Dilema Urbanisasi: Kota Ramah Pendatang, tapi Kehabisan Ruang

Saya Diah Nastiti Amiarti Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Diah Nastiti Amiarti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tahun, jutaan orang meninggalkan kampung halaman menuju kota. Membawa harapan, membawa tekad, dan tidak jarang membawa seluruh isi tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun. Kota memang menjanjikan sesuatu yang sulit ditemukan di desa — lapangan kerja, akses pendidikan, fasilitas kesehatan, dan kesempatan yang terasa lebih terbuka.
Namun kota juga menyimpan kenyataan yang tidak selalu terlihat dari jauh. Bahwa ruang semakin sempit. Bahwa harga semakin tinggi. Dan bahwa tidak semua orang yang datang dengan harapan besar akan menemukan tempat yang layak untuk berpijak.
Urbanisasi yang Tidak Pernah Berhenti
Indonesia adalah salah satu negara dengan laju urbanisasi tercepat di Asia Tenggara. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar terus menerima gelombang pendatang baru setiap tahunnya dan tren ini tidak menunjukkan tanda-tanda akan melambat dalam waktu dekat.
Di satu sisi, urbanisasi adalah tanda bahwa kota masih dipercaya sebagai tempat di mana kehidupan yang lebih baik bisa diraih. Di sisi lain, ia adalah tekanan besar terhadap infrastruktur, layanan publik, dan ruang yang tersedia. Kota-kota itu tumbuh lebih cepat dari kemampuannya untuk mengakomodasi semua yang datang dengan bermartabat.
Ketika Harapan Bertabrakan dengan Kenyataan
Tidak sedikit pendatang yang tiba di kota dengan gambaran yang berbeda dari kenyataan yang mereka temui. Harga sewa tempat tinggal yang jauh melampaui kemampuan finansial awal. Persaingan kerja yang jauh lebih ketat dari yang dibayangkan. Biaya hidup yang terus merangkak naik sementara penghasilan belum tentu mengikuti.
Akibatnya, sebagian besar pendatang baru terutama mereka yang datang tanpa modal dan jaringan yang kuat terpaksa menetap di kawasan yang paling terjangkau, yang seringkali berarti kawasan yang paling padat, paling minim fasilitas, dan paling rentan terhadap berbagai persoalan sosial. Permukiman informal tumbuh di pinggiran kota, di bantaran sungai, di lahan-lahan yang secara hukum tidak semestinya dihuni.
Kota yang Tidak Dirancang untuk Semua
Di sinilah letak persoalan yang lebih mendasar. Kota-kota besar Indonesia sebagian besar masih dibangun dan direncanakan dengan logika yang lebih berpihak pada mobilitas kendaraan pribadi, kawasan komersial, dan hunian kelas menengah ke atas. Transportasi publik yang terjangkau dan menjangkau seluruh wilayah kota masih menjadi mimpi di banyak daerah. Hunian layak dengan harga yang bisa dijangkau pekerja berpenghasilan rendah masih sangat terbatas.
Pendatang baru yang datang dengan harapan besar kerap menemukan bahwa kota sebenarnya tidak dirancang untuk menyambut mereka — setidaknya tidak dalam artian yang sesungguhnya. Mereka diterima sebagai tenaga kerja, sebagai konsumen, sebagai angka dalam statistik pertumbuhan ekonomi. Tapi tidak selalu sebagai warga yang berhak atas kota yang mereka turut bangun dengan keringat mereka sendiri.
Beban yang Ditanggung Bersama
Urbanisasi yang tidak terkelola dengan baik pada akhirnya menjadi beban yang ditanggung semua pihak. Warga lama merasakan kemacetan yang semakin parah, layanan publik yang semakin terbebani, dan biaya hidup yang terus naik. Pendatang baru berjuang di tengah keterbatasan yang tidak mereka antisipasi. Dan pemerintah kota menghadapi tekanan untuk menyediakan layanan bagi populasi yang terus bertambah dengan anggaran dan kapasitas yang tidak selalu memadai.
Tidak ada yang bisa disalahkan sepenuhnya dalam dinamika ini. Orang yang pindah ke kota demi kehidupan yang lebih baik tidak bisa disalahkan atas pilihannya. Kota yang menjadi magnet pertumbuhan tidak bisa begitu saja menutup pintu. Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa ketimpangan antara kota dan desa masih begitu dalam sehingga urbanisasi besar-besaran terasa seperti satu-satunya pilihan bagi jutaan orang.
Desa yang Perlu Lebih Diperhatikan
Solusi jangka panjang urbanisasi yang tidak terkendali bukan terletak di kota melainkan di desa. Selama fasilitas kesehatan, pendidikan berkualitas, lapangan kerja, dan infrastruktur masih terkonsentrasi di perkotaan, arus perpindahan penduduk tidak akan pernah benar-benar melambat hanya dengan kebijakan di tingkat kota.
Investasi yang serius di kawasan rural dan daerah-daerah yang selama ini tertinggal adalah kunci untuk menciptakan keseimbangan yang lebih adil. Bukan berarti desa harus menjadi kota tapi warga desa seharusnya tidak perlu meninggalkan kampung halamannya hanya untuk mendapatkan akses terhadap kehidupan yang layak.
Merawat Kota untuk Semua
Pada akhirnya, kota yang baik adalah kota yang mampu merawat semua warganya bukan hanya mereka yang sudah lama tinggal di sana, bukan hanya mereka yang datang dengan modal besar, tapi juga mereka yang datang dengan tangan kosong dan harapan yang besar.
Urbanisasi tidak akan berhenti. Yang bisa diubah adalah bagaimana kota menyiapkan diri untuk menerimanya dengan perencanaan yang lebih inklusif, kebijakan yang lebih berpihak pada yang rentan, dan visi pembangunan yang tidak hanya mengukur kemajuan dari gedung tertinggi atau mal terbesar, tetapi dari seberapa layak hidup seluruh warganya.
