Konten dari Pengguna

Memutus Rantai Trauma: Mengapa Pola Asuh Gen Z Sering Disalahpahami?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Diah Nastiti Amiarti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang yang berusaha menghadapi luka emosional (Sumber: shutterstock.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang yang berusaha menghadapi luka emosional (Sumber: shutterstock.com)

"Anak zaman sekarang terlalu dimanjakan." Kalimat itu rasanya sudah seperti mantra yang diulang setiap kali generasi yang lebih tua melihat cara Gen Z mendidik anak mereka. Tidak ada konsekuensi, tidak ada kekerasan, tidak ada hukuman fisik dan itu dianggap kelemahan.

Padahal yang sedang dilakukan Gen Z justru sesuatu yang butuh keberanian luar biasa: memutus rantai trauma yang sudah diwariskan turun-temurun.

Apa yang Dimaksud Memutus Rantai Trauma?

Banyak dari kita tumbuh di lingkungan di mana kekerasan verbal dan fisik dianggap normal. Dimarahi keras supaya "kapok." Dipukul supaya disiplin. Dibanding-bandingkan supaya termotivasi. Dan karena kita tumbuh baik-baik saja setidaknya secara kasat mata kita pikir cara itu tidak masalah.

Tapi ilmu psikologi sudah lama membuktikan sebaliknya. Pola asuh yang penuh tekanan, ancaman, dan hukuman fisik meninggalkan jejak di otak anak jauh lebih dalam dari yang terlihat. Anak tumbuh dengan kecemasan yang tidak bernama, kesulitan mengatur emosi, dan hubungan yang tidak sehat lalu mewariskan semua itu ke generasi berikutnya tanpa sadar.

Gen Z adalah generasi pertama yang cukup banyak mengakses informasi tentang hal ini. Mereka tumbuh bersama internet, terpapar diskusi soal attachment theory, inner child, dan emotional intelligence sejak remaja. Dan ketika mereka menjadi orang tua, mereka memilih untuk melakukan hal yang berbeda.

Kenapa Disalahpahami?

Masalahnya, perubahan ini tidak selalu mudah dibaca dari luar. Ketika seorang ibu muda memilih tidak membentak anaknya yang sedang tantrum melainkan duduk, memeluk, dan menvalidasi perasaannya orang di sekitarnya melihat itu sebagai kelemahan. Anak tidak diajari batas. Anak tidak dididik dengan tegas.

Padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Memilih tidak berteriak saat kamu sendiri ingin berteriak itu bukan hal yang mudah. Menahan diri dari pola yang sudah tertanam sejak kecil butuh kerja keras yang tidak terlihat.

Selain itu, Gen Z juga kerap dituduh terlalu "baper" soal parenting. Terlalu banyak mikir. Terlalu ikut-ikutan tren dari media sosial. Padahal referensi yang mereka gunakan bukan sekadar konten viral banyak yang berbasis riset dan rekomendasi para ahli perkembangan anak.

Bukan Berarti Tanpa Batas

Penting untuk meluruskan satu hal: pola asuh sadar yang dipilih banyak orang tua muda bukan berarti tanpa aturan. Conscious parenting bukan berarti anak boleh melakukan apa saja. Batas tetap ada hanya saja cara menyampaikannya berbeda. Bukan dengan ancaman, tapi dengan penjelasan. Bukan dengan hukuman, tapi dengan konsekuensi yang logis dan konsisten.

Anak yang dibesarkan dengan pola seperti ini justru cenderung lebih mampu memahami alasan di balik sebuah aturan, bukan sekadar patuh karena takut.

Yang Paling Berat Justru Tidak Terlihat

Satu hal yang jarang dibicarakan: memutus rantai trauma itu melelahkan secara emosional. Gen Z yang memilih jalan ini seringkali harus berjuang dalam diam menghadapi komentar dari orang tua, mertua, bahkan tetangga yang merasa cara lama lebih terbukti. Mereka harus terus belajar, terus refleksi diri, dan terus sabar di tengah tekanan sosial yang tidak kecil.

Belum lagi harus menghadapi trigger dari masa kecil mereka sendiri yang muncul di saat-saat paling tidak terduga ketika anak menangis, ketika anak membantah, ketika semuanya terasa di luar kendali.