Pariwisata China: Strategi Halus Membangun Citra Global

Mahasiswa Hubungan internasional Universitas Sriwijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aldi bareto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Coba Kita Lihat, Pariwisata di China Sekarang bukan Lagi sekadar sektor ekonomi Saja, melainkan instrumen strategis untuk membentuk citra global yang lebih positif. Dalam beberapa tahun terakhir ini, China terlihat semakin aktif membuka diri melalui promosi wisata, pembangunan infrastruktur, serta penyederhanaan akses bagi turis asing. Menurut saya, langkah ini bukan kebetulan Saja, melainkan bagian dari strategi halus (soft power) untuk memperkuat pengaruhnya di dunia Untuk Saat ini. Melalui pariwisatanya, China Sekarang berusaha menampilkan wajah yang modern Dari Sebelum nya, aman, dan kaya budaya. Saya berpendapat bahwa pariwisata menjadi alat efektif China dalam membangun legitimasi global melalui pendekatan yang tidak konfrontatif.
Secara konsep, strategi China ini dapat dipahami melalui pendekatan soft power, karena kemampuan suatu negara memengaruhi pihak lain tanpa paksaan, melainkan melalui daya tarik budaya, nilai, dan kebijakan. China tampak memanfaatkan kekayaan sejarah seperti Tembok Besar, Kota Terlarang, hingga destinasi modern seperti Shanghai dan Shenzhen sebagai simbol kemajuan sekaligus identitas nasional. Data dari World Tourism Organization (UNWTO) menunjukkan bahwa sebelum pandemi, China termasuk negara dengan jumlah kunjungan wisatawan internasional terbesar di dunia, mencapai lebih dari 65 juta kunjungan pada 2019. Angka ini menunjukkan bahwa China memiliki daya tarik yang kuat di mata dunia.
Selain itu, pemerintah China secara konsisten berinvestasi besar dalam infrastruktur pariwisata. Pembangunan bandara internasional, kereta cepat, serta digitalisasi layanan wisata membuat pengalaman turis menjadi lebih mudah dan nyaman. Hal ini tidak hanya meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi juga memperkuat persepsi bahwa China adalah negara maju dan efisien. Dalam konteks ini, pariwisata bukan hanya soal kunjungan, tetapi juga pengalaman yang membentuk opini publik global.
Di sisi lain, ada juga promosi budaya menjadi bagian penting dari strategi ini. seperti Festival budaya China, kuliner khas Nya, hingga film Dracin nya dan media digital digunakan untuk memperkenalkan nilai-nilai China ke dunia. Misalnya, meningkatnya popularitas budaya Tionghoa di berbagai negara menunjukkan bahwa pendekatan ini cukup berhasil. Dengan cara ini, China sendiri tidak lagi perlu melakukan propaganda secara langsung, melainkan membiarkan wisatawan dan budaya berbicara sendiri.
Namun, strategi ini juga tidak lepas dari kritik. Beberapa pihak menilai bahwa citra yang dibangun melalui pariwisata sering kali tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi internal China sendiri, seperti isu kebebasan sipil atau kebijakan domestik tertentu. Meski demikian, dalam konteks hubungan internasional, citra positif tetap memiliki dampak signifikan terhadap persepsi dan kerja sama global. Dalam hal ini, China sendiri tampaknya memahami bahwa persoalan persepsi publik internasional bisa menjadi modal penting dalam persaingan global.
Pada akhirnya, pariwisata China sendiri menunjukkan bahwa kekuatan suatu negara tidak selalu ditentukan oleh militer saja atau ekonomi semata, tetapi juga oleh kemampuan membangun citra yang menarik dan meyakinkan. Argumen-argumen di atas menegaskan bahwa pariwisata telah menjadi alat strategis bagi China untuk memperkuat posisinya di dunia melalui pendekatan yang halus namun sangat efektif. Dengan terus mengembangkan sektor ini, China sendiri tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga membangun narasi global tentang siapa mereka dan bagaimana mereka ingin dilihat dunia.
