Na Willa: Film Anak yang Mampu Menjangkau Banyak Hati

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dhini Alya Ananta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada film yang hanya menghibur sesaat lalu selesai begitu saja setelah lampu bioskop menyala, tetapi ada juga film yang diam-diam menyusup ke ingatan dan membangunkan kenangan yang sudah lama tertidur, Na Willa contohnya. Dalam behind the scene-nya, Reda Gaudiamo, sang penulis, mengatakan bahwa Na Willa lahir dari kegelisahannya tentang bagaimana anak-anak akan tumbuh besar kelak, sehingga hadirlah film Na Willa untuk mengabadikan kepolosan masa kecil anak-anak. Kegelisahan yang personal itu justru berhasil diterjemahkan menjadi cerita yang hangat. Menariknya, kisah dalam film ini bukan sekadar fiksi belaka. Cerita Na Willa ditulis berdasarkan pengalaman hidup Reda Gaudiamo sendiri saat menjalani masa kecilnya di kawasan Krembangan, Surabaya, pada tahun 1960-an, sehingga tokoh Willa dan teman-temannya, seperti Dul, Bud, dan Farida terinspirasi dari sosok-sosok nyata dalam hidup sang penulis.
Banyak hal dalam film ini terasa sangat dekat dengan masa kecil saya sendiri. Adegan bermain di gang rumah, mampir ke toko langganan di pasar saat ibu berbelanja, hingga bermain di lapangan sampai sore dan dibelikan anak ayam untuk dipelihara, semuanya membawa kembali pada kenangan yang selama ini seperti tersimpan begitu saja tanpa pernah benar-benar disadari. Rasanya seperti menonton potongan masa kecil yang dikemas ulang dalam cerita orang lain. Hal ini membuat kita memahami mengapa beberapa orang menyebut film ini seperti membuka kotak Pandora kenangan masa kecil masing-masing, sebab detail-detail kecil semacam itu memang jarang diangkat di layar lebar.
Salah satu adegan yang paling mengesankan adalah ketika Dul harus masuk rumah sakit dan kehilangan salah satu kakinya karena tertabrak kereta. Namun di tengah situasi yang seharusnya menyedihkan itu, ia justru masih tertawa dan tetap ingin bermain. Ia bahkan dengan bangga memamerkan bahwa kakinya kini menjadi semacam alat musik yang bisa berbunyi, sebuah momen yang ternyata diiringi lagu original berjudul "Sikilku Iso Muni." Lagu itu sengaja digarap untuk menyampaikan pesan bahwa kehilangan tidak selalu harus disikapi dengan kesedihan, melainkan bisa dirayakan dengan cara yang tulus dan ringan. Adegan ini memperlihatkan sesuatu yang cukup dalam maknanya, yaitu bahwa anak-anak sebenarnya tidak memikirkan hal-hal serumit yang sering dipikirkan orang dewasa, seperti rasa insecure atau takut tidak diterima oleh teman-temannya. Bagi anak-anak, kebahagiaan bisa ditemukan dari hal sesederhana menemukan sisi lucu dari keadaan yang sulit sekalipun. Film ini juga memperlihatkan bahwa saat bermain, anak-anak tidak pernah mempermasalahkan warna kulit, ras, atau agama satu sama lain, sesuatu yang terasa relevan mengingat Willa sendiri tumbuh di dalam keluarga campuran, ibu asal Nusa Tenggara Timur dan ayah keturunan Tionghoa.
Di sisi lain, film ini juga menyimpan lapisan cerita yang lebih dalam, yaitu bagaimana Willa memaknai kehidupannya dan bagaimana ia perlahan harus keluar dari zona aman dan nyaman yang selama ini ia miliki. Proses ini digambarkan dengan sangat halus, sehingga penonton diajak untuk ikut merasakan perubahan yang dialami Willa, mulai dari kehilangan teman bermain karena harus bersekolah, hingga akhirnya ia sendiri memutuskan untuk mengikuti langkah yang sama. Sutradara Ryan Adriandhy pernah mengatakan bahwa masa kanak-kanak memiliki lensa yang begitu jernih dan jujur, dan hal itulah yang benar-benar berhasil dihadirkan kembali lewat film ini, tanpa terasa seperti orang dewasa yang berpura-pura menjadi anak kecil.
Kekuatan film ini juga tidak lepas dari detail produksinya yang matang, mulai dari tata artistik, sinematografi, hingga musik pengiring yang berhasil membangun atmosfer Surabaya era 1960-an secara meyakinkan. Ditambah lagi, karakter-karakternya terasa autentik karena memang diangkat dari pengalaman hidup nyata sang penulis novel semasa kecil, sehingga emosinya tidak terasa dibuat-buat. Meski begitu, cukup dapat dipahami jika ada penonton yang merasa alurnya berjalan agak pelan, mengingat cerita ini memang berpusat pada keseharian sederhana seorang anak berusia enam tahun, bukan pada konflik besar yang penuh ketegangan. Justru di situlah letak kejujuran film ini, yaitu ia tidak memaksakan drama, tetapi membiarkan momen-momen kecil berbicara sendiri.
Menonton Na Willa membuat memori masa kecil yang selama ini jarang disadari keberadaannya tiba-tiba terbangun kembali. Kekuatan terbesar film ini terletak pada kemampuannya menjangkau banyak hati lewat cerita yang sederhana. Na Willa bukan sekadar film anak-anak, melainkan juga cermin bagi orang dewasa untuk kembali melihat dunia dengan cara yang lebih tulus, seperti yang pernah dimiliki saat masih kecil.
