FOMO: Ketika Takut Tertinggal Justru Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

Saya Diah Nastiti Amiarti Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Diah Nastiti Amiarti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era media sosial yang berkembang sangat cepat, hampir setiap orang pernah merasakan keinginan untuk selalu mengikuti apa yang sedang terjadi di sekitar mereka. Mulai dari tren terbaru, tempat wisata yang sedang viral, hingga gaya hidup yang dipamerkan oleh para influencer. Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out atau FOMO, yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman, informasi, atau kesenangan yang sedang dinikmati orang lain.
Sekilas, FOMO mungkin terlihat sebagai hal yang wajar. Manusia memang memiliki kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan sosialnya. Namun, ketika rasa takut tertinggal mulai mengendalikan keputusan sehari-hari, FOMO dapat berubah menjadi masalah yang memengaruhi kesehatan mental, hubungan sosial, bahkan kondisi keuangan seseorang.
Media sosial menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat fenomena ini. Setiap hari kita disuguhi berbagai unggahan tentang pencapaian, liburan mewah, barang baru, atau momen bahagia orang lain. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan kehidupan sendiri dengan apa yang terlihat di layar. Padahal, yang ditampilkan di media sosial sering kali hanyalah bagian terbaik dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh dari kenyataan yang mereka jalani.
Akibatnya, banyak orang merasa hidupnya kurang menarik, kurang sukses, atau kurang bahagia dibandingkan orang lain. Perasaan tersebut dapat memicu kecemasan, menurunkan rasa percaya diri, hingga membuat seseorang terus-menerus mengecek ponsel karena takut melewatkan sesuatu yang penting. Bahkan tidak sedikit yang rela mengeluarkan uang di luar kemampuan hanya demi mengikuti tren agar tidak dianggap ketinggalan zaman.
Fenomena ini menunjukkan bahwa FOMO bukan sekadar persoalan teknologi, tetapi juga persoalan cara pandang terhadap diri sendiri. Ketika kebahagiaan diukur berdasarkan kehidupan orang lain, seseorang akan sulit merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Padahal setiap individu memiliki perjalanan hidup, tantangan, dan prioritas yang berbeda.
Menurut saya, salah satu cara terbaik untuk menghadapi FOMO adalah dengan membangun kesadaran bahwa tidak semua hal harus diikuti. Tidak semua acara harus dihadiri, tidak semua tren harus dicoba, dan tidak semua pencapaian orang lain harus dijadikan standar hidup kita. Belajar bersyukur atas apa yang dimiliki serta fokus pada tujuan pribadi jauh lebih penting daripada terus mengejar validasi sosial.
Konsep JOMO atau Joy of Missing Out menjadi alternatif yang menarik untuk diterapkan. JOMO mengajarkan bahwa melewatkan sesuatu bukanlah sebuah kegagalan. Justru ada kebahagiaan ketika seseorang mampu menikmati waktu, energi, dan sumber daya yang dimilikinya tanpa tekanan untuk selalu mengikuti arus. Di tengah budaya yang menuntut kita untuk selalu mengikuti perkembangan terbaru, JOMO mengingatkan bahwa ketenangan sering kali hadir ketika kita berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan mulai fokus pada apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri.
Pada akhirnya, FOMO adalah tantangan nyata di era digital yang perlu disikapi dengan bijak. Teknologi dan media sosial seharusnya menjadi alat untuk mendukung kehidupan, bukan sumber kecemasan yang mengendalikan pikiran. Kebahagiaan tidak ditentukan oleh seberapa banyak tren yang kita ikuti, melainkan oleh kemampuan kita menghargai kehidupan yang sedang dijalani saat ini.
Diah Nastiti Amiarti Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
