Mengapa Maling Buku Ini Tak Pernah Ditangkap?

Mahasiswa S1 Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Diah fatih Aristawatii tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak semua pencuri dikejar satpam. Tidak semua kesalahan langsung berakhir di kantor polisi. Dalam cerpen Maling Buku karya Eko Darmoko, seorang anak justru dibiarkan keluar masuk toko buku sambil membawa pulang puluhan buku tanpa pernah dihentikan. Kejadian itu tentu mengundang pertanyaan besar. Mengapa seorang pemilik toko rela membiarkan dirinya terus mengalami kerugian?
Rasa penasaran itulah yang membuat cerpen ini berbeda dari kisah kriminal pada umumnya. Pembaca tidak hanya disuguhi cerita tentang seorang remaja yang gemar mencuri, tetapi juga diajak menyelami sisi kemanusiaan yang perlahan muncul di balik setiap peristiwa. Eko Darmoko menghadirkan cerita sederhana, tetapi mampu menyimpan kejutan emosional yang membuat pembaca sulit melupakan akhir kisahnya.
Tokoh utama dalam cerpen ini adalah Badrus, remaja berusia lima belas tahun yang memiliki kebiasaan tidak biasa. Di sela-sela aktivitas sekolah, mengaji, bermain, dan menonton sepak bola, ia justru menikmati kegiatan mencuri buku. Bahkan dengan jujur ia mengatakan bahwa membaca buku hasil curian terasa jauh lebih nikmat dibandingkan membaca buku yang dibeli sendiri. Pengakuan tersebut memang terdengar keliru, tetapi sekaligus memperlihatkan bahwa kecintaannya terhadap buku begitu besar.
Yang menarik, Badrus tidak mencuri untuk mencari keuntungan. Buku-buku yang dibawanya pulang benar-benar dibaca hingga selesai. Ia menikmati karya-karya sastra seperti Atheis karya Achdiat K. Mihardja dan Sayap-Sayap Patah karya Kahlil Gibran. Detail ini menunjukkan bahwa pengarang sengaja membangun ironi. Tokoh yang melakukan tindakan salah justru memiliki semangat belajar yang tinggi. Di sinilah pembaca mulai dihadapkan pada dilema: membenci tindakan Badrus, tetapi sekaligus memahami kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan.
Menurut Burhan Nurgiyantoro, cerpen memiliki satu tema utama yang menjadi pusat seluruh peristiwa. Karena bentuknya yang singkat, konflik, tokoh, dan unsur lain saling mendukung untuk menguatkan satu gagasan pokok sehingga cerita terasa padu. Dengan kata lain, semua kejadian yang muncul dalam cerpen diarahkan untuk memperkuat makna yang ingin disampaikan pengarang.
Hal tersebut tampak jelas dalam Maling Buku. Sejak awal hingga akhir, seluruh konflik bergerak menuju satu persoalan, yaitu pergulatan batin seorang anak yang perlahan menyadari kesalahannya. Tidak ada konflik tambahan yang mengalihkan perhatian pembaca. Semua adegan, termasuk kebiasaan Badrus mencuri, sikap para pegawai, hingga kemunculan putri Cik Lilis, saling berkaitan untuk memperkuat perubahan psikologis tokoh utama.
Nurgiyantoro juga menjelaskan bahwa tokoh dalam karya fiksi dikenali melalui tindakan, dialog, serta konflik yang dialaminya. Dari sanalah pembaca memahami watak sekaligus perkembangan kepribadian tokoh sepanjang cerita. Tokoh yang baik bukan sekadar hadir dalam cerita, tetapi mengalami perubahan yang masuk akal sesuai dengan konflik yang dihadapi.
Konsep tersebut terlihat pada diri Badrus. Pada awal cerita ia digambarkan sebagai remaja yang percaya diri melakukan pencurian. Berkali-kali ia berhasil memasukkan buku ke dalam tas tanpa sedikit pun dicurigai. Namun, keberanian itu sebenarnya perlahan berubah menjadi kegelisahan. Ia mulai merasa heran mengapa setiap kali meninggalkan toko, Cik Lilis selalu memberikan senyum hangat kepadanya. Senyum itu menjadi beban yang diam-diam mengganggu hati nuraninya.
Di sisi lain, Eko Darmoko menghadirkan sosok Cik Lilis sebagai tokoh yang memberikan warna berbeda dalam cerita. Ketika para pegawai meminta izin untuk menangkap Badrus, ia justru berkata, "Jangan! Biarkan saja." Keputusan tersebut terasa bertentangan dengan logika pemilik usaha. Akan tetapi, di balik sikap itu tersimpan pandangan hidup yang sangat dalam. Cik Lilis tidak ingin terburu-buru menghakimi seorang anak yang belum sepenuhnya ia pahami.
Pernyataannya kepada sang putri menjadi salah satu dialog paling kuat dalam cerpen, "Lebih baik maling buku daripada maling uang rakyat." Kalimat ini bukan pembenaran terhadap tindakan mencuri, melainkan sindiran sosial yang tajam. Pengarang ingin menunjukkan bahwa masyarakat sering kali lebih mudah marah kepada pelaku kejahatan kecil, tetapi lupa bahwa ada kejahatan yang jauh lebih besar dan berdampak luas terhadap kehidupan banyak orang.
Puncak cerita hadir ketika Badrus akhirnya tertangkap oleh putri Cik Lilis. Berbeda dengan ibunya, perempuan itu tidak mau lagi membiarkan pencurian terus terjadi. Ia membongkar semua perbuatan Badrus di depan para pegawai dan pengunjung toko. Dalam keadaan malu dan tidak berdaya, Badrus justru menanyakan satu hal yang tidak berkaitan dengan dirinya. Ia bertanya ke mana perginya perempuan tua yang selalu menyambutnya dengan senyum.
Jawaban yang diterimanya menjadi titik balik cerita. Putri Cik Lilis berkata, "Malaikatmu sudah di langit. Dia ibuku." Tidak lama kemudian ia melanjutkan, "Ibuku berhati malaikat. Dia sengaja membiarkanmu mencuri buku." Kalimat tersebut menjadi pukulan paling keras bagi Badrus. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya tidak pernah berhasil mengelabui siapa pun. Semua pencurian yang dilakukan sebenarnya telah diketahui sejak awal.
Menurut saya, inilah bagian paling menyentuh dalam cerpen Maling Buku. Air mata Badrus bukan muncul karena ia dipermalukan di depan banyak orang, melainkan karena mengetahui bahwa orang yang selama ini ia rugikan justru memilih membalasnya dengan kebaikan. Penyesalan yang lahir dari belas kasih terasa jauh lebih dalam dibandingkan penyesalan yang muncul karena hukuman.
Cerpen ini juga mengingatkan bahwa perubahan manusia sering kali tidak terjadi karena rasa takut, tetapi karena sentuhan hati. Cik Lilis tidak pernah mengucapkan nasihat panjang kepada Badrus. Ia hanya memberikan kesempatan, senyum, dan kepercayaan. Tanpa disadari, sikap sederhana itulah yang akhirnya mengubah cara pandang seorang anak terhadap dirinya sendiri.
Di tengah kehidupan saat ini, ketika media sosial dipenuhi budaya menghakimi dan memberi cap buruk kepada seseorang hanya dari satu kesalahan, pesan yang dibawa Maling Buku terasa semakin relevan. Cerpen ini mengajak pembaca untuk tetap memegang prinsip bahwa kesalahan memang harus dihentikan, tetapi empati juga tidak boleh dihilangkan. Memahami seseorang bukan berarti membenarkan perbuatannya, melainkan memberi ruang bagi kemungkinan bahwa manusia masih bisa berubah menjadi lebih baik.
Pada akhirnya, Maling Buku bukan hanya cerita tentang seorang anak yang mencuri buku. Cerpen ini adalah kisah tentang penyesalan, kesempatan kedua, dan keyakinan bahwa kebaikan masih memiliki kekuatan untuk mengubah manusia. Itulah yang membuat cerita ini terus membekas setelah halaman terakhir ditutup. Bukan aksi mencurinya yang paling diingat, melainkan sosok perempuan berhati lembut yang memilih menanamkan nilai kemanusiaan melalui belas kasih. Di tengah dunia yang semakin mudah menghakimi, kisah seperti ini mengingatkan bahwa perubahan terbesar sering kali lahir dari satu sikap sederhana: memperlakukan manusia sebagai manusia.
Daftar Pustaka
Darmoko, E. (2026, 11 April). Maling Buku. Kompas.
Nurgiyantoro, B. (2015). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
