Konten dari Pengguna

Negara Yang Mengandalkan Tentaranya Tidak Akan Maju

Aldi bareto

Aldi bareto

Mahasiswa Hubungan internasional Universitas Sriwijaya

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aldi bareto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Visual konseptual dominasi militer dalam perspektif global.Sumber : Dok. AI / OpenAI (2026)
zoom-in-whitePerbesar
Visual konseptual dominasi militer dalam perspektif global.Sumber : Dok. AI / OpenAI (2026)

Ketergantungan sebuah negara pada kekuatan militer sebagai alat utama menjaga stabilitas justru menunjukkan lemahnya arah pembangunan. Negara yang terlalu mengandalkan tentara cenderung tertinggal dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat. Saya berpendapat bahwa orientasi berlebihan pada militer bukanlah jalan menuju kemajuan, melainkan hambatan yang memperlambat perkembangan negara. Hal ini terlihat dari lemahnya pembangunan manusia, terbatasnya ruang demokrasi, dan tidak optimalnya pertumbuhan ekonomi.

Dalam konsep pembangunan modern, kemajuan negara tidak lagi diukur dari kekuatan militer semata, tetapi dari kualitas sumber daya manusia. Pendekatan pembangunan manusia menekankan pentingnya pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sebagai indikator utama. Ketika anggaran negara lebih banyak dialokasikan untuk militer, sektor-sektor penting tersebut menjadi kurang diperhatikan. Akibatnya, kualitas masyarakat tidak berkembang secara maksimal dan daya saing negara menjadi lemah.

Selain itu, dominasi militer sering kali berdampak pada melemahnya demokrasi. Negara yang terlalu kuat secara militer cenderung membatasi kebebasan sipil dan menganggap kritik sebagai ancaman. Padahal, kemajuan negara sangat bergantung pada partisipasi masyarakat, kebebasan berpendapat, serta transparansi dalam pengambilan kebijakan. Tanpa itu, pemerintah berisiko mengambil keputusan yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat.

Dari sisi ekonomi, pengeluaran militer yang besar juga tidak memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat. Berbeda dengan investasi pada pendidikan atau infrastruktur, belanja militer cenderung tidak produktif dalam jangka panjang. Negara-negara maju justru lebih fokus pada inovasi, teknologi, dan penguatan sektor ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan tidak ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi oleh kemampuan mengelola potensi nasional.

Lebih jauh, ketergantungan pada militer juga dapat menciptakan budaya kekuasaan yang represif. Pendekatan yang digunakan lebih mengedepankan kekuatan daripada dialog. Kondisi ini dapat memicu konflik internal dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Padahal, kepercayaan publik merupakan fondasi penting dalam pembangunan yang berkelanjutan.

Sebagai penutup, negara yang terlalu mengandalkan kekuatan militer tidak akan mampu mencapai kemajuan yang seimbang dan berkelanjutan. Argumen mengenai pentingnya pembangunan manusia, demokrasi, dan ekonomi produktif menunjukkan bahwa orientasi militer bukanlah solusi utama. Oleh karena itu, negara perlu menempatkan militer secara proporsional dan lebih fokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kemajuan sejati hanya dapat dicapai melalui keseimbangan antara keamanan, kebebasan, dan pembangunan manusia.

Referensi

United Nations Development Programme. (2020). Human Development Report.

Why Nations Fail – Daron Acemoglu & James A. Robinson (2012).