Satu Scroll, Rasa Kurang: FOMO di Kalangan Gen Z

Mahasiswa Semester 2 Diploma Perbankan dan Keuangan di Universitas Hayam Wuruk Perbanas Surabaya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari dhea cacilia putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
FOMO atau Fear of Missing Out sering dialami banyak anak muda akibat penggunaan media sosial. Pernah nggak sih, kamu lagi santai atau rebahan setelah capek kuliah, lalu tiba-tiba merasa hidupmu kurang banget? Padahal sebelumnya biasa saja. Namun setelah membuka media sosial beberapa menit, mood langsung berubah. Rasanya semua orang sedang menjalani hidup yang lebih seru, lebih produktif, dan lebih bahagia dibanding kita.
Lucunya, perasaan itu sering datang hanya karena satu hal sederhana: scrolling.

Kadang tuh cuma gara-gara buka media sosial beberapa menit, perasaan bisa langsung berubah. Awalnya biasa aja, tetapi setelah melihat orang lain mengunggah pencapaian, jalan-jalan, nongkrong, atau kehidupan yang terlihat seru terus, tiba-tiba muncul rasa seperti tertinggal. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan hidup sendiri dengan apa yang ada di layar, padahal belum tentu semuanya benar-benar seindah yang terlihat.
“Kenapa hidup mereka kelihatannya lebih baik, ya?”
Hal seperti itu mungkin terdengar sepele, tetapi kalau terus terjadi setiap hari, lama-lama melelahkan juga.
Fenomena ini dikenal dengan istilah FOMO atau Fear of Missing Out. Sederhananya, FOMO adalah rasa takut tertinggal dari orang lain. Takut tidak ikut tren, takut tidak punya pengalaman yang sama, atau merasa hidup kita kalah menarik dibanding kehidupan orang lain di media sosial.
FOMO dan Media Sosial
Masalahnya, media sosial memang sering membuat hidup orang lain terlihat sempurna.
Padahal sebenarnya, yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari hidup mereka. Hampir tidak ada orang yang mengunggah momen saat sedang sedih, gagal, bertengkar dengan keluarga, atau overthinking tengah malam. Yang muncul di layar biasanya hanya bagian terbaiknya saja.
Karena itu, media sosial kadang terasa seperti “cermin retak”. Kita melihat kehidupan orang lain yang sudah dipilih dan dipoles sebaik mungkin, lalu membandingkannya dengan hidup kita yang nyata dan penuh kekurangan. Tentu saja hasilnya tidak akan pernah seimbang.
Tanpa sadar, kita jadi sibuk mengukur diri sendiri memakai standar kehidupan orang lain.
Di era sekarang, hal seperti ini juga semakin sulit dihindari. Hampir semua orang dekat dengan media sosial. Bangun tidur buka HP, sebelum tidur scrolling lagi, bahkan saat sedang makan atau berkumpul pun tangan tetap sibuk memegang ponsel. Kebiasaan itu perlahan jadi hal yang normal.
Semakin sering melihat kehidupan orang lain, semakin mudah juga muncul rasa iri, minder, dan tidak puas terhadap diri sendiri.
Aku sendiri juga pernah ada di fase seperti itu.
Ada masa ketika aku terlalu sering menghabiskan waktu scrolling media sosial sampai tanpa sadar mulai membandingkan diri dengan orang lain. Melihat teman yang terlihat produktif, punya banyak pencapaian, atau menjalani hidup yang terlihat sempurna kadang membuatku merasa tertinggal.
Lama-lama, kebiasaan itu melelahkan.
Pikiran jadi lebih mudah overthinking dan sulit merasa puas dengan diri sendiri. Bahkan saat sedang istirahat pun, rasanya selalu ada dorongan untuk membuka media sosial lagi dan lagi. Kadang aku juga mulai bertanya dalam hati:
“Kenapa aku belum bisa seperti mereka?”
Sampai akhirnya aku sadar kalau terlalu fokus pada kehidupan orang lain justru membuatku lupa menikmati hidupku sendiri. Aku mulai mencoba mengurangi waktu bermain media sosial, lebih fokus pada kegiatan yang kusukai, dan belajar menikmati hidup tanpa harus terus membandingkan diri.
Ternyata, kebahagiaan tidak selalu datang dari layar ponsel.
Sayangnya, banyak dari kita melakukan hal yang sama tanpa sadar. Kita berpikir bahwa cara agar tidak merasa tertinggal adalah dengan mengikuti semua tren. Ada tempat viral, langsung ingin datang. Ada barang baru, rasanya ingin ikut punya. Bahkan kadang kita memaksakan diri hanya supaya terlihat setara dengan orang lain.
Padahal mengikuti semua tren karena FOMO itu melelahkan.
Akan selalu ada orang yang terlihat lebih sukses, lebih cantik, lebih kaya, atau lebih bahagia. Kalau terus membandingkan diri, kita tidak akan pernah merasa cukup.
Yang lebih sedih lagi, kadang kita jadi lupa menikmati hidup sendiri. Kita terlalu sibuk memperhatikan kehidupan orang lain sampai lupa menghargai apa yang sudah kita punya.
Coba pikirkan satu hal sederhana ini:
“Kalau media sosial tiba-tiba hilang hari ini, apa yang masih membuatmu bahagia?”
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya belum tentu mudah. Banyak orang ternyata terlalu bergantung pada validasi dari luar untuk merasa berharga.
Padahal hidup bukan perlombaan.
Tidak semua orang harus berhasil di usia yang sama. Tidak semua orang punya jalan hidup dengan kecepatan yang sama. Ada yang prosesnya cepat, ada juga yang lebih lambat, dan semuanya tetap tidak masalah.
Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri
Karena itu, penting untuk mulai membangun hubungan yang lebih sehat dengan media sosial. Tidak harus langsung menghilang total, tetapi setidaknya kita bisa mulai mengatur cara menggunakannya.
Misalnya dengan membatasi waktu scrolling, mematikan notifikasi yang tidak penting, atau berhenti mengikuti akun-akun yang justru membuat kita merasa buruk tentang diri sendiri. Kita juga bisa mulai mencari kebahagiaan dari hal-hal sederhana di dunia nyata, seperti menjalani hobi, menghabiskan waktu bersama orang terdekat, atau sekadar menikmati waktu tanpa harus sibuk memotret semuanya.
Hal kecil seperti menulis satu hal yang disyukuri setiap malam juga bisa membantu kita lebih fokus pada hidup sendiri dibanding kehidupan orang lain.
Pada akhirnya, FOMO memang menjadi bagian dari kehidupan di era digital. Wajar kalau sesekali kita merasa tertinggal. Namun jangan sampai perasaan itu membuat kita lupa bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing.
Tidak semua bunga mekar di musim yang sama.
Jadi, tidak apa-apa kalau hidupmu belum terlihat “sempurna” seperti orang lain di media sosial. Tidak apa-apa kalau prosesmu terasa lebih lambat. Yang penting, kamu tetap berjalan dan tidak kehilangan dirimu sendiri hanya demi memenuhi standar orang lain.
Karena pada akhirnya, kamu sudah cukup.
