Urgensi Filsafat Dalam Dunia Pendidikan

Mahasiswa Prodi Hukum Tata Negara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dhimas Fikri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seperti yang kita ketahui, segala ilmu pengetahuan itu dimulai dari proses berfilsafat. Proses berfilsafat yaitu kegiatan berfikir secara mendalam, kritis, rasional, dan reflektif terhadap berbagai persoalan mendasar dalam kehidupan. seperti tentang kebenaran, keberadaan, pengetahuan, nilai, dan makna hidup.
Seperti yang kita ketahui, filsafat ialah berfikir secara radikal hingga keakar – akarnya. Dengan berfilsafat kita akan mengetahui sebuah ilmu hingga ke esensi yang paling dalam. Namun, ketika seseorang belajar tanpa disertai proses berfilsafat makan dia akan menelan sebuah ilmu itu secara mentah – mentah tanpa memahami esensi dari sebuah ilmu yang sedang dia pelajari.
Namun, orang – orang yang tidak mengetahui manfaat dari berfilsafat itu menganggap kalau filsafat itu menyesatkan, membuat orang menjadi kafir, membuat murid berani membantah gurunya sendiri, itulah kata – kata orang yang tidak mau mengenal filsafat. Padahal, filsafat itu menjadi sangat penting ketika digunakan dalam ranah akademik. Alasannya yaitu dengan berfilsafat seorang murid bisa berfikir secara mendalam mengenai ilmu yang sedang dia pelajari hingga mendapatkan esensi dari ilmu tersebut, karena dia mempelajari suatu ilmu secara radikal atau hingga esensi dari sebuah ilmu yang sedang dia pelajari.
Dalam proses pembelajaran di ranah akademik, seorang murid dituntut harus aktif dalam proses pembelajaran tersebut. Tetapi, ada kalanya justru ketika seorang murid ini menyangkal perkataan gurunya dengan niat untuk memberitahu guru tersebut bahwa yang disampaikan dia itu ada yang keliru, guru tersebut justru memarahi si murid karena dianggap melawan.
Padahal dalam tradisi filsafat, sifat bertanya dan meragukan adalah kunci utama atau komponen paling penting untuk mencari suatu kebenaran. Berfilsafat itu mengajarkan bahwa otoritas bukanlah jaminan kebenaran dan bahkan seorang guru pun harus siap selalu diuji pandangannya melalui dialog yang terbuka dan rasional.
Dengan jalan berfilsafat seorang murid menjadi lebih kritis, terbuka, dan tidak akan mudah menerima segala sesuatu tanpa pertimbangan yang rasional. Dan dia tidak akan memandang sebuah ilmu pengetahuan sebagai sekedar kumpulan informasi yang harus dihafalkan, melainkan dia akan menjadikan pengetahuan sebagai suatu proses pencarian kebenaran yang menuntut keterlibatan akal dan nurani secara aktif. Berfilsafat ini juga melatih murid untuk bisa mempertanyakan asumsi – asumsi dasar, menguji validitas argumen, serta akan membuka diri terhadap pandangan yang berbeda melalui dialog yang rasional.
Selain itu berfilsafat juga akan membentuk sikap rendah hati intelektual, karena murid akan menyadari bahwa kebenaran itu tidak selalu bersifat mutlak. Justru dia akan terbiasa menerima sebuah kritikan, terbuka pada pandangan lain, dan tidak mudah terjebak pada fanatisme. Dengan demikian, berfilsafat tidak hanya mempertajam akal, tetapi juga berfilsafat akan membina karakter ilmiah yang jujur dan bertanggungjawab.
berfilsafat bukan hanya mempertajam akal, tetapi juga berfilsafat itu menumbuhkan karakter ilmiah yang jujur, terbuka, dan bertanggungjawab. Ditengah derasnya informasi seperti sekarang ini, kemampuan berfilsafat menjadi bekal penting untuk berfikir mandiri dan bijaksana, tidak egois, karena dia akan menerima masukan dari orang lain selagi argumen yang orang lain sampaikan itu rasional dan berdasarkan bukti.
Dengan demikian, urgensi filsafat dalam dunia pendidikan itu tidak bisa kita abaikan. Filsafat bukan hanya memperkaya dimensi intelektual perserta didik, tetapi juga akan membentuk kepribadian yang dapat berfikir kritis, terbuka, dan bertanggungjawab. Pendidikan yang berlandaskan filsafat ini juga akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas dalam ranah akademik, tetapi juga arif dalam bersikap, serta mampu berkontribusi positif bagi masyarakat.
