Menelusuri Lorong Waktu Fatahillah Jakarta

Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dheana Bambang Esih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Riuh rendah suara bel dan kayuhan sepeda ontel warna-warni seketika meredup begitu langkah kaki melewati pintu kayu besar Museum Sejarah Jakarta atau kerap kali disebut Museum Fatahillah. Di dalam gedung peninggalan Batavia yang megah ini, waktu seolah berjalan lambat, mempertemukan memori kelam masa lalu dengan antusiasme wisatawan dari berbagai belahan dunia.
Shalom Suika, salah satu staf Museum Fatahillah, mengungkapkan bahwa daya tarik utama museum ini justru terletak pada titik paling sunyi dan dingin di area belakang. "Kalau koleksi yang paling pengunjung minati sih penjara bawah tanah ya, yang meliputi eksekusi bawah tanah," ujar Shalom, Kamis (18/06/26).
Ruangan sempit, lembap, dan beratap rendah itu dulunya menjadi saksi bisu jeritan para tahanan di tanah Batavia. Kini, tempat tersebut bertransformasi menjadi magnet sejarah yang memicu adrenalin sekaligus empati para pengunjung.
Tak hanya soal kegelapan penjara, Museum Fatahillah juga menyimpan memorabilia penting terkait sejarah hukum melalui koleksi "Lukisan Tiga Keputusan Pengadilan" yang terletak di lantai 2, tepatnya Ruang Sidang Dewan Pengadilan (Raad van Justitie). Menurut Shalom, ruang peradilan ini memiliki daya tarik tersendiri karena masing-masing dari ketiganya menyimpan cerita unik yang menceritakan potret pengadilan di seluruh dunia pada masanya. Artefak-artefak ini menjadi bukti bahwa Batavia (Jakarta) dulunya adalah salah satu pusat administrasi global yang sangat diperhitungkan.
Agar nilai sejarah ini tidak usang dimakan zaman, pihak pengelola Museum Fatahillah kini tengah mempersiapkan langkah inovasi. Shalom menjelaskan bahwa fokus pengembangan ke depan akan lebih diarahkan pada penerapan teknologi informasi dan pembenahan aspek bahasa. "Bisa dilihat kebanyakan koleksi itu hanya ada yang berbahasa Indonesia, dikhawatirkan wisatawan mancanegara jadi enggak sepenuhnya paham sama informasi dari koleksi tersebut," jelasnya.
Sebagai solusinya, Museum Fatahillah berencana mengadaptasi sistem yang telah diterapkan oleh Museum Kebangkitan Nasional. "Di sana sudah pakai scan QR untuk mendapatkan informasi yang lebih detail, dan itu akan dikembangkan di sini mengingat koleksi di sini juga banyak," tambah Shalom.
Selain digitalisasi lewat QR code, museum ini juga bersiap mendobrak batasan bahasa. Selama ini, narasi informasi yang tersedia memang masih didominasi bahasa Indonesia. Ke depannya, ada rencana besar untuk menambah opsi bahasa asing guna menyambut wisatawan mancanegara. Selain bahasa Inggris dan Mandarin, pihak museum akan memberikan fokus lebih pada bahasa-bahasa Eropa dan Asia Timur.
Target utamanya adalah bahasa Jerman, Belanda, dan Jepang. Shalom membeberkan bahwa pemilihan bahasa ini didasarkan pada tingginya angka kunjungan dari negara-negara tersebut. Wisatawan asal Jerman, misalnya, dipilih karena kultur masyarakatnya yang sangat suka traveling dan bertamasya ke Indonesia. Sementara untuk bahasa Belanda dan Jepang, selain karena faktor historis, wisatawan dari kedua negara tersebut juga termasuk yang paling sering berkunjung ke Museum Fatahillah.
Melalui perpaduan teknologi informasi, perluasan bahasa, dan nilai historis dalam koleksi, Museum Fatahillah tidak hanya sekadar menjadi tempat menyimpan arsip masa lalu, melainkan siap menjadi jembatan global yang menghubungkan memori kolektif masa lalu dengan generasi masa depan.
