Konten dari Pengguna

Ketika Sopan Santun Mulai Terasa Asing di Ruang Publik

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Diah Nastiti Amiarti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sopan santun. (Sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sopan santun. (Sumber: shutterstock.com).

Pernahkah kamu merasa tidak nyaman ketika orang di sekitarmu bertindak seolah keberadaanmu tidak penting? Banyak orang terbiasa bersikap baik kepada keluarga dan teman, tetapi lupa menunjukkan hal yang sama kepada orang lain di sekitar mereka. Padahal, sopan santun bukan hanya milik hubungan pribadi ia adalah bagian dari cara kita hidup bersama sebagai masyarakat.

Ketika "Permisi" Menjadi Kata yang Langka

Di berbagai situasi sehari-hari, sikap saling mengabaikan sudah terasa biasa. Orang berjalan tanpa mengucapkan "permisi", tidak memperhatikan orang lain yang membutuhkan bantuan, dan berbicara keras tanpa mempedulikan kenyamanan sekitar. Kata-kata sederhana seperti "tolong" dan "terima kasih" pun semakin jarang terdengar.

Yang lebih memprihatinkan, perilaku ini tidak hanya terjadi pada satu kelompok atau generasi tertentu. Ia terjadi di mana-mana dan pada siapa saja, seolah sudah menjadi kebiasaan yang diterima begitu saja. Tidak ada yang merasa perlu mengubahnya karena semua orang sudah terbiasa bersikap demikian.

Ketergantungan pada ponsel turut memperparah keadaan ini. Ketika seseorang terus menatap layar, perhatiannya terputus dari lingkungan sekitar. Ia bisa berada di tengah keramaian, tetapi pikirannya sepenuhnya berada di tempat lain. Ini bukan soal salah atau benarnya teknologi, tetapi soal bagaimana kita memilih menggunakannya di tengah orang lain.

Ruang Publik Adalah Ujian Peradaban

Menurut saya, cara sebuah masyarakat memperlakukan orang yang tidak mereka kenal adalah ukuran paling jujur dari peradabannya. Di lingkungan keluarga dan sahabat, hampir semua orang bisa bersikap ramah dan penuh perhatian. Tetapi ketika berhadapan dengan orang asing, di mana tidak ada ikatan emosional dan tidak ada keuntungan yang bisa didapat dari sebuah senyuman di situlah karakter seseorang dan sebuah bangsa benar-benar diuji.

Ketika sopan santun mulai terasa asing, yang rusak bukan hanya suasana. Yang rusak adalah rasa saling percaya bahwa kita masih bisa hidup berdampingan dengan baik. Kepercayaan sosial itu tidak tumbuh dari hal-hal besar, melainkan dari kebiasaan kecil yang kita lakukan setiap hari terhadap orang-orang di sekitar kita.

Bukan Nostalgia, Melainkan Pilihan

Memulihkan sopan santun bukan berarti merindukan masa lalu yang mungkin tidak pernah sesempurna yang kita bayangkan. Ini soal pilihan yang kita buat setiap hari mengucapkan "permisi" saat melewati orang lain, memberikan tempat duduk kepada yang lebih membutuhkan, atau sekadar tidak mengabaikan orang yang membutuhkan bantuan.

Hal-hal kecil itu tidak membutuhkan usaha yang besar. Tetapi jika dilakukan secara konsisten, dampaknya nyata. Satu sikap sopan dapat mengubah suasana, dan suasana yang berubah dapat mengubah kebiasaan banyak orang. Selama kita masih mau memilih untuk peduli, perubahan itu selalu mungkin terjadi.