Tak Perlu Sempurna, Cukup Berani Bersuara: Seminar Malam Koneksi 2026

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dhini Alya Ananta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jantung berdebar, tangan dingin, dan pikiran mendadak kosong adalah pengalaman yang familiar bagi banyak orang saat harus berbicara di depan umum. Rasa itu kerap muncul bahkan sebelum kata pertama terucap. Situasi seperti ini kerap dijumpai di dunia perkuliahan, mulai dari presentasi kelompok, diskusi kelas, hingga memperkenalkan diri di lingkungan yang masih asing. Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, kemampuan menyampaikan gagasan secara lisan bahkan menjadi bekal yang tidak bisa ditawar. Namun, tidak semua orang merasa siap untuk berdiri dan bersuara. Perasaan itulah yang coba dijawab dalam seminar Malam Koneksi 2026 bertema "Menjelma Suara yang Berani Bicara". Seminar ini digelar di FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, pada Minggu (27/9/2026), dengan peserta mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2026.

Rangkaian acaranya berupa seminar dengan pemateri Muhammad Iqbal, S.Sos., M.M. yang merupakan seorang pembawa acara (MC) berpengalaman yang siap membagikan ilmunya kepada peserta. Ia membawakan materi berjudul "Be Confident & Speak Up". Pemaparannya diawali dengan mengingatkan bahwa audiens menilai pembicara dari banyak hal, tidak hanya dari isi ucapannya. Percaya diri, penguasaan materi, dan ketepatan diksi menjadi dasar, lalu disusul suara, busana, hingga selingan humor. Mengutip pandangan Albert Mehrabian dari UCLA, ia menyebutkan bahwa pesan tersampaikan 55% lewat bahasa tubuh, 38% lewat suara, dan 7% lewat kata-kata.
Pembahasan kemudian mengarah pada hal yang paling dekat dengan peserta, yaitu rasa grogi. Menurut pemateri, rasa tidak percaya diri sering muncul karena merasa tidak berbakat, merasa introvert, kurang persiapan, atau merasa tidak sebanding dengan orang lain. Namun, grogi adalah hal yang manusiawi dan wajar. Rasa itu dapat diantisipasi, bahkan dikelola menjadi energi yang positif . Untuk itu, ia membagikan tiga cara, yaitu relaksasi dengan mengalihkan fokus, afirmasi diri, dan persiapan materi yang matang. Ia juga mengenalkan teknik penyampaian gagasan yang terstruktur: menyampaikan pendapat, memberi alasan, menyertakan contoh, lalu menutup dengan menegaskan kembali pendapat tersebut.
Suasana seminar terasa hidup karena peserta tidak hanya mendengarkan. Mereka aktif bertanya sehingga pembahasan berjalan dua arah. Keberanian bertanya itu seolah menjadi bukti kecil bahwa pesan seminar mulai sampai. Kami selaku panitia berharap, setelah mengikuti Malam Koneksi 2026 ini, para mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2026 menjadi lebih berani dalam berbicara di depan umum.
Seminar ini memang hanya berlangsung dalam satu kesempatan, tetapi pesannya layak dibawa pulang. Berani bersuara tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kemauan untuk mencoba dan terus berlatih. Grogi mungkin akan tetap datang setiap kali berdiri di depan banyak orang, tetapi sebagaimana disampaikan pemateri , rasa itu bukan penghalang dan dapat diubah menjadi energi positif. Kesempatan untuk berlatih pun sebenarnya terbuka lebar, mulai dari diskusi di kelas, presentasi tugas, hingga kegiatan organisasi di kampus. Jika setiap kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik, bukan mustahil mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2026 akan tumbuh menjadi komunikator yang percaya diri dan semakin lantang menyuarakan gagasannya.
