Konten dari Pengguna

Benarkah Jatuh Cinta Dapat Menimbulkan Ketergantungan?

DIAJENG LESTARI

DIAJENG LESTARI

Mahasiswi Psikologi Universitas Brawijaya Angkatan 2022

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari DIAJENG LESTARI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pasangan muda tersenyum menikmati musim gugur di taman. Image Credit: Dragan Grkic / Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pasangan muda tersenyum menikmati musim gugur di taman. Image Credit: Dragan Grkic / Shutterstock

Jatuh cinta sering kali digambarkan sebagai hal-hal yang manis dan indah. Sebenarnya, apa itu cinta? Menurut APA Dictionary, cinta didefinisikan sebagai perasaan-perasaan kuat yang berhubungan dengan afeksi dan kelembutan terhadap seseorang yang dicintainya, sensasi menggembirakan terhadap kehadirannya, dedikasi terhadap kesejahteraannya, dan kepekaan terhadap reaksinya dan terhadap diri sendiri. Namun, ternyata jatuh cinta memiliki efek awal seperti kokain, loh! Keduanya sama-sama menimbulkan candu sekaligus rasa senang. Di sisi lain, obsesi berlebihan terhadap orang yang dicintai dapat mengakibatkan love addiction. Apakah kalian tahu bahwa proses jatuh cinta itu ternyata tidak semudah kalimat dari mata turun ke hati? Faktanya, terdapat serangkain proses ilmiah yang berkaitan dengan penyebab terjadinya love addiction pada seseorang. Yuk, simak penjelasan ilmiahnya berikut ini!

Apa yang Sebenarnya Terjadi Ketika Seseorang Jatuh Cinta?

Aron dkk. (2005) mengadakan penelitian terhadap 10 orang perempuan dan 7 orang laki-laki, mereka secara bergantian diperlihatkan foto orang yang mereka cintai. Bagaimanakah hasilnya? Terjadi aktivasi di beberapa wilayah sistem penghargaan otak, termasuk VTA (Ventral Tegmental Area), wilayah ini berkaitan dengan kesenangan dan motivasi yang diikuti oleh peningkatan dopamin. Nah, meningkatnya jumlah dopamin akan diikuti dengan meningkatnya detak jantung yang biasanya terjadi ketika seseorang melakukan kontak atau menghabiskan waktu bersama orang yang dicintai. Wah, ternyata ini salah satu penyebab jantung berdetak kencang saat bertemu dengan si “dia.” Selain itu, terdapat pula peningkatan norepinefrin yang dapat membuat seseorang ingin terus menerus bertemu dengan pujaan hati.

Apakah laki-laki dan perempuan mengalami hal yang sama saat jatuh cinta? Terdapat perbedaan indikator yang menunjukkan kondisi jatuh cinta pada perempuan dan laki-laki. Perempuan yang sedang jatuh cinta akan mengalami peningkatan dopamin dan oksitosin. Peningkatan dopamin sebagai petunjuk saja tidaklah cukup karena hal tersebut dapat dipengaruhi banyak faktor, misalnya dopamin dapat meningkat ketika seseorang mengonsumsi permen. Selain itu, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa ketika perempuan tertarik dengan laki-laki, oksitosin meningkat 51%. Oksitosin adalah hormon yang memperkuat ikatan, lonjakan hormon ini biasanya terjadi setelah orgasme. Pada laki-laki, oksitosin tidak dapat dijadikan indikator karena adanya hormon testosteron yang memblokir efek oksitosin. Sebagai gantinya, terjadi peningkatan vasopresin ketika seseorang terangsang secara seksual.

Ketika hormon lain meningkat, serotonin justru mengalami penurunan. Hal ini mirip dengan apa yang dialami penderita OCD sehingga penurunan serotonin dapat menyebabkan seseorang terobsesi dan tergila-gila selama fase jatuh cinta. Serotonin juga dapat mempengaruhi nafsu makan dan suasana hati seseorang yang jatuh cinta, nih.

Mengenal Love Addiction

Seseorang yang sedang jatuh cinta rupanya memiliki kesamaan dengan seseorang yang mengonsumsi narkoba, loh! Keduanya sama-sama mengaktifkan wilayah VTA pada otak. Sensasi menyenangkan yang timbul saat peningkatan dopamin dan penurunan serotonin yang terjadi secara terus menerus dapat memicu berkembangnya love addiction. Apakah love addiction merupakan hal yang baik? Sayang sekali, love addiction adalah pola perilaku yang menimbulkan rasa senang dan pemikiran obsesif yang dapat menyebabkan seseorang berkeinginan untuk terus bersama dengan sosok yang ia cintai (Fisher, 2006). Beberapa peneliti memperkirakan jumlah populasi di AS yang mengalami love addiction sekitar 5-10% (Timmreck, 1990), sedangkan pada mahasiswa muda dapat mencapai 25,8% (Cook, 1987). Love addicts merepresentasikan cintanya sebagai akibat dari rasa cemas atau depresi, rasa takut akan kesepian, dan idealisasi terhadap objek minat romantis hingga kemudian berujung menyalahkan pasangan jika tidak dapat memenuhi ekspektasinya.

Pada umunya, hubungan yang dijalin oleh love addicts cenderung tidak sehat karena mereka hanya mengejar efek senang yang timbul saat jatuh cinta. Tidak adanya ikatan yang kuat dan intim dapat mengakibatkan hubungan stagnan sehingga mereka akan merasa tidak bahagia karena mereka seolah dibatasi oleh dinding pemisah. Selain itu, jika love addicts tidak merealisasikan rasa obsesinya terhadap sosok yang mereka cintai, maka dapat menimbulkan rasa kesendirian hingga rasa putus asa. Alhasil, ketika love addicts putus dengan pasangannya, mereka akan mencari pengganti agar obsesi terhadap rasa jatuh cintanya dapat disalurkan kembali.

Lantas, Bagaimanakah Cara Menangani Love Addiction?

Langkah awal yang dapat dilakukan oleh love addicts yaitu mencoba menghindari semua kontak dengan objek love addiction, misalnya dengan menolak pasangan dan menjadi lebih terbuka dengan lingkungan (Fisher, 2006). Love addicts juga disarankan untuk belajar membangun support system yang bersumber dari diri sendiri melalui self-talk yang sehat dan terbimbing. Self-talk dapat mengarahkan seseorang agar terbiasa dengan kurangnya intensitas kebersamaan dengan pasangan dan dapat mengembangkan perasaan konstruktif terhadap diri sendiri dan orang lain (Timmreck, 1990; Sussman, 2010). Akan tetapi, langkah terbaik yang dapat ditempuh adalah dengan datang ke psikiater untuk mendapatkan diagnosis sehingga dapat ditentukan pula penanganan yang tepat terkait love addiction ini.

Sama halnya seperti mengonsumsi makanan manis yang berlebihan dapat menimbulkan diabetes, rasa senang berlebihan yang timbul saat seseorang jatuh cinta dapat menimbulkan adiksi yang dinamakan dengan love addiction. Seseorang dengan masalah ini akan mengalami obsesi berlebihan dengan rasa jatuh cinta. Bahkan, ketika obsesi tersebut tidak terpenuhi dapat menimbulkan putus asa. Langkah yang dapat diambil untuk love addicts adalah dengan mengunjungi psikiater agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Referensi

American Psychological Association. (n.d). Love. In American Psychological Association (APA) Dictionary. Retrieved November 30, 2022, from https://dictionary.apa.org/love

Grkic, D. Young Smiling Couple Enjoying Fall Park. Shutterstock. https://www.shutterstock.com/image-photo/young-smiling-couple-enjoying-fall-park-1161655015

Aron, A., Debra, J. M., Greg, S., Haifang, L., Helen, F., Lucy, L. B. (2005). Reward, Motivation, and Emotion Systems Associated with Early-Stage Intense Romantic Love. Journal Neurophysiology, 94, 327–337. https://doi.org/10.1152/jn.00838.2004

Cook D. (1987). Self-identified addictions and emotional disturbances in a sample of college students. Psychology of Addictive Behaviors, 1(1), 55–61.

Fisher, H. (2006). Broken hearts: The nature and risks of romantic rejections. In A. C. Crouter & A. Booth (Eds.), Romance and sex in adolescence and emerging adulthood: risks and opportunities. Mahwah, N.J.: Lawrence Erlbaum Associates, pp. 3–28.

Fisher H. E., Xu, X., Aron, A. & Brown, L.L. (2016). Intense, Passionate, Romantic Love: A Natural Addiction? How the Fields That Investigate Romance and Substance Abuse Can Inform Each Other. Frontiers in Psychology, 7 (687). https://doi.org/10.3389/fpsyg.2016.00687

Maslar, D. (2016, July 05). How Your Brain Falls in Love [Video]. YouTube. https://youtu.be/eyq2Wo4eUDg

Moffit, M. & Gregory B. (2013, February 12). The Science of Love [Video]. YouTube. https://youtu.be/eDMwpVUhxAo

Neuron. (2019, February 10). How Do We Fall in Love? [Video]. YouTube. https://youtu.be/jMJmpTnAt5s

Sussman, S. (2010). Love Addiction: Definition, Etiology, Treatment, Sexual Addiction & Compulsivity. The Journal of Treatment & Prevention, 17(1), 31-45. https://doi.org/10.1080/10720161003604095

Timmreck, T. C. (1990). Overcoming the loss of love: Preventing love addiction and promoting positive emotional health. Psychological Reports, 66, 515–528.

Vaknin, S. (2021, August 28). Love Addiction: Craving Infatuation, Limerence [Video]. YouTube. https://youtu.be/2db9EBSuPoQ