Mengapa Demokrasi Uni Eropa Terlihat Lebih Matang dari Indonesia

Mahasiswa Hubungan internasional Universitas Sriwijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aldi bareto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Demokrasi di Uni Eropa tampak lebih dewasa dibandingkan dengan Indonesia karena adanya konsistensi lembaga, budaya politik yang rasional, dan penegakan hukum yang lebih tegas. Hal ini penting untuk dibahas karena demokrasi bukan hanya sekadar pemilihan umum, tetapi juga berkaitan dengan kualitas tata kelola dan kepercayaan publik. Saya percaya bahwa kematangan demokrasi di Uni Eropa terbentuk melalui proses panjang yang menekankan aturan hukum, pendidikan politik, dan akuntabilitas. Data terbaru juga menunjukkan adanya perbedaan dalam kualitas demokrasi antara kedua wilayah ini. Oleh karena itu, perbedaan tersebut dapat dilihat dari kekuatan institusi, budaya politik, serta kualitas partisipasi masyarakat.
Dari segi institusi, negara-negara Uni Eropa memiliki sistem yang lebih stabil dan konsisten. Berdasarkan laporan Freedom House 2024, banyak negara Uni Eropa seperti Norwegia, Swedia, dan Jerman mendapatkan skor kebebasan di atas 90 dari 100. Sementara itu, Indonesia hanya memperoleh skor sekitar 59, yang menunjukkan masih adanya keterbatasan dalam kebebasan politik dan sipil. Data ini menegaskan bahwa prinsip rule of law di Uni Eropa lebih kuat. Di Indonesia, meskipun reformasi telah membawa kemajuan, praktik intervensi politik terhadap lembaga negara masih menjadi tantangan.
Selain itu, budaya politik masyarakat di Uni Eropa cenderung lebih berfokus pada isu-isu tertentu. Ini terlihat dari rendahnya praktik politik uang dan tingginya kepercayaan publik terhadap institusi. Menurut survei Eurobarometer 2023, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga Uni Eropa berada di kisaran 45–50%. Di sisi lain, survei dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) 2023 menunjukkan bahwa praktik politik uang masih diakui oleh sebagian pemilih di Indonesia, terutama pada tingkat lokal. Hal ini mencerminkan bahwa demokrasi di Indonesia masih dipengaruhi oleh faktor non-programatik seperti hubungan personal dan materi.
Kualitas partisipasi publik juga menjadi faktor pembeda. Di Uni Eropa, tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu Parlemen Eropa 2019 mencapai sekitar 50,6%, meningkat dibandingkan dengan pemilu sebelumnya. Partisipasi ini didukung oleh tingkat pendidikan politik yang baik. Sementara itu, partisipasi pemilih di Indonesia pada Pemilu 2019 mencapai sekitar 81%, angka yang sebenarnya lebih tinggi. Namun, tingginya angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kualitas pilihan karena masih banyak pemilih yang terpengaruh oleh disinformasi atau kampanye yang tidak berbasis data.
Dalam hal transparansi, Transparency International (2023) mencatat bahwa sebagian besar negara anggota Uni Eropa memperoleh skor Indeks Persepsi Korupsi di atas 70. Sebaliknya, Indonesia hanya berada di sekitar skor 34. Perbedaan ini menunjukkan bahwa korupsi masih menjadi masalah serius yang memengaruhi kualitas demokrasi di Indonesia. Di Uni Eropa, transparansi dan akuntabilitas berfungsi dengan lebih baik berkat adanya sistem pengawasan yang kuat dan penegakan hukum yang konsisten.
Dari penjelasan tersebut, terlihat jelas bahwa demokrasi di Uni Eropa lebih matang karena didukung oleh institusi yang kuat, budaya politik yang rasional, dan partisipasi publik yang berkualitas. Data dari berbagai lembaga internasional juga memperkuat argumen ini. Sementara itu, Indonesia masih dalam perjalanan menuju demokrasi yang lebih baik. Perbaikan dalam penegakan hukum, pendidikan politik, dan pengurangan praktik politik transaksional merupakan langkah penting agar demokrasi Indonesia dapat berkembang dengan lebih baik di masa depan.
Referensi.
Freedom House. Freedom in the World 2024https://freedomhouse.org/report/freedom-world
Transparency International. Corruption Perceptions Index 2023 https://www.transparency.org/en/cpi/2023
