Produk Lokal Tak Cukup Hanya Dipajang di Rak Ritel Modern

Mahasiswi Universitas Jember
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Diajeng Dias Pramesty tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
UMKM Banyuwangi punya potensi besar, tapi masuk ke ritel modern bukan sekadar soal akses pasar, melainkan juga kesiapan dan keberlanjutan.

Produk UMKM lokal punya potensi besar untuk berkembang, termasuk di Banyuwangi. Berbagai makanan ringan, olahan hasil pertanian, hingga produk khas daerah bisa menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. Sayangnya, produk yang bagus belum tentu mudah menjangkau pasar yang lebih luas. Bagi sebagian pelaku usaha kecil, memperkenalkan produk sekaligus mempertahankan penjualan masih menjadi tantangan tersendiri.
Pada April 2026, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyiapkan skema konsinyasi atau jual titip agar produk UMKM lokal dapat dipasarkan di ritel modern. Langkah ini membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produknya kepada lebih banyak konsumen. Produk yang sebelumnya hanya dijual di lingkungan sekitar atau melalui media sosial berkesempatan menjangkau pasar yang lebih luas. (Sumber: RRI, 9 April 2026).
Kebijakan ini tentu menjadi kabar baik bagi UMKM lokal. Namun, ada hal yang tidak kalah penting untuk dipikirkan: setelah berhasil masuk ke ritel modern, bagaimana agar produk tersebut bisa terus bertahan dan bersaing?
Masuk Ritel Modern Bukan Perkara Mudah
Masuk ke ritel modern bukan sekadar soal mendapatkan tempat di rak toko. Pelaku usaha juga harus memperhatikan kualitas produk, kemasan, perizinan, masa kedaluwarsa, hingga kemampuan menjaga ketersediaan barang. Semua itu membutuhkan persiapan yang tidak sedikit, terutama bagi UMKM yang masih menjalankan usahanya dengan modal dan tenaga terbatas.
Di sinilah tantangannya. Tidak semua pelaku UMKM memiliki kemampuan yang sama untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Ada usaha yang produknya berpotensi besar, tetapi masih perlu memperbaiki kemasan. Ada pula yang mampu menghasilkan produk berkualitas, tetapi belum memiliki kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan dalam jumlah besar.
Kalau kesempatan masuk ke ritel modern dibuka tanpa pendampingan yang memadai, pelaku usaha yang sudah lebih siap berpotensi lebih mudah memanfaatkannya. Sementara itu, UMKM yang masih berkembang bisa kesulitan mengikuti persyaratan yang dibutuhkan.
Karena itu, dukungan terhadap UMKM seharusnya tidak berhenti pada pemberian akses pasar. Pelaku usaha juga perlu dibantu mempersiapkan produknya agar mampu memenuhi standar dan bersaing secara berkelanjutan.
Jangan Hanya Berhasil Masuk, tetapi Juga Bertahan
Ada perbedaan antara produk yang berhasil masuk ke toko dan produk yang benar-benar memiliki penjualan baik. Produk yang sudah dipajang belum tentu langsung dibeli konsumen. Persaingan dengan merek lain, harga, kemasan, dan selera pembeli tetap menjadi faktor yang memengaruhi penjualan.
Hal ini perlu menjadi perhatian dalam pelaksanaan skema konsinyasi. Mekanisme kerja sama harus jelas, mulai dari pencatatan barang, pembayaran hasil penjualan, hingga penanganan produk yang tidak terjual. Kejelasan tersebut penting agar pelaku UMKM memahami hak dan kewajibannya serta bisa memperhitungkan keuntungan usaha.
Pemerintah daerah juga dapat membantu melalui pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha. Misalnya, membantu memperbaiki kemasan, memfasilitasi perizinan, memberikan pelatihan pengelolaan produksi, dan menjembatani komunikasi antara UMKM dengan pihak ritel.
Selain itu, perkembangan usaha setelah mengikuti program perlu dievaluasi. Tidak cukup hanya menghitung berapa produk yang berhasil dipasarkan, tetapi juga perlu melihat kendala yang dihadapi pelaku usaha dan apakah kerja sama tersebut dapat membantu mereka mengembangkan bisnisnya.
Membuka Jalan bagi UMKM untuk Berkembang
Upaya Pemkab Banyuwangi membuka peluang pemasaran produk lokal di ritel modern merupakan langkah yang patut diapresiasi. Akses pasar yang lebih luas dapat menjadi kesempatan bagi UMKM untuk berkembang. Namun, kesempatan tersebut perlu disertai dukungan agar pelaku usaha tidak berjalan sendiri ketika menghadapi persaingan.
UMKM tidak selalu membutuhkan program yang terlihat besar. Dalam beberapa kondisi, pendampingan yang tepat, informasi yang mudah dipahami, dan mekanisme kerja sama yang jelas justru lebih dibutuhkan untuk membantu usaha bertahan.
Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan UMKM tidak cukup dilihat dari berapa banyak produk lokal yang berhasil masuk ke ritel modern. Hal yang lebih penting adalah apakah pelaku usaha mampu mempertahankan kualitas, memperoleh penjualan, dan mengembangkan usahanya setelah mendapatkan kesempatan tersebut.
Produk lokal Banyuwangi layak mendapat tempat di pasar yang lebih luas. Namun, membuka pintu saja tidak cukup. Pelaku UMKM juga perlu mendapat dukungan agar mampu melangkah lebih jauh setelah pintu itu terbuka.
