Netral di Tengah Rivalitas AS–China: Masalahnya Bukan Sikap, Tapi Kekuatan

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Sriwijaya. Fokus pada pertahanan nasional dan internasional.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Dhea Pakpahan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah memanasnya rivalitas antara Amerika Serikat dan China, posisi Indonesia kembali menjadi sorotan. Selama ini, prinsip politik luar negeri bebas aktif membuat Indonesia dikenal sebagai negara yang tidak berpihak. Namun, di tengah dinamika global yang semakin kompetitif, pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia harus netral atau tidak, melainkan apakah Indonesia cukup kuat untuk mempertahankan netralitas tersebut.
Rivalitas AS–China saat ini telah meluas ke berbagai bidang, mulai dari ekonomi, teknologi, hingga militer. Kawasan Indo-Pasifik menjadi pusat persaingan, menjadikan negara-negara di sekitarnya, termasuk Indonesia, berada dalam posisi yang tidak sepenuhnya netral.
Netralitas Tanpa Kekuatan: Strategi atau Ilusi?
Selama ini, netralitas sering dipandang sebagai strategi aman. Indonesia menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat di bidang pertahanan, sekaligus memperkuat kerja sama ekonomi dengan China. Pendekatan ini dianggap mampu menjaga keseimbangan tanpa harus terjebak dalam konflik terbuka.
Namun, dalam realitas global saat ini, netralitas tidak selalu berarti aman. Sikap tidak berpihak bisa saja ditafsirkan sebagai ketidakjelasan posisi, terutama jika tidak didukung oleh kekuatan yang memadai. Negara-negara besar cenderung lebih menghormati negara yang memiliki daya tawar, bukan sekadar posisi politik.
Tanpa kekuatan ekonomi yang solid, kemandirian teknologi, dan kapasitas pertahanan yang kuat, netralitas berisiko hanya menjadi simbol, bukan strategi. Dalam situasi seperti ini, Indonesia bisa saja tetap netral secara formal, tetapi tidak benar-benar memiliki pengaruh dalam menentukan arah dinamika global.
Membangun Kekuatan di Tengah Tekanan Global
Di sinilah letak tantangan utama Indonesia. Ketika rivalitas global semakin tajam, ruang untuk “berdiri di tengah” sebenarnya semakin terbatas. Tekanan dari kedua kekuatan besar bisa datang dalam berbagai bentuk, baik melalui investasi, perdagangan, maupun kerja sama keamanan.
Karena itu, yang perlu diperkuat bukan hanya sikap politik, tetapi juga fondasi kekuatan nasional. Penguatan ekonomi domestik menjadi langkah penting agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada pihak luar. Di saat yang sama, pengembangan teknologi dan modernisasi pertahanan juga diperlukan untuk meningkatkan posisi tawar.
Peran Indonesia dalam ASEAN juga tidak bisa diabaikan. Sebagai negara terbesar di kawasan, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi penyeimbang sekaligus penentu arah, bukan sekadar mengikuti dinamika yang ada.
Pada akhirnya, netralitas bukanlah tujuan, melainkan alat. Namun, alat ini hanya akan efektif jika didukung oleh kekuatan yang nyata. Tanpa itu, netralitas berisiko dipersepsikan sebagai kelemahan.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia harus berpihak, tetapi apakah Indonesia sudah cukup siap untuk tetap tidak berpihak di tengah tekanan global yang semakin besar.
Dhea Lediva Pakpahan, mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, UNSRI.
