Konten dari Pengguna

Saat Media Lama Bertemu Media Baru: Mengenal Konvergensi Media

dhea cantika

dhea cantika

mahasiswi universitas pamulang.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari dhea cantika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ini diciptakan berdasarkan deskripsi yang saya masukkan ke dalam DALL-E, alat generasi gambar berbasis ΑΙ.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ini diciptakan berdasarkan deskripsi yang saya masukkan ke dalam DALL-E, alat generasi gambar berbasis ΑΙ.

Pernah nggak kita sadar kalau sekarang satu informasi bisa muncul dalam berbagai bentuk sekaligus? Sebuah berita misalnya, bisa kita baca dalam bentuk artikel, melihat videonya di media sosial, lalu mendengarkan pembahasannya melalui podcast. Hal ini merupakan salah satu gambaran dari adanya konvergensi media.

Konvergensi media membuat berbagai bentuk media yang sebelumnya berdiri sendiri mulai saling terhubung dengan teknologi digital.

Awalnya dari Berbagai Industri Media

Konsep konvergensi media pertama kali diperkenalkan oleh Nicholas Negroponte pada tahun 1979. Ia menggambarkan konvergensi sebagai irisan dari industri penyiaran dan film, industri percetakan dan penerbitan, serta industri komputer.

Perkembangan teknologi kemudian membuat batas antara media lama dan media baru menjadi semakin tidak terlihat. Media yang sebelumnya memiliki bentuk berbeda dapat hadir dalam satu lingkungan digital.

Menurut Fiddler (2003), perkembangan konvergensi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi, sosial, politik, serta inovasi teknologi. Konvergensi ini kemudian menghasilkan bentuk komunikasi multimedia yang menggabungkan dua atau lebih bentuk komunikasi.

Bukan Hanya Soal Teknologi

Konvergensi media sebenarnya tidak hanya berbicara tentang teknologi. Henry Jenkins (2006) menjelaskan konvergensi sebagai aliran konten di berbagai platform media, kerja sama antarindustri media, serta perpindahan khalayak dari satu media ke media lainnya.

Artinya, audiens sekarang tidak hanya menjadi penonton atau pembaca. Audiens juga dapat mencari informasi, memilih platform yang digunakan, bahkan ikut membuat dan menyebarkan konten.

Contohnya bisa kita lihat ketika sebuah program televisi memiliki akun Instagram, TikTok, YouTube, dan website. Kontennya mungkin berasal dari program yang sama, tetapi dikemas kembali sesuai karakter masing-masing platform.

Ada Lima Dimensi Konvergensi Media

Konvergensi media memiliki lima dimensi dasar, yaitu konvergensi teknologi, konten multimedia, kepemilikan, kolaborasi, dan koordinasi.

Pertama, konvergensi teknologi. Perkembangan teknologi membuat berbagai teknologi komunikasi, komputasi, dan konten semakin saling terhubung.

Kedua, konten multimedia. Konten tidak hanya berbentuk tulisan, tetapi dapat dikombinasikan dengan gambar, audio, dan video sehingga informasi bisa disampaikan dalam berbagai bentuk.

Ketiga, kepemilikan. Satu perusahaan media dapat memiliki beberapa jenis media sekaligus. Misalnya, perusahaan yang memiliki media cetak juga mempunyai media online di bawah naungan yang sama.

Keempat, kolaborasi. Konten dari satu platform dapat dibagikan atau digunakan pada platform lain melalui kerja sama antar-media.

Kelima, koordinasi. Berbagai divisi dalam perusahaan media perlu saling bekerja sama karena setiap bagian saling berhubungan dan tidak bisa berjalan sendiri.

Audiens Sekarang Punya Peran Lebih Besar

Salah satu perubahan penting dari konvergensi media adalah posisi audiens. Jika dulu masyarakat lebih banyak menerima informasi dari media, sekarang audiens juga dapat menjadi bagian dari proses penyebaran informasi.

Kita bisa memberikan komentar, membagikan konten, membuat video tanggapan, atau bahkan membuat konten sendiri. Karena itu, perkembangan teknologi membuat hubungan antara media dan audiens menjadi lebih aktif.

Pada akhirnya, konvergensi media menunjukkan bahwa media terus berkembang mengikuti teknologi dan kebiasaan masyarakat. Media lama tidak selalu hilang, tetapi dapat beradaptasi dan hadir bersama media baru dalam berbagai bentuk.

Jadi, ketika kita melihat satu konten yang muncul di televisi, YouTube, Instagram, dan TikTok sekaligus, sebenarnya kita sedang melihat salah satu bentuk dari konvergensi media.