Ikhlas Hadapi Cobaan Hidup

Mahasiswi Jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta.
Tulisan dari DHEA ALVIONITA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernikahan indah yang dibayakan Lusi ternyata tidak sesuai dengan kenyataan karena harus kandas ditengah jalan.
Suaminya pergi meninggalkannya dan seorang anak. Inilah yang membuat dirinya sebagai tulang punggung bagi anak semata wayangnya.
Kenyataan yang dihadapi oleh Lusi memang pahit, namun hidup harus terus dijalani. Perlahan ia mulai membuka lembaran baru untuk kehidupan yang baru. Biasanya, uang bulanan dari suaminya selalu turun setiap tanggal lima. Kini, dialah yang harus membiasakan diri bekerja. Berbagai macam pekerjaan telah dilakukannya, mulai dari kuli cuci, pembantu rumah tangga hingga pedagang es demi menjemput rupiah.
Semua pekerjaan dilakukannya untuk menghidupi anak semata wayangnya yang saat ini duduk di bangku sekolah dasar. Hari demi hari, waktu demi waktu, Lusi mulai terbiasa banting tulang hingga menjadikannya wanita tangguh dan perkasa yang bisa berdiri di kakinya sendiri.
Walaupun penghasilannya tidak tetap dan kadang tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari, ia tak pernah mengenal lelah meskipun upahnya sangat kecil yaitu Rp 50.000 per hari. Ia juga tidak pernah lupa untuk selalu bersyukur dengan apa yang telah diterimanya.
Kini, biaya hidup di Jakarta terus menjulang tinggi sehingga mengharuskan Lusi untuk lebih giat lagi dalam bekerja. Ia mulai bekerja dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Tetapi, ia tidak pernah lupa kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Sebelum bekerja, ia selalu merapikan rumahnya yang hanya satu petak itu dan menyiapkan pakaian untuk anaknya sekolah.
Semangat hidup Lusi tidak pernah pudar, ia selalu menerima berapapun penghasilannya dengan lapang dada. Lusi akan terus berusaha bangkit dari masa-masa sulitnya. Baginya, ini adalah cobaan dalam hidup yang harus dijalaninya dengan ikhlas.
(Dhea Alvionita/Politeknik Negeri Jakarta)
