Konten dari Pengguna

Transformasi Teknologi Mengubah Karakter Pribadi Tanpa Disadari

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dhimas Ardhika Budi Fahry tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source : Universitas PGRI Yogyakarta
zoom-in-whitePerbesar
Source : Universitas PGRI Yogyakarta

Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan zaman menuju Zaman 4.0 menuntut digitalisasi segala aspek. Di awali pandemi Covid-19 yang menjadi katalisator utama digitalisasi akibat pembatasan secara luring membawa kemudahan dan efisiensi sebagai penunjang aktivitas sering kali disalahpahami sebagai jalan pintas pemecahan masalah pribadi padahal manusia dibekali akal pikiran sebagai anugerah utama berujung tumpulnya pola pikir kritis akibat kemudahan yang langsung muncul didepan mata. Akibatnya, teknologi dipandang sebagai paradoks kemajuan mempermudah atau memperdangkal sikap pola pikir kritis melalui kemudahan yang dibawa.

Di dunia pendidikan, proses belajar dan mengajar juga tidak terlepas dari teknologi yang digunakan sebagai penunjang dalam proses pembelajaran dengan setiap jenjang baik guru maupun siswa sama-sama berperan sebagai pengguna. Di sisi lain, sektor pendidikan juga merespons digitalisasi terlihat dari penggunaan tools seperti Canva sebagai media pembelajaran mengutamakan pokok materi sehingga siswa lebih mudah menerima dan mencerna pengajaran disertai tampilan visual menarik. Selain itu, munculnya Artificial Intelligence (AI) berkontribusi dalam dunia pendidikan membantu siswa mencari materi, melahirkan gagasan untuk dikembangkan, dan kemudahan mendapat jawaban tentunya hal ini sangat berdampak positif jika digunakan sesuai batasannya.

Namun penggunaan teknologi juga patut diwaspadai mengingat AI tidak bisa ditempatkan sepenuhnya dalam proses berpikir. Hal ini memicu dilemanya AI sebagai alat bantu dan menimbulkan pertanyaan refleksi bagi kita sendiri dan generasi penerus “akankah kita yang menuntun teknologi atau malah kita yang dituntun oleh teknologi”?

Salah satu inovasi yang berpotensi mengubah jati diri adalah kehadiran AI mampu memberi kemudahan hanya melalui ketikan tangan tanpa menjalankan akal pikiran terasa mencederai hakikat AI sebagai penunjang aktivitas sehari-hari. Masifnya penggunaan AI di jenjang sekolah akibat anggapan sebagai alat bantu justru berpotensi disalahgunakan sebab menimbulkan ancaman nyata tak kasat mata dengan disrupsi pola pikir kritis dan merusak rasionalitas serta objektifitas yang diutamakan para pendiri bangsa. Di sisi lain, kehadiran AI juga menimbulkan fenomena baru tentang ketergantungan pada teknologi yang mengikis pola pikir dengan kekhawatiran otak memberi stimulus mencari kemudahan. Ketika otak merespons sesuatu yang dianggap kompleks atau sulit muncul kecenderungan untuk mencari jalan pintas melalui AI dan dikhawatirkan kebiasaan tersebut memengaruhi otak untuk terus mencari kemudahan berujung hilangnya kemampuan pemecahan masalah sederhana generasi penerus bangsa.

Sejatinya hakikat AI diciptakan sebagai alat bantu dalam menciptakan efisiensi, tetapi banyak orang menganggapnya sebagai jalan pintas pemecahan masalah pribadi tanpa melibatkan proses berpikir, empati, dan simpati. Kemajuan teknologi tersebut memang menjadi hal yang tak terelakan mengikuti zaman serba digital dan menuntut segala kemudahan, pada dasarnya setiap teknologi bersifat netral sesuai hukum Melvin Kranzberg 1 “technology is neither good or bad, is it neutral” yang berarti manusia sebagai pengguna memiliki kendali akan keputusan dalam menggunakan AI sehingga tidak bisa dipandang jahat atau baik sepenuhnya, tetapi bagaimana orang tersebut mengaplikasikan dan menelaah hasil AI.hal itu akan dipengaruhi

Derasnya arus perkembangan teknologi, pertumbuhan pesat AI menyediakan keuntungan yang besar terutama di bidang pendidikan baik bagi guru maupun murid menggunakannya sebagai alat bantu. Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2025, mayoritas pengguna AI adalah Gen Z berkisar 43,7 persen yang didominasi pelajar dan millennial berkisar 22,3 persen. Penggunaan AI untuk edukasi dan pembelajaran mencapai 43,98 persen berbeda dari tahun sebelumnya yang hanya berkisar 21,84 persen sedangkan untuk hiburan juga mengalami peningkatan mencapai 29,52 persen dilansir dari Kemendikdasmen.go.id . Meskipun penggunaan AI sudah meningkat sebagai penunjang pendidikan, perlu diwaspadai juga peningkatan penggunaan AI untuk hiburan semata menginat trend brain rot ,seperti tung-tung sahur, meledak hingga tersebar ke mancanegara di tahun sebelumnya lebih mengancam anak bangsa dengan terganggunya memori, penurunan pola pikir kritis, kecanduan konten instan, dan mudah terdistraksi daripada sekadar hiburan lucu serta mengasyikan. Hal ini seharusnya menjadi perhatian utama, dimana akses teknologi tanpa batas perlahan mengubah karakter dan menurunkan kemampuan intelektual.

AI sendiri dipandang para pakar teknologi sebagai pedang permata dua. Jika digunakan secara arif akan sangat berguna, tetapi jika tidak semestinya akan menimbulkan malapetaka. Pada dasarnya teknologi berperan sebagai alat, sedangkan manusia berperan sebagai pilot yang mengendalikannya. Ketua Pusat Artificial Intelligence Institut Teknologi Bandung (ITB), Nugraha Priya Utama mengatakan bahwa AI berperan sebagai aksesibilitas, efisiensi, dan efektifitas pembelajaran. Selain itu AI menyediakan pembelajaran yang adaptif menyesuaikan kebutuhan individu. Hal ini berpotensi menjadi benang merah kesinambungan antara teknologi dan pendidikan, jika disertai pemahaman mendalam dan tanggung jawab dapat menjadi keunggulan sistem pendidikan Indonesia.

Namun, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, memperingatkan penggunaan AI yang berlebihan dapat menjadi boomerang bagi pengguna memicu risiko plagiarisme, disinformasi, validitas data, dan ketergantungan. Akibatnya, AI justru berpotensi melemahkan pembelajaran. Selain itu, beliau menegaskan kolaborasi aktif antara pemerintah, sekolah, dan keluarga menjadi kunci penting mengurangi serta menangkal dampak AI. “Teknologi tidak hanya membuat manusia cerdas, tetapi juga culas” kutipan tersebut juga berasal dari pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Bapak Abdul Mu’ti, menanggapi dampak teknologi tidak disandingi pemahaman pribadi membuat manusia semakin licik dan picik, alih-alih menjadi orang bijak yang mampu menggunakan teknologi sebagai sarana pengembangan diri. Setiap perubahan membawa tantangan, hal itulah yang relevan di masa sekarang dimana kemajuan teknologi membawa perubahan tiada henti setiap hari saja selalu ada yang baru, terutama algoritma media sosial tempat trend silih berganti datang meracuni generasi masa depan demi menyertai gaya yang tiada habisnya.

Teknologi menjelma dari sekadar alat bantu menjadi ruang hidup membawa arus peluang untuk tumbuh, tetapi juga menggerus kepribadian melalui kemudahan yang dibawa. Hal inilah yang menjadi tantangan generasi muda, dimana karakter bukan lagi diuji melalui tindakan nyata melainkan anonimitas dunia maya dibayangi ancaman hilangnya jati diri tanpa disadari. Lalu, sebagai putra-putri penerus negeri tidak elok rasanya melihat rakyat negeri sendiri dipimpin teknologi tanpa empati dan simpati, sedangkan manusia dibekali perasaan dan akal sebagai anugerah terbesar yang membedakan dari ciptaan lain.

Mahasiswa dan pelajar yang menjadi cikal bakal pemangku arah kemajuan bangsa dituntut untuk mampu menelaah dan mencerna hasil AI dengan tidak memercayai seluruhnya, tetapi juga menggunakan akal pikiran untuk mengoreksi sehingga mampu untuk mengubah ke dalam bahasa sendiri. Dilansir dari web Kemdiktisaintek.go.id, penggunaan AI dijenjang perkuliahan ditempatkan sebagai alat bantu yang perlu difinalisasi oleh mahasiswa dengan kata lain penerapan AI sendiri memang bertujuan untuk mendorong atau menumbuhkan pemikiran mahasiswa, tetapi kendali dalam menentukan arah pikiran tetap dalam genggaman mahasiswa menghindari ketergantungan sepenuhnya.