Kenali, Waspadai, dan Cegah Pandemi Tersembunyi Akibat Resistensi Antibiotik

Mahasiswa Sarjana Farmasi UIN Syariif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Dhea Alfianita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tahun 1944, antibiotik merupakan salah satu penemuan obat yang paling di agungkan di dunia. Pada saat itu, antibiotik pertama kali diisolasi dan diproduksi secara massal serta terbukti dapat menyelamatkan puluhan juta jiwa yang terkena infeksi. Pada saat itulah, penggunaan antibiotik menjadi satu satunya solusi yang dapat mengatasi berbagai macam penyebab penyakit, sehingga tanpa disadari resistensi antibiotik telah terjadi sejak jaman tersebut. Bahkan, hingga saat ini pun resistensi antibiotik masih menjadi suatu ancaman dan masalah global di dunia. Saat ini, WHO telah memprediksi bahwa pada tahun 2050 terdapat 10 juta kematian akibat peningkatan resistensi antibiotik. CDC (Centers for Disease Control and Prevention) juga melaporkan pada tahun 2019 di Amerika Serikat terdapat lebih dari 2,8 juta jiwa terkena infeksi bakteri yang resisten terhadap antibiotik dan sekitar 35 ribu jiwa dinyatakan mengalami kematian (Gilmore & Denyer, 2023). Indonesia juga merupakan salah satu kawasan dengan kasus resistensi antibiotik tertinggi yang menempati posisi ke-8 dari 27 negara (Tama & Hilmi, 2022). Menurut Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba dari tahun 2013 sampai tahun 2019 terjadi peningkatan resistensi bakteri. Resistensi bakteri tersebut naik dari 40% sampai 60% pada tahun 2019 (Nurmala & Gunawan, 2020). Masalah global ini akan terus bertambah setiap tahunnya dan akan merenggut banyak nyawa apabila tidak diatasi dan tidak ditindaklanjuti. Dengan demikian, diperlukan adanya suatu upaya pencegahan untuk mengatasi tingginya kasus resistensi antibiotik.
Apa Itu Antibiotik dan Resistensi Antibiotik?
Antibiotik adalah suatu senyawa yang berasal dari bakteri ataupun jamur (Ginanjar et al., 2022). Antibiotik merupakan obat yang berasal dari senyawa yang dihasilkan oleh bakteri atau jamur yang berfungsi untuk mengatasi serta menghambat penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotik ini bersifat bakterisida yang memiliki kemampuan untuk membunuh bakteri secara langsung dan bersifat bakteriostatik yang memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri tanpa membunuhnya secara langsung, sehingga pengunaan antibiotik ini hanya dimanfaatkan untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri saja dan tidak dimanfaatkan untuk penyakit yang disebabkan oleh virus, parasit maupun jamur. Faktanya, penggunaan antibiotik ini memiliki dampak dan efek positif jika dikonsumsi sesuai anjuran dokter. Akan tetapi, kurangnya wawasan dan pengetahuan pasien serta minimnya informasi dari pelayanan kesehatan terhadap pengunaan antibiotik dapat memberikan dampak negatif apabila dikonsumsi secara bebas dan tidak sesuai arahan dokter. Penggunaan antibiotik yang kurang tepat inilah yang merupakan penyebab utama terjadinya resistensi antibiotik.
Resistensi antibiotik atau yang biasa dikenal dengan AMR (Antimicrobial Resistance) merupakan keadaan atau kondisi dimana antiobiotik tidak lagi efektif dalam menghambat dan membunuh pertumbuhan bakteri yang menginfeksi tubuh (Tang et al., 2023). Penyebab utama dari resistensi antibiotik ini adalah penggunaan antibiotik yang kurang tepat dan tidak rasional, seperti penghentian penggunaan antibiotik sebelum dosis yang dianjurkan dokter. Secara umum, bakteri resistensi yang berada di dalam tubuh tidak dapat dideteksi secara pasti dan penyebaranya pun tidak dapat langsung diketahui tanpa pemeriksaan secara medis. Karena penyebarannya minim disadari masyarakat serta dampaknya lebih besar, maka kondisi resistensi antibiotik ini dikenal sebagai “pandemi tersembunyi” (Prestinaci et al., 2015).
Bahaya dan Dampak Pandemi Tersembunyi Akibat Resistensi Antibiotik
Resistensi antibiotik merupakan salah satu masalah global yang paling serius dan mematikan. Di Indonesia, resistensi antibiotik merupakan penyebab utama kematian dari segala penyebab penyakit lainnya. Pada tahun 2050, terjangkau 10 juta penduduk akan mengalami kematian akibat resistensi antibiotik ini (Ginanjar et al., 2022). Selain itu, berdasarkan data yang diperoleh dari Global Research on Antimicrobial Resistance (GRAM), pada tahun 2024 diperkirakan sekitar 36.508 -146.531 jiwa mengalami kematian akibat reistensi antibiotik. Angka tersebut lebih tinggi daripada angka kematian COVID-19, sehingga apabila tidak segera dicegah akan mengakibatkan pandemi tersembunyi (Gach et al., 2024). Tingginya angka kematian ini disebabkan karena resistensi antibiotik akan mengurangi efektivitas obat obatan yang diberikan, sehingga dapat menyebabkan kegagalan terapi. Selain itu, resistensi antibiotik juga akan mempersulit penyembuhan infeksi umum yang asalnya mudah ditangani menjadi infeksi serius yang sulit untuk ditangani bahkan sulit untuk disembuhkan. Dalam prosedur pengobatanpun, seperti kemoterapi, operasi besar, dan transplantasi jantung akan lebih meningkatkan resiko dan memperburuk keadaan apabila tidak menggunakan antibiotik yang efektif. Situasi ini tentunya akan mengancam keselamatan pasien, dimana kematian yang terjadi bukan karena disebabkan oleh penyakit awal, melainkan oleh kegagalan penanganan akibat resitensi antibiotik.
Faktor Penyebab Terjadinya Resistensi Antibiotik
Di Indonesia, faktor utama terjadinya resistensi antibiotik antara lain disebabkan karena kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai bahaya dan dampak resistensi antibiotik. Kurangnya pemahaman dan dampak tentang resistensi antibiotik ini menyebabkan masyarakat mengonsumsi antibiotik secara bebas tanpa anjuran dokter. Banyak sekali masyarakat yang menjadikan obat antibiotik ini untuk infeksi yang disebabkan oleh virus, seperti flu. Padahal, antibiotik sama sekali tidak bisa membunuh infeksi yang diakibatkan oleh virus. Selain itu, faktor lainnya adalah penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Banyak masyarakat yang berhenti mengonsumsi antibiotik sebelum dosis yang dianjurkan, penggunaan antibiotik diberhentikan sebelum dosis yang dianjurkan hanya dapat melemahkan bakterinya saja tanpa membunuh ataupun memusnahkanya secara tuntas. Seringkali, pasien diberi resep antibiotik oleh dokter dan menghentikan pengonsumsian antibiotik setelah gejala yang dialaminya mereda. Padahal, tindakan tersebut dapat memicu terjadinya resistensi antibotik. Bakteri yang dilemahkan tersebut dapat memahami cara kerja antibiotik dengan cara bermutasi dan menjadi kebal apabila diberikan obat antibiotik yang sama.
Solusi Mencegah Resistensi Antibiotik
Upaya pencegahan dilakukan dengan penggunaan antibiotik yang bijak (Huda et al., 2021). Salah satunya konsumsi obat antibiotik sesuai arahan yang dianjurkan, penggunaan antibiotik sesuai dengan dosis dan rentang waktu tertentu yang diberikan oleh dokter Selain itu, upaya pencegahan untuk mengatasi masalah resistensi antibiotik dilakukan dengan membentuk tim Antibiotic Resistance Control (ARC) yang berkolaborasi dengan dokter, apoteker, perawat dan microbiologist (Mulatsari et al., 2023). Pencegahan ini dilakukan dengan mengedukasi memberikan pengetahuan tentang penyebab dan bahaya resistensi antibiotik, sehingga masyarakat dapat menyadari bahaya resistensi antibiotik serta dapat mencegah hal tersebut.
Resistensi antibiotik merupakan isu masalah kesehatan yang paling serius dan dapat menyebabkan dampak yang sangat buruk. Fenomena ini tidak boleh dianggap sepele karena resiko yang disebabkan dapat meyebabkan tingginya angka kematian. Untuk mengatasi hal tersebut, gunakan antibiotik secara bijak dan tepat, gunakan antibiotik sesuai anjuran dan arahan dokter, serta gunakan antibiotik sesuai dosis yang direkomendasikan. Dengan penggunaan antibiotik yang tepat dan bijak, kita dapat mencegah dan memperlambat pandemi tersembunyi akibat resistensi antibiotik ini. Jika bukan kita yang memulai langkah, lalu siapa yang akan memulainya? Karena perubahan yang besar diawali oleh diri kita sendiri. Maka dari itu, mari kita sama-sama untuk memastikan agar antibiotik ini tetap menjadi alat ampuh untuk melawan infeksi bakteri di generasi yang akan datang.
