Konten dari Pengguna

Bertumbuh Bersama: Mengapa Mahasiswa Perlu Belajar dari Mahasiswa

Dhiyaa Azmi

Dhiyaa Azmi

Mahasiswa Psikologi di Universitas Prof. Dr. Hamka

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dhiyaa Azmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Anna Shvets: https://www.pexels.com/id-id/foto/tangan-orang-orang-masyarakat-rakyat-4226256/
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Anna Shvets: https://www.pexels.com/id-id/foto/tangan-orang-orang-masyarakat-rakyat-4226256/

Di tengah tantangan dunia kerja yang semakin kompleks, mahasiswa dan pencari kerja muda kerap merasa terombang-ambing. Informasi berlimpah, tuntutan tinggi, namun panduan praktis yang membumi seringkali minim. Dalam kondisi seperti inilah muncul satu pertanyaan penting: siapa yang paling mampu memahami kegelisahan mahasiswa, jika bukan mahasiswa itu sendiri?

Inilah semangat yang diusung oleh pelatihan bertajuk “Melangkah Pasti Menuju Karir”, yang diselenggarakan oleh Kelompok 1 dari Mata Kuliah Desain dan Manajemen. Bukan sekadar pelatihan, kegiatan ini menjadi contoh nyata kekuatan peer-learning, di mana mahasiswa belajar dari mahasiswa dalam suasana yang setara, terbuka, dan jujur.

Dari Teman, Untuk Teman

Pelatihan ini digelar secara daring melalui Zoom, namun atmosfernya jauh dari kaku. Sejak awal, peserta disambut oleh pemateri dan fasilitator yang merupakan rekan sejawat mereka sendiri. Alih-alih merasa “diawasi”, peserta merasa ditemani. Alih-alih digurui, mereka justru diajak berdiskusi.

Hal ini bukan tanpa alasan. Banyak peserta merasa lebih nyaman bertanya dan mengemukakan pendapat karena tahu bahwa pematerinya juga mengalami keresahan yang sama. Ketakutan akan masa depan, kebingungan menulis CV, atau ketidakpercayaan diri saat wawancara semua dibicarakan dengan bahasa yang akrab dan membumi.

Menghadirkan Empati, Bukan Hanya Teori

Salah satu kekuatan utama dari pelatihan ini adalah empati. Ketika seorang mahasiswa menyampaikan bahwa ia takut gagal dalam wawancara karena merasa “tidak punya prestasi”, pemateri tidak menjawab dengan teori psikologi atau strategi rekrutmen. Mereka menjawab dengan cerita pribadi tentang ditolak, tentang menangis usai wawancara, dan tentang bangkit lagi.

“Kadang kita cuma butuh tahu bahwa orang lain juga pernah gagal. Biar kita nggak merasa sendirian,” ujar salah satu peserta usai sesi.

Di sinilah letak perbedaan mendasarnya. Pelatihan yang dibawakan oleh sesama mahasiswa tidak hanya menyampaikan informasi, tapi juga menghadirkan pengakuan kolektif bahwa kita semua sedang belajar.

Koneksi yang Tidak Terlihat Tapi Terasa

Meskipun dilakukan secara daring, pelatihan ini berhasil menciptakan ruang koneksi yang tulus. Lewat kolom chat, peserta saling menyemangati, berbagi tips, dan mengakui keresahan masing-masing. Bahkan ada yang mengusulkan membuat grup pasca pelatihan agar bisa terus saling mendukung.

Kegiatan ini juga disertai dengan pre-test dan post-test untuk mengukur pemahaman, yang hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan. Namun peningkatan paling berharga justru tak terlihat dalam angka, melainkan dalam cara peserta berbicara tentang diri mereka sendiri di akhir sesi lebih mantap, lebih positif, dan lebih manusiawi.

Dampak Nyata dari Ruang Setara

Seringkali, kegiatan pengembangan diri terkesan elitis hanya diakses oleh mereka yang sudah percaya diri atau punya modal pengalaman. Namun pelatihan ini membuktikan bahwa ketika ruang belajar dirancang setara dan aman, semua orang bisa berkembang.

Salah satu peserta menulis dalam form evaluasi, "Baru kali ini saya ikut pelatihan dan merasa diperhatikan. Bukan cuma disuruh menyerap, tapi diajak ngobrol. Rasanya ringan tapi ngena."

Belajar Tak Selalu Harus dari Mereka yang Sudah Jadi

Pelatihan ini mengajarkan satu hal penting: belajar tidak selalu harus dari mereka yang sudah ‘jadi’ kadang justru lebih bermakna saat belajar dari mereka yang sedang berproses. Karena dari sanalah muncul ruang empati, kesetaraan, dan keberanian untuk mencoba.

Kelompok 1 berharap bahwa pelatihan ini tidak berhenti di Zoom hari itu, tapi menjadi percikan kecil dari gerakan lebih besar bahwa mahasiswa punya potensi untuk saling menguatkan, mengedukasi, dan membangun masa depan bersama.

Karena dalam dunia yang menuntut banyak hal dari generasi muda, ruang belajar yang setara bisa jadi hadiah paling berharga.