahagia, lebih bahagia dari diriku yang mendapat senyumannya saat itu. Aku tahu pasti apa yang dia capai pasti sudah sesuai dengan apa yang dirinya harapkan. Akupun berharap, dia dapat menggapai semua impian yang sejak lama ia dambakan. Semoga dirinya berhasil mendapatkan apa yang sudah menjadi tujuan dalam hidupnya sejak dulu.
Selamat menggapai kelulusan dan kemenangan. Selamat telah melewati satu tahap dalam kehidupan. Aku pasti akan selalu merindukan senyuman yang dimiliki olehnya. Merindukan setiap titik yang menyimpan cerita tentang dirinya, dan merindukan dirinya seutuhnya di sekitarku.
Pada akhirnya, aku hanyalah seorang gadis bisu yang selalu candu dengan senyuman pria itu. Gadis dengan sejuta cerita dalam mencintai satu orang pria. Rasaku tetap ada pada pria itu walau lama tak bertemu. Sampai saat ini aku tetaplah seorang gadis bisu yang menyimpan rasa seutuhnya kepada pria itu.
Terima kasih telah mengajarkanku arti perjuangan dan sebuah penantian. Telah membuat tenang disaat aku bimbang dan membuat aku mengerti apa arti dari mencintai. Aku tetap mencintaimu walau tak saling berjumpa lima tahun lamanya, kak Adnan.
***
