Sekolah Mengajarkan Menghafal, Bukan Berpikir

Saya Diah Nastiti Amiarti Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Diah Nastiti Amiarti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masih ingat bagaimana kita belajar di sekolah dulu? Guru menulis di papan tulis, murid menyalin, lalu menghafalnya menjelang ujian. Selesai ujian, selesai juga ingatannya. Siklus ini berulang selama dua belas tahun dan anehnya, kita menganggap itu wajar.
Padahal ada yang salah besar di sana.
Sistem pendidikan kita selama ini terlalu sibuk mengisi kepala anak dengan informasi, tapi lupa mengajari mereka cara menggunakannya. Anak-anak diajarkan apa jawabannya, bukan mengapa jawabannya begitu. Mereka tahu rumus kuadrat, tapi tak tahu kapan dan untuk apa rumus itu dipakai. Mereka hafal tanggal proklamasi, tapi tidak diajak bertanya: mengapa kemerdekaan itu begitu mahal harganya?
Ujian sebagai Tujuan, Bukan Alat
Salah satu akar masalahnya adalah cara kita memandang ujian. Di banyak sekolah, ujian bukan alat ukur pemahaman ia adalah tujuan utama. Semua energi belajar diarahkan untuk lulus ujian, meraih nilai tinggi, masuk ranking. Akibatnya, siswa belajar untuk tes, bukan untuk hidup.
Ketika ujian selesai, pengetahuan itu tidak lagi relevan. Dan ketika mereka masuk dunia kerja atau kuliah, mereka bingung karena tiba-tiba dituntut berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berinovasi hal-hal yang tidak pernah benar-benar dilatih di bangku sekolah.
Guru Pun Terjebak dalam Sistem yang Sama
Tidak adil jika kita hanya menyalahkan guru. Banyak guru yang sebenarnya ingin mengajar lebih kreatif, lebih kontekstual, lebih mendalam. Tapi mereka juga terjebak: target kurikulum yang padat, tuntutan nilai rata-rata kelas, administrasi yang menyita waktu, serta evaluasi kinerja yang diukur dari angka-angka.
Guru yang berani keluar dari pakem sering kali justru dipertanyakan dianggap tidak mengikuti kurikulum, membingungkan siswa, atau melambat. Sistem ini tidak memberi ruang bagi inovasi mengajar.
Apa yang Seharusnya Diajarkan?
Berpikir kritis bukan berarti anak harus jadi filsuf. Sederhana saja: ajari mereka bertanya. Ajari mereka mempertanyakan informasi yang mereka terima, membandingkan sudut pandang, dan menarik kesimpulan sendiri.
Negara-negara dengan sistem pendidikan terbaik Finlandia misalnya tidak mengukur keberhasilan dari seberapa banyak yang dihafal siswa, melainkan dari seberapa dalam mereka memahami dan seberapa percaya diri mereka memecahkan masalah yang belum pernah mereka temui sebelumnya.
Perubahan Harus dari Dua Arah
Reformasi pendidikan tidak bisa hanya datang dari atas dari Kemendikbud dengan kurikulum barunya yang berganti setiap beberapa tahun. Perubahan juga harus datang dari bawah: dari guru yang berani mengajar berbeda, dari orang tua yang tidak hanya mengejar rapor, dan dari siswa yang berani bertanya "mengapa" di kelas.
Kurikulum Merdeka yang digaungkan beberapa tahun terakhir sejatinya membuka pintu ke arah yang lebih baik. Tapi pintu terbuka saja tidak cukup kita semua perlu berani melangkah masuk.
