Konten dari Pengguna

Menuju ke Uban

Dhimas Muhammad Yasin

Dhimas Muhammad Yasin

Seorang sarjana sastra yang enggan disebut sebagai sastrawan.

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dhimas Muhammad Yasin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menuju ke Uban
zoom-in-whitePerbesar

Kala rambut ibu menuju ke uban,

ari kulitnya turut keriputan

Meski rona mukanya tampak sungkan,

cahaya porinya masih putih berkilauan

Kala rambut ibu menuju ke uban,

tulang giginya turut berguguran

Meski mulut selalu kesulitan makan,

nada bicaranya masih penuh kemerduan

Kala rambut ibu menuju ke uban,

tutur katanya turut mengalami gangguan

Meski ada yang sukar dalam setiap ucapan,

bibir kusamnya masih tekun membaca Alquran

Kala rambut ibu menuju ke uban,

sumsum tulangnya turut kedinginan

Meski otot tak setangguh binaragawan,

derap kakinya masih tegap di jalan

Kala rambut ibu menuju ke uban,

tubuh sintalnya turut kekurusan

Meski lekuk tubuh tak seindah biduan,

gerak-geriknya masih tampak perempuan

Kala rambut ibu menuju ke uban,

akal sehatnya turut mengalami penurunan

Meski ada yang salah dengan jumlah ingatan,

arah pikirannya masih siap memikirkan masa depan

Kala rambut ibu menuju ke uban,

air matanya turut menjadi hujan

Meski raut permukaan tak menunjukkan beban,

hati kecilnya masih punya perasaan

Sukoharjo, November 2017

Puisi ini dimuat dalam Kumpulan Puisi "Perempuan yang Tak Layu Merindu Tunas Baru" (FAM Publishing, 2017).