Konten dari Pengguna

Secangkir Kopi dan Sebuah Kesempatan: Resensi Novel Funiculi Funicula

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dhini Alya Ananta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber foto : Milik Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto : Milik Pribadi

Dalam kehidupan, hampir setiap orang pernah menyimpan penyesalan. Ada kata yang belum sempat terucap, ada permintaan maaf yang terlambat disampaikan, dan ada orang tersayang yang pergi sebelum kita sempat berpamitan. Andai waktu dapat diputar kembali, mungkin banyak dari kita ingin memperbaikinya. Diadaptasi dari pertunjukan teater garapan penulisnya, Funiculi Funicula hadir sebagai novel yang hangat dan menyentuh. Novel ini menawarkan cerita yang ringan dibaca, tetapi meninggalkan kesan yang cukup lama setelah halaman terakhir ditutup.

Funiculi Funicula adalah novel karya Toshikazu Kawaguchi yang pertama kali terbit di Jepang pada tahun 2015. Dalam edisi bahasa Inggris, novel ini dikenal dengan judul Before the Coffee Gets Cold dan menjadi buku pertama dari sebuah seri yang berlanjut dengan kisah-kisah lain di kafe yang sama. Pernahkah kalian membayangkan kembali ke masa lalu untuk memperbaiki sebuah penyesalan? Pertanyaan itulah yang menjadi inti novel ini. Ceritanya berlatar di sebuah kafe kecil di Tokyo yang menyimpan keistimewaan, yaitu pengunjungnya dapat kembali ke masa lalu atau pergi ke masa depan. Kafe tersebut terletak di sebuah gang kecil dan berada di ruang bawah tanah. Bangunannya tua dengan pencahayaan yang remang-remang, sehingga suasananya terasa tenang. Meskipun tergolong fantasi, novel ini tidak berfokus pada keajaiban perjalanan waktunya, tetapi pada perasaan manusia yang menyertainya. Penulis mengajak pembaca untuk melihat bahwa yang terpenting dari sebuah penyesalan bukanlah kemampuan mengubahnya, melainkan keberanian untuk menghadapinya.

Kafe Funiculi Funicula sudah berdiri selama lebih dari seratus tahun. Di dalamnya terdapat satu kursi yang dapat membawa pengunjung melintasi waktu. Namun, terdapat aturan yang ketat. Pertama, orang yang datang hanya dapat bertemu dengan orang di masa lalu yang pernah datang ke kafe tersebut. Kedua, kursi itu tidak bisa langsung diduduki, sebab selalu ditempati oleh perempuan berbaju putih yang sedang membaca buku di meja tersebut. Orang yang datang baru bisa duduk ketika perempuan itu pergi ke toilet. Ketiga, apa pun yang dilakukan di masa lalu tidak akan mengubah keadaan saat ini. Keempat, tidak boleh beranjak dari kursi selama berada di masa lalu. Kelima, harus kembali sebelum kopi yang dihidangkan menjadi dingin. Jika tidak, ia akan terjebak di masa lalu dan tidak bisa kembali lagi. Aturan ini membuat setiap perjalanan terasa singkat dan penuh makna. Pengunjung harus pandai memanfaatkan waktu yang terbatas untuk menyampaikan hal yang benar-benar penting. Novel ini terdiri atas beberapa kisah pendek tentang pasangan kekasih, suami dan istri, kakak dan adik, hingga ibu dan anak. Setiap kisah memiliki tokoh dan masalah yang berbeda, tetapi semuanya diikat oleh kafe dan para pelayannya yang menjadi saksi setiap perjalanan.

Bagian yang paling menyentuh menurut saya adalah kisah suami dan istri. Kisah ini menceritakan Fusagi dan Kotake. Fusagi, sang suami, mengidap penyakit yang membuat ingatannya perlahan memudar, sedangkan Kotake, istrinya, seorang perawat yang setiap hari merawatnya dengan sabar. Kenyataan bahwa suami yang dicintainya lambat laun akan melupakan dirinya membuat Kotake merasa sedih dan terus memikirkannya. Suatu hari, Fusagi ingin memberikan sebuah surat kepada Kotake pada saat ia sudah tidak mengingat siapa istrinya. Karena itu, Kotake memutuskan kembali ke masa lalu, ketika ia masih dapat menerima surat itu dan Fusagi masih mengingat dirinya. Kisah ini menarik karena kesedihan yang dihadirkan tidak berasal dari kematian, tetapi dari kehilangan yang terjadi pelan-pelan, meskipun Fusagi masih hidup dan berada di sisi Kotake.

Ada pula kalimat dalam surat itu yang membuat saya meneteskan air mata saat membacanya, yaitu "Jika kau beranggapan aku bukan lagi suami yang baik, aku relakan kau pergi. Yang kuminta hanya kau melakukan semua yang mampu kau lakukan sebagai istriku. Karena bagaimanapun, kita suami-istri. Meskipun ingatanku hilang, aku ingin kita hidup bersama sebagai pasangan. Aku tak ingin kita tetap bersama hanya karena simpati." Dari sini saya memahami bahwa cinta dalam pernikahan tidak hanya diuji saat bahagia, tetapi juga saat salah satu pasangan tidak lagi mampu mengingat kebersamaan mereka. Perjalanan ke masa lalu itu memang tidak menyembuhkan penyakit sang suami, tetapi memberi Kotake kekuatan untuk tetap bertahan dan mencintai. Bagi pembaca yang pernah merawat anggota keluarga yang sakit, bagian ini terasa sangat dekat dan mudah membuat mata berkaca-kaca.

Kelebihan novel ini terletak pada alurnya yang sederhana, tetapi kuat secara emosional. Bahasanya mengalir dan mudah dipahami sehingga cocok dibaca oleh berbagai kalangan, termasuk pembaca yang biasanya kurang tertarik pada novel terjemahan. Aturan perjalanan waktu yang membatasi justru membuat cerita terasa lebih dalam, sebab setiap tokoh harus menentukan hal yang paling penting untuk disampaikan. Setiap kisah memiliki pesan yang berbeda, tetapi tetap berkaitan satu sama lain sehingga pembaca tidak merasa membaca cerita yang terpisah-pisah. Selain itu, suasana kafe yang tenang dan hangat berhasil menghadirkan kesan nyaman sepanjang cerita.

Di sisi lain, novel ini juga memiliki kekurangan. Kisah-kisah di dalamnya mengikuti pola yang hampir serupa, yaitu tokoh datang dengan masalah, melakukan perjalanan waktu, lalu pulang dengan perasaan yang lebih lega. Pembaca yang menyukai alur penuh kejutan mungkin merasa ceritanya agak lambat dan mudah ditebak. Penggambaran latar kafe yang berulang juga dapat terasa kurang bervariasi bagi sebagian pembaca.

Secara keseluruhan, Funiculi Funicula adalah novel yang menghangatkan dan mengajak pembaca merenungkan arti penyesalan, kehilangan, dan kasih sayang. Pesan utamanya ialah bahwa masa lalu tidak dapat diubah, tetapi cara kita menyikapinya masih bisa berubah. Meskipun memiliki kekurangan pada pola cerita yang berulang, novel ini tetap layak dibaca oleh siapa saja yang ingin menikmati bacaan ringan, tetapi sarat makna. Setelah membacanya, kita mungkin terdorong untuk lebih menghargai orang-orang di sekitar dan tidak menunda hal yang ingin disampaikan.