Konten dari Pengguna

Mengapa Manusia Sulit Mengubah Kebiasaan yang Merugikan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Diah Nastiti Amiarti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Persimpangan Kebiasaan. (Sumber: AI GENERATED)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Persimpangan Kebiasaan. (Sumber: AI GENERATED)

Hampir setiap orang pernah menyadari bahwa ada kebiasaan dalam hidupnya yang seharusnya diubah. Menunda pekerjaan, tidur terlalu larut, terlalu sering menggunakan media sosial, atau mengabaikan kesehatan merupakan contoh yang banyak dialami. Menariknya, kesadaran bahwa suatu kebiasaan tidak baik ternyata tidak selalu membuat seseorang mampu menghentikannya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan tidak hanya bergantung pada pengetahuan. Banyak orang sudah memahami apa yang perlu dilakukan, tetapi tetap kesulitan melakukannya secara konsisten. Perbedaan antara mengetahui dan menjalankan sering kali jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.

Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan terbentuk melalui pengulangan. Aktivitas yang dilakukan terus-menerus akan menjadi pola yang dijalankan secara otomatis tanpa banyak pertimbangan. Semakin lama sebuah kebiasaan bertahan, semakin sedikit energi yang diperlukan untuk melakukannya. Karena itu, mengubah kebiasaan bukan sekadar mengganti tindakan, tetapi juga mengubah pola yang sudah tertanam dalam kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, banyak kebiasaan yang merugikan tetap dipertahankan karena memberikan manfaat dalam jangka pendek. Meskipun dampaknya kurang baik untuk masa depan, kebiasaan tersebut sering kali menawarkan rasa nyaman, hiburan, atau kelegaan yang dapat dirasakan saat itu juga. Akibatnya, manfaat jangka panjang dari perubahan terasa kalah menarik dibanding kenyamanan yang tersedia pada saat ini.

Cara pandang terhadap perubahan juga turut memengaruhi proses tersebut. Tidak sedikit orang yang berharap perubahan dapat terjadi secara cepat dan menyeluruh. Ketika hasilnya tidak segera terlihat, muncul anggapan bahwa usaha yang dilakukan tidak berhasil. Padahal, perubahan kebiasaan umumnya berlangsung secara bertahap dan membutuhkan pengulangan yang konsisten sebelum benar-benar menjadi bagian dari kehidupan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar dalam mengubah kebiasaan bukan sekadar melawan rasa malas atau kurangnya niat. Tantangan utamanya adalah membangun pola baru yang mampu menggantikan pola lama. Selama kebiasaan lama masih menjadi pilihan yang paling mudah dan paling nyaman, perubahan akan terus terasa berat untuk dipertahankan.

Mungkin, yang perlu diubah bukan hanya perilaku yang tampak di permukaan, tetapi juga cara kita memahami proses perubahan itu sendiri. Sebab, perubahan yang bertahan lama biasanya tidak lahir dari langkah yang besar, melainkan dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus diulang hingga akhirnya menjadi bagian dari diri kita.