Konten dari Pengguna

Mengapa Kita Takut Membuat Kesalahan Sekecil Apa Pun?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Diah Nastiti Amiarti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Seseorang yang Diliputi Pikiran Berlebihan dan Takut Melakukan Kesalahan. (sumber : AI GENERATED)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Seseorang yang Diliputi Pikiran Berlebihan dan Takut Melakukan Kesalahan. (sumber : AI GENERATED)

Kesalahan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Namun, belakangan ini banyak orang justru menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang harus dihindari dengan segala cara. Salah mengirim pesan, salah memilih jurusan, salah mengambil pekerjaan, bahkan salah mengunggah konten di media sosial bisa memicu kecemasan yang berlebihan. Akibatnya, banyak orang lebih sibuk menghindari kesalahan daripada berani mengambil langkah.

Fenomena ini semakin mudah ditemui di era digital. Media sosial membuat setiap tindakan terasa seperti berada di bawah pengawasan. Kesalahan kecil dapat direkam, dibagikan, lalu menjadi konsumsi publik dalam hitungan menit. Tidak mengherankan jika banyak orang akhirnya berpikir berkali-kali sebelum bertindak. Mereka takut dikritik, takut dianggap tidak kompeten, atau takut menjadi bahan perbincangan.

Di sisi lain, budaya yang mengagungkan kesempurnaan ikut memperkuat ketakutan tersebut. Sejak kecil, banyak orang dibiasakan bahwa nilai tinggi harus dipertahankan, keputusan harus tepat, dan kegagalan adalah sesuatu yang memalukan. Padahal, tidak ada manusia yang mampu membuat keputusan benar setiap saat. Ketika standar yang dibangun terlalu tinggi, kesalahan kecil pun terasa seperti bencana besar.

Kondisi ini sering berkembang menjadi kebiasaan berpikir berlebihan atau overthinking. Seseorang terus mengulang kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi, berharap menemukan keputusan yang benar-benar aman. Padahal, semakin lama seseorang mencari kepastian, semakin sulit pula ia mengambil keputusan. Bukan karena pilihannya buruk, melainkan karena ia takut menghadapi kemungkinan salah.

Ironisnya, rasa takut terhadap kesalahan justru membuat seseorang kehilangan banyak kesempatan. Kesempatan belajar, mencoba hal baru, bahkan kesempatan berkembang sering terlewat karena terlalu lama menunggu waktu yang dianggap sempurna. Tidak sedikit orang yang akhirnya menyesali kesempatan yang tidak pernah mereka ambil, bukan karena gagal, tetapi karena tidak pernah berani memulai.

Padahal, hampir semua pencapaian besar lahir melalui proses yang penuh percobaan dan kesalahan. Tidak ada pengusaha, peneliti, atlet, maupun seniman yang berhasil tanpa pernah mengambil keputusan yang keliru. Kesalahan bukan bukti bahwa seseorang tidak mampu, melainkan bagian dari proses memperbaiki diri.

Yang perlu diubah bukanlah keinginan untuk menjadi lebih baik, melainkan cara kita memandang kesalahan. Selama kesalahan dianggap sebagai akhir dari segalanya, rasa takut akan terus menguasai setiap keputusan. Namun ketika kesalahan dipahami sebagai bagian dari proses belajar, keberanian untuk melangkah akan tumbuh dengan sendirinya.

Barangkali persoalan terbesar bukan karena kita terlalu sering gagal, melainkan karena kita hidup dalam budaya yang menuntut semua orang selalu benar. Padahal, manusia tidak pernah diciptakan untuk menjadi sempurna. Yang membuat seseorang berkembang bukan kemampuannya menghindari kesalahan, tetapi kesediaannya untuk belajar setiap kali kesalahan itu datang.