Konten dari Pengguna

Sastra dan Cermin Zaman

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dheana Bambang Esih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Pribadi

Sastra adalah cermin zaman yang terus berputar. Ketika kita menghadapkan karya masa kini dengan baris-baris prosa masa lalu, kita tidak sekadar membandingkan kata-kata, melainkan sedang membedah perubahan jiwa manusia dan peradaban yang melingkupinya. ​Di masa lalu, sastra sering kali lahir sebagai monumen moral dan estetika yang megah. Penulis seperti Pramoedya Ananta Toer atau Chairil Anwar merajut kata dengan kedalaman filosofis yang pekat, kerap memikul beban pembebasan sosial atau pencarian identitas bangsa. Gaya bahasanya cenderung kontemplatif, metaforis, dan menuntut pembaca untuk merenung lama di balik setiap baitnya. Sastra masa lalu bertumpu pada kekuatan narasi yang sabar dan berjarak. ​Sebaliknya, sastra masa kini bergerak dalam ritme yang jauh lebih cepat, cair, dan pragmatis. Dipengaruhi oleh era digital dan budaya pop, penulis kontemporer cenderung menggunakan bahasa yang lugas, ekspresif, dan langsung menusuk ke inti emosi pembaca. Tema yang diangkat pun bergeser dari narasi besar megah menuju ruang-ruang personal, seperti kesehatan mental, alienasi di tengah modernitas, hingga pencarian jati diri yang rapuh. ​Namun, kecepatan ini kerap menjadi pisau bermata dua. Kritik terbesar untuk sastra masa kini adalah kecenderungannya yang kadang terjebak pada kedangkalan demi mengejar tren sesaat. Di sisi lain, sastra masa lalu terkadang terasa terlalu kaku dan berjarak bagi generasi modern yang membutuhkan relevansi instan. ​Mengkritisi sastra dari dua era ini bukan untuk mencari siapa yang lebih unggul, melainkan untuk melihat bagaimana fungsi sastra berevolusi. Sastra masa lalu memberikan kita fondasi akar sejarah yang kokoh dan kedalaman berpikir. Sementara itu, sastra masa kini menawarkan cermin yang jujur mengenai kegelisahan manusia abad modern. Keduanya saling melengkapi, memastikan bahwa gerak zaman akan selalu terdokumentasikan dengan indah lewat untaian kata.