Mengajarkan Sikap Hidup Bersahaja kepada Anak-Anak
Tulisan dari Muhamad Dhofier tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat ini, dunia tengah menghadapai masa-masa penuh ketidakpastian. Lapangan pekerjaan yang sulit, ketimpangan yang tampak kentara, dan daya beli masyarakat yang menurun cukup tajam. Di sisi lain, muncul kelas-kelas sosial yang kesejahteraan ekonominya berada pada level tinggi. Sebagian di antara mereka tak segan memamerkan kekayaan dan gaya hedonis yang kurang empatik.
Sisi kehidupan seseorang yang cenderung flexing memperlihatkan bahwa ia tengah kehilangan satu nilai kearifan yang penting, yakni, kebersahajaan. Hidup bersahaja adalah cara hidup penuh empatik. Mungkin saja Anda adalah seorang konglomerat. Tak ada larangan bagi Anda memakai uang untuk membeli barang-barang mewah yang akan Anda sandang sehari-hari. Itu sepenuhnya adalah hak bagi si empunya kekayaan. Namun, bagi orang dengan kesadaran empatik yang tinggi tidak akan mengumbar kemewahan itu di sembarang tempat. Ia akan selalu tahu diri dan menyesuaikan agar yang tampak pada dirinya adalah sewajarnya seperti yang orang kebanyakan memakainya. Hidup bersahaja bukanlah hidup yang memaksa-maksa diri tampil sederhana karena ingin dianggap peduli dengan kaum papa. Hidup bersahaja adalah menampilkan diri sewajarnya tanpa berlebihan. Ketika orang lain menatap Anda, ia merasa begitu dekat karena Anda menebarkan aura empati yang tulus.
Hidup bersahaja adalah laku hidup yang menghindari rasa ingin dihormati secara berlebihan. Rasa hormat adalah sebentuk penghargaan wajar dari orang lain jika kita menunjukkan laku terpuji di manapun dan dalam situasi apapun, bukan sesuatu yang wajib kita dapatkan karena sebuah status atau jabatan.
Cara hidup bersahaja tidak muncul tiba-tiba. Sikap ini merupakan pola kebiasaan yang terbangun sejak dini dan melekat secara mendalam sebagai karakter dalam diri seseorang. Bagaimana membangun karakter hdiup bersahaja untuk anak-anak? Agar kelak, anak-anak kita menjadi generasi yang berhasil di berbagai bidang namun tetap rendah hati dan mampu hidup bersahaja? Berikut ini sejumlah langkah yang perlu dilakukan :
Ajarkan Anak Memahami Perbedaan antara Kebutuhan dan Keinginan
Penting sekali melatih anak-anak untuk mengenal apa saja yang menjadi kebutuhannya. Anak-anak perlu memiliki kemampuan membedakan apa yang dibutuhkan dan apa yang diinginkan. Misalnya gadget, di sejumlah tempat, sebagian besar anak-anak usia Sekolah Dasar sudah memiliki smartphone sendiri. Padahal, smartphone untuk anak usia SD bukanlah kebutuhan mendasar yang wajib ia punya. Orang tua perlu mengajak dialog agar anak-anak memahami bahwa HP bagi usia mereka bukan sesuatu yang primer. Informasi dari sekolah bisa dijembatani melalui nomor HP orang tua.
Demikian pula dengan uang saku, sangat penting anak-anak diajak membuat daftar, jajan apa yang semestinya dibeli. Belajar membuat rencana membelanjakan keuangan adalah cara penting agar anak mengerti perbe
daan antara kebutuhan dan keinginan. sehingga, anak mengalami dan mersakan langsung pembelajaran mengatur keuangan mereka. Jadi, uang saku untuk anak bukan berpatokan pada keumuman uang saku teman-temannya di sekolah, melainkan keputusan sendiri si anak karena mampu memilah apa yang sesungguhnya benar-benar ia butuhkan di sekolah.
Bersikap Realistis
Optimisme merupakan sikap yang bagus untuk terus dipupuk pada anak-anak agar mereka tumbuh dalam harapan-harapan yang menjadi bahan bakar semangat belajarnya setiap hari. Kendati begitu, yang tak boleh dilupakan adalah, orang tua perlu mengajarkan sikap realistis. Misalnya soal prestasi. Jika anak Anda mengalami kegagalan dalam prestasi di kelas misalnya, ajaklah anak untuk menengok kembali bagaimana cara dia belajar. Anda perlu memberikan pemahaman bahwa belajar adalah sebuah proses yang bukan sekali gas langsung jadi pintar. Ada tahapan dan habit yang harus menjadi tulang punggung agar prestasi mudah di raih.
Ibarat sedang melakukan pertandingan lari maraton, mereka yang berpeluang juara adalah atlet yang melatih otot kakinya berlari setiap hari. Bagi mereka yang tidak rutin latihan lari tentu saja peluang tetap ada namun akan sulit bersaing dengan yang berlatih rutin. Apalagi yang sama sekali tidak melakukan persiapan latihan, peluang memenangkan kompetisi akan menjauh. Meski tampak bugar dan kuat, tanpa latihan yang rajin pasti akan mengalami kesulitan untuk mengalahkan atlet yang lebih tekun berlatih. Belajar memiliki sikap realistis menjadikan kita mudah menerima dan sportif dalam berbagai aspek kehidupan.
Tidak Gampang Berjanji
Orang tua sebaiknya tidak mudah mengucapkan janji untuk anak-anak, sementara tidak sungguh-sungguh memerhatikan apa yang diucapkan. Anak-anak adalah perekam paling canggih yang selalu mengingat hampir setiap ungkapan janji dan iming-iming orang tua dalam kondisi apapun. Terlebih, janji yang sebenarnya jauh dari realistis. Menggantungkan anak-anak pada harapan yang tidak bisa terpenuhi akan menyebabkan kecerenderungan pada anak untuk selalu menjadi penuntut. Ia akan mengungkit ucapan lama orang tuanya meski masa itu sudah lewat. Dengan terbiasa menuntut janji, lama-lama anak akan menjadi pribadi yang serba tergantung pada orang lain. Parahnya, anak-anak juga bisa berperilaku gampang menjanjikan sesuatu padahal ia sendiri tak ingin sungguh-sungguh memenuhinya. Laku semacam ini jauh dari sikap bersahaja
Dengarkan Harapannya
Tak ada yang salah dengan memiliki harapan yang setinggi-tingginya. Harapan adalah bagian dari cita-cita yang muncul dalam benak imajinasi anak-anak yang menggelorakan semangat untuk belajar dan mencoba sebanyak-banyaknya pengalaman. Harapan juga sebentuk doa yang akan memberikan obor ketenangan merawat impian-impian masa depan gilang-gemilang. Tugas orang tua adalah mendengarkan dengan tulus apa yang menjadi harapan anak-anak sekaligus memberikan penghargaan dengan mengapresiasi harapan-harapan itu. Harus dihindari sikap meremehkan harapan yang dikemukakan oleh anak. Sikap hidup bersahaja lahir sebab eksistensi diri tak pernah mendapat penolakan dari orang terkasih. Anak-anak yang beroleh rasa penerimaan dari orang tuanya relatif lebih memiliki karakter kuat dan mampu menampilkan kebersahajaan.
Ajarkan Bersyukur
Rasa syukur merupakan puncak akhlak seseorang yang menurunkan sifat terpuji lainnya dalam menjalani kehidupan. Dengan syukur, orang tak pernah menjadikan segala persoalan sebagai beban hidup melainkan tantangan yang akan membakar optimisme. Rasa syukur bukanlah sikap pasif yang fatalistik. Syukur berarti menanamkan rasa optimis dan mengaktifkan segala daya untuk mewujudkan semua cita-cita dan harapan. Syukur menjadi sandaran ketika harapan tak pernah kunjung datang, ia tahu Sang pemilik Kuasa sedang mempersiapkan segalanya yang terbaik.
Mengajarkan rasa syukur kepada anak-anak tidak cukup hanya dengan membiasakan mengucapkan kalimat pujian ‘Alhamdulillah’. Orang tua bisa memvariasikan dengan tindakan nyata. Misalnya, jika anak-anak membawa bekal untuk ke sekolah, tanyalah, “kepada siapa kamu ingin berbagi di sekolah, Nak?”. Jika ia memperoleh prestasi yang membanggakan, tanyalah, “kepada siapa saja kamu ingin mengucapkan terima kasih, Nak?”.
Akhirnya, sebagai orang tua tentu saja kita berharap kelak anak-anak kita, saat ia memegang estafet zaman, sebagai politisi, aparat hukum, pengusaha, dosen atau lainnya, mereka adalah generasi yang peka terhadap getar nadi kehidupan masyarakat kecil. Mereka menjadi generasi yang mampu menampilkan sikap bersahaja.

