Bisnis
·
22 April 2021 21:06

Humas Perlu Branding? Memangnya Penting?

Konten ini diproduksi oleh Dian Din Yati
Humas Perlu Branding? Memangnya Penting? (153563)
searchPerbesar
Ilustrasi Branding. Source: Freepik.com
“Gajah mati meninggalkan gading”.
Peribahasa lama yang melekat dari sejak kanak-kanak hingga dewasa. Terkesan sederhana tapi mengandung makna yang dalam.
ADVERTISEMENT
Bila seekor gajah mati, ia meninggalkan gading. Gading gajah sangat berharga dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Gading gajah memiliki bentuk yang estetik sehingga bernilai jual tinggi di kalangan pecinta barang unik. Di sisi lain ada juga yang mempercayai bahwa gading gajah dapat dijadikan jimat.
Gajah mati meninggalkan sesuatu yang berharga. Bagaimana bila manusia mati? Apa yang yang akan ditinggalkan? Sebagai apa kita akan dikenang?
Bagi sebagian orang, mereka ingin dikenal sebagai seseorang karena kebaikan atau prestasi nya. Tentu hal tersebut harus diinisiasi sedari dini. Memupuk kebaikan, mengukir prestasi, dan tak lupa sedikit pencitraan agar lebih dikenal.
Apakah pencitraan salah?
Pencitraan, kata yang menjadi kata yang banyak diperbincangkan belakangan ini. Bahkan sempat menjadi trending topic pada saat salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat menyinggung mengenai pencitraan ini di akun media sosial pribadinya.
ADVERTISEMENT
Pencitraan seringkali dikaitkan dengan sesuatu yang negatif, padahal pencitraan adalah hal yang positif. Pencitraan atau branding, merupakan cara untuk dikenal masyarakat luas. Suatu perusahaan atau instansi tentu membutuhkan pencitraan ini agar dipercaya oleh masyarakat.
Kredibilitas menjadi salah satu modal dalam keberlangsungan perusahaan. Karenanya, banyak perusahaan yang tak tanggung-tanggung menggelontorkan dana untuk melakukan branding.
Lalu bagaimana halnya dengan Humas? Branding tidak hanya diperlukan oleh perusahaan saja, Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul "Manajemen Public Relation" membagi branding ini menjadi tiga macam, yakni corporate branding, personal branding dan product branding.
Upaya Membangun Personal Branding
Silih Agung Wasesa, pakar personal branding yang juga penulis buku "Personal Branding Code" menyebutkan bahwa personal branding adalah proses yang dilakukan seseorang untuk memperkenalkan kompetensinya kepada stakeholder secara efektif dan efisien. Personal branding yang baik dilakukan secara terstruktur dan terencana. Meski demikian dapat juga tumbuh dan berkembang secara alami.
ADVERTISEMENT
Personal branding dapat menonjolkan sisi unik seseorang dan membuat seseorang lebih dikenal secara positif. Dengan personal branding kita dapat dikenal masyarakat, menunjang karier sebagai Humas, menambah jejaring, bahkan mendapatkan pekerjaan.
Selain untuk membentuk citra positif diri sendiri, personal branding juga dapat menaikkan citra baik instansi tempat ia bekerja. Humas sebagai jembatan antara lembaga dan masyarakat tak dapat dipisahkan. Hubungan antara Humas dengan instansinya sangat harmonis.
Saat Humas berhasil dikenal, maka instansi tempat ia bekerja pun akan mendapat sorotan. Pun sebaliknya, suatu instansi dapat menjadi media Humas untuk tumbuh dan berprestasi. Itulah mengapa personal branding menjadi penting untuk dilakukan Humas.
Bila corporate branding dilakukan dengan melakukan marketing, pembuatan logo, slogan, tagline atau membuat acara dengan melibatkan media massa. Bagaimana cara Humas untuk membentuk personal brandingnya?
ADVERTISEMENT
Untuk dikenal secara positif tentu kita membutuhkan prestasi, maka tunjukkan kompetensi diri sebagai Humas. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat tulisan, baik berupa buku, jurnal atau tulisan di media massa. Selain itu dapat juga dilakukan dengan aktif di kegiatan-kegiatan kehumasan baik di internal ataupun eksternal lembaga. Semakin sering nama kita diekspos, maka kita akan semakin dikenal.
Branding Humas dapat dilakukan secara keseluruhan, namun juga dapat terbatas pada hal tertentu. Misalnya saja, seorang Humas yang juga memiliki keahlian dibidang editing video atau pembuatan animasi dapat menonjolkan keahliannya tersebut.
Jadi tidak mesti berprestasi di berbagai bidang, menonjolkan keahlian dan keunikan diri sendiri akan lebih mudah untuk dilakukan karena segala sesuatu yang merupakan passion akan lebih all out untuk dilakukan.
ADVERTISEMENT
Untuk dapat memiliki prestasi dan kompetensi yang mumpuni, tentu kita harus banyak belajar belajar dan menambah skill dan keahlian, terutama di bidang kehumasan. Kemudian bergabunglah dengan komunitas yang sesuai agar semakin dikenal dan menambah jejaring. Bergabung dengan komunitas pun dapat memberi banyak informasi dan ilmu baru yang mungkin belum kita ketahui sebelumnya. Selain itu saling sharing pengalaman dan saling memberi motivasi antar anggota komunitas dapat menambah semangat kita untuk terus berkarya.
Satu hal lagi yang harus dilakukan untuk membuat personal branding terutama di era digital ini adalah dengan memanfaatkan situs jejaring sosial. Mulai dari Facebook, Instagram, hingga Twitter dapat digunakan sebagai media personal branding. Platform Linkedin bahkan dapat digunakan untuk personal branding secara profesional.
ADVERTISEMENT
Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Dengan menggunakan media sosial, selain untuk menyebarkan informasi kelembagaan, melakukan personal branding, kita juga turut mengisi ruang di dunia maya dengan konten-konten yang positif. Itu saja sudah tercatat menjadi amal baik, bukan?
Personal branding bukanlah hal yang diperoleh secara instan. Melainkan proses tumbuh dan berkembang yang memakan waktu, yang mungkin tidak sebentar. Karenanya dalam melakukan personal branding dibutuhkan semangat, konsistensi dan kesabaran. Namun tenang saja, toh usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Sambil berproses mari sama-sama tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, bukan hanya sekadar pencitraan, namun sebagai rasa syukur pada Tuhan atas segala karunia-Nya. Salah satu caranya dengan menjadi Humas handal, berdedikasi dan tentu saja berprestasi. (Ddy)
ADVERTISEMENT