Mengapa Standar Kesuksesan Terasa Semakin Tinggi?

Saya Diah Nastiti Amiarti Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Diah Nastiti Amiarti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesuksesan pada dasarnya merupakan konsep yang terus berubah. Apa yang dahulu dianggap sebagai pencapaian besar, kini sering kali dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Memperoleh pekerjaan tetap, menyelesaikan pendidikan, atau memiliki tempat tinggal pernah menjadi simbol keberhasilan bagi banyak orang. Namun, saat ini, pencapaian tersebut kerap dianggap belum cukup jika tidak disertai berbagai target lain yang lebih tinggi.
Fenomena ini semakin terlihat di tengah masyarakat yang terus memperlihatkan berbagai bentuk pencapaian. Informasi mengenai promosi jabatan, bisnis yang berkembang, pendidikan di luar negeri, hingga kebebasan finansial hadir hampir setiap hari. Tanpa disadari, keberhasilan yang awalnya hanya menjadi inspirasi perlahan berubah menjadi standar baru yang dianggap wajar untuk dicapai.
Akibatnya, ukuran kesuksesan tidak lagi bersifat tetap. Ketika seseorang berhasil mencapai satu tujuan, muncul harapan untuk segera mencapai tujuan berikutnya. Pencapaian yang sebelumnya membanggakan menjadi terasa biasa karena perhatian telah beralih pada standar yang lebih tinggi. Rasa puas pun semakin sulit bertahan karena selalu ada target baru yang tampak lebih besar.
Di sisi lain, masyarakat juga semakin sering menilai keberhasilan melalui hasil yang mudah terlihat. Proses panjang, kegagalan, dan berbagai keterbatasan yang menyertai perjalanan seseorang tidak selalu memperoleh perhatian yang sama. Hal ini menciptakan kesan bahwa keberhasilan merupakan sesuatu yang dapat diraih secara cepat, padahal setiap orang menghadapi kondisi dan kesempatan yang berbeda.
Cara pandang tersebut dapat memengaruhi cara seseorang menghargai dirinya sendiri. Tidak sedikit yang merasa belum berhasil meskipun telah mencapai berbagai tujuan yang dahulu dianggap sebagai impian. Bukan karena pencapaiannya tidak berarti, melainkan karena standar yang digunakan untuk menilai keberhasilan terus bergerak mengikuti lingkungan di sekitarnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi bukan semata-mata semakin sulitnya meraih kesuksesan, tetapi semakin tingginya ukuran yang digunakan untuk mendefinisikan kesuksesan itu sendiri. Selama keberhasilan selalu diukur berdasarkan pencapaian yang paling tinggi atau paling mencolok, akan selalu ada alasan untuk merasa belum cukup.
Mungkin, yang perlu ditinjau kembali bukan seberapa jauh kita tertinggal dari standar yang terus berubah, melainkan siapa yang sebenarnya menetapkan standar tersebut. Sebab, kesuksesan yang benar-benar bermakna bukan hanya tentang memenuhi harapan yang dibentuk oleh lingkungan, tetapi juga tentang mencapai tujuan yang sesuai dengan nilai dan arah hidup yang dipilih oleh diri sendiri.
