Konten dari Pengguna

Gandrung Sewu Makin Megah, Siapa yang Benar-Benar Diuntungkan?

Diajeng Dias Pramesty

Diajeng Dias Pramesty

Mahasiswi Universitas Jember

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Diajeng Dias Pramesty tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Ilustrasi hasil Generate AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Ilustrasi hasil Generate AI

Banyuwangi kembali bersiap menggelar Gandrung Sewu pada 24 Oktober 2026. Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, pertunjukan tari kolosal yang menjadi ikon budaya Banyuwangi ini akan digelar pada malam hari untuk pertama kalinya dalam 14 tahun penyelenggaraan. Dengan melibatkan lebih dari 1.000 penari dan menghadirkan tata cahaya, Gandrung Sewu tahun ini menawarkan pengalaman baru bagi penonton. (Sumber: Pemkab Banyuwangi)

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa tradisi tidak harus berhenti pada cara penyajian yang sama. Inovasi dapat menjadi jalan untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda sekaligus menarik perhatian wisatawan. Namun, di balik pertunjukan yang semakin megah, ada pertanyaan yang patut diajukan: apakah keberhasilan Gandrung Sewu juga diukur dari manfaat yang dirasakan masyarakat Banyuwangi?

Festival Bukan Sekadar Pertunjukan

Gandrung Sewu bukan hanya agenda hiburan, melainkan juga bagian dari upaya memperkenalkan identitas budaya Banyuwangi. Penyelenggaraannya memiliki potensi untuk menggerakkan berbagai kegiatan ekonomi, mulai dari usaha kuliner, penginapan, transportasi, hingga penjualan produk lokal.

Pemberitaan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengenai Gandrung Sewu 2025 mencatat adanya pedagang yang mengalami peningkatan penjualan serta pengelola hotel yang melaporkan tingkat hunian mencapai 90 persen menjelang acara. Informasi tersebut menunjukkan bahwa festival budaya dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. (Sumber: Pemkab Banyuwangi)

Namun, keberhasilan pada satu penyelenggaraan belum cukup untuk memastikan bahwa manfaatnya dirasakan secara merata. Peningkatan kunjungan wisatawan tidak otomatis berarti seluruh pelaku usaha kecil memperoleh kesempatan yang sama.

Karena itu, Gandrung Sewu perlu dilihat lebih jauh daripada sekadar jumlah penonton dan kemeriahan panggung. Perlu ada perhatian terhadap siapa saja yang terlibat, bagaimana peluang ekonomi dibagikan, dan apakah kegiatan tersebut memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

Masyarakat Jangan Hanya Menjadi Penonton

Pengembangan festival budaya seharusnya membuka ruang bagi masyarakat untuk menjadi bagian dari kegiatan, bukan hanya hadir sebagai penonton. Pelaku UMKM, misalnya, perlu memperoleh kesempatan berjualan melalui mekanisme yang jelas dan transparan. Sementara itu, seniman serta komunitas budaya lokal perlu terus dilibatkan dalam proses pengembangan kesenian yang menjadi identitas daerah.

Hal ini penting karena keberlanjutan budaya tidak hanya bergantung pada keberhasilan sebuah pertunjukan, tetapi juga pada orang-orang yang menjaga dan mewariskannya. Kemegahan tata cahaya dan perubahan konsep dapat memperkuat daya tarik festival, tetapi keduanya perlu berjalan bersama dengan penguatan komunitas seni dan apresiasi terhadap budaya lokal.

Pemerintah daerah dapat mengambil peran melalui evaluasi penyelenggaraan yang lebih menyeluruh. Selain mencatat jumlah pengunjung, evaluasi juga dapat mencakup jumlah pelaku usaha lokal yang terlibat, pengalaman pedagang selama acara, serta keterlibatan seniman dan komunitas budaya.

Dengan cara tersebut, penyelenggaraan Gandrung Sewu berikutnya dapat dikembangkan berdasarkan hasil evaluasi, bukan hanya mengejar konsep pertunjukan yang semakin besar setiap tahun.

Megah di Panggung, Berdampak bagi Masyarakat

Gandrung Sewu tidak perlu memilih antara menjadi pertunjukan modern dan menjaga nilai tradisi. Keduanya dapat berjalan beriringan selama inovasi tetap menempatkan kebudayaan dan masyarakat sebagai bagian utama dari penyelenggaraan.

Perubahan menjadi pertunjukan malam pada 2026 merupakan kesempatan untuk mengembangkan Gandrung Sewu lebih jauh. Namun, kesempatan itu juga perlu diikuti dengan upaya memastikan bahwa pelaku budaya dan masyarakat lokal memperoleh ruang serta manfaat yang nyata.

Pada akhirnya, keberhasilan festival budaya tidak cukup diukur dari kemegahan panggung atau banyaknya orang yang datang. Keberhasilan juga perlu dilihat dari keberlanjutan budaya, kesempatan yang terbuka bagi masyarakat, dan manfaat yang tetap terasa setelah acara berakhir.

Gandrung Sewu boleh semakin megah, tetapi masyarakat yang menjaga budayanya tidak boleh sekadar menjadi penonton.