Sudah Tahu Itu Salah, tetapi Tetap Dilakukannya, Mengapa?

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sistem Informasi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Dhesta Andy Sugara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pukul dua dini hari. Layar ponsel masih menyala, jempol masih sibuk menggulir video. Di kepala ada suara kecil yang bilang, “Sudah, tidur. Besok kuliah pagi.” Tetapi jempol tetap bergerak.

Kalau kamu pernah di posisi itu, tenang, kamu tidak sendirian. Hampir semua orang punya kebiasaan yang mereka tahu keliru, tetapi tetap diulang. Bukan karena bodoh atau tidak peduli, melainkan karena otak kita memang bekerja seperti itu.
Pertama, otak lebih sayang “nanti” daripada “sekarang”. Tawarkan seorang anak satu permen hari ini atau dua permen minggu depan, hampir pasti ia memilih yang hari ini. Orang dewasa tidak jauh berbeda. Rokok, gorengan setiap hari, atau olahraga yang ditunda terasa “tidak apa-apa” karena enaknya datang sekarang, sedangkan akibatnya baru muncul puluhan tahun lagi.
Kedua, kalimat “cuma sekali, kok” selalu terdengar meyakinkan. Menyeberang sembarangan sekali, selamat. Sepuluh kali, masih selamat. Lama-lama kita menyimpulkan bahwa itu aman, padahal hanya beruntung. Apalagi kalau orang di sekitar juga melakukannya, seperti motor yang ikut menerobos lampu merah setelah melihat motor di depannya lolos.
Ketiga, yang salah sering kali memang lebih gampang. Membuang sampah sembarangan tidak perlu mencari tempat sampah, dan menunda tugas tidak perlu berpikir keras malam ini. Otak kita pada dasarnya hemat tenaga, atau kalau jujur, malas.
Terakhir, tahu belum tentu merasa. Semua perokok tahu rokok berbahaya, bahkan gambar penyakitnya dicetak besar di bungkus. Namun, selama risikonya masih terasa abstrak, kita belum benar-benar takut. Baru ketika menimpa diri sendiri atau orang terdekat, kita mendadak sadar.
Memahami cara kerja otak memang bukan jaminan langsung berubah, tetapi itu langkah pertama. Lain kali saat jempol tak mau berhenti menggulir layar, kamu sudah tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
