Konten dari Pengguna

David, Anak Pesisir Sumbar, Sukses Menciptakan Ratusan 'Penjaga Laut'

Dian Kusumawardani

Dian Kusumawardani

Seorang home educator yang juga suka menulis.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dian Kusumawardani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

David Hidayat Pengagas Andespin
zoom-in-whitePerbesar
David Hidayat Pengagas Andespin

Provinsi Sumatera Barat dianugerahi potensi keanekaragaman laut yang melimpah, khususnya di wilayah Nagari Sungai Pinang, Pesisir Selatan. Kekayaan laut di kawasan ini, yang menjadi habitat bagi ratusan spesies terumbu karang dan beragam biota laut, merupakan aset yang sangat berharga. Namun, kekayaan ini sempat terancam oleh berbagai kerusakan lingkungan.

Di tengah ancaman tersebut, muncul seorang putra daerah yang menjadikannya sebagai panggilan jiwa: David Hidayat, seorang aktivis lingkungan yang sangat peduli terhadap kelestarian biota laut Sungai Pinang. David, yang lahir dan besar di Nagari Sungai Pinang, mendedikasikan ilmu kelautan dan perikanan yang ia dapatkan di bangku kuliah untuk mengabdi di kampung halamannya sejak kembali pada tahun 2014.

Ketika Kekayaan Laut Terancam Punah

Meskipun terumbu karang memiliki peran ekologis dan fungsi penting bagi kehidupan manusia, kondisinya di perairan Sungai Pinang mengalami tekanan besar. Sekitar setengah hektar terumbu karang di perairan ini mengalami proses pemutihan atau Coral Bleaching.

Kerusakan ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari faktor alam (perubahan suhu) hingga ulah manusia, termasuk polusi, penangkapan makhluk laut yang berlebihan menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan, hingga kegiatan pariwisata yang merusak. Sebelum adanya gerakan restorasi, David menyaksikan sendiri bahwa masyarakat masih melakukan penangkapan ikan sesuka hati tanpa peduli dengan kerusakan ekosistem pesisir.

Ancaman ini tidak hanya mengganggu ekosistem laut, tetapi juga meningkatkan risiko abrasi pantai.

Andespin, Lahirnya 'Penjaga Laut' dari Sungai Pinang

Untuk melawan kerusakan ini, David bersama pemuda setempat mendirikan sebuah lembaga konservasi yang fokus pada pelestarian terumbu karang dan mangrove. Lembaga ini dinamakan komunitas ANDESPIN Dee West Sumatera, yang merupakan singkatan dari Anak Desa Sungai Pinang. Ide pendirian Andespin sudah dirancang sejak David masih kuliah di tahun 2009, namun baru berdiri secara resmi di Nagari Sungai Pinang pada tahun 2016, meskipun kegiatan sudah dimulai sejak 2014.

Andespin didirikan sebagai upaya kolektif dalam pengelolaan dan pengawasan di perairan pesisir dan pulau-pulau kecil. Melalui Andespin, David tidak bekerja sendiri. Ia melibatkan segala unsur, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga masyarakat sekitar, untuk memberikan pengarahan dan edukasi.

Gerakan Restorasi Karang dan Mangrove (Aksi Nyata)

Andespin memulai aksi nyatanya dengan dua fokus utama: restorasi terumbu karang dan penanaman mangrove.

1. Restorasi Terumbu Karang

RestorasiTerumbu Karang yang Dilakukan Andespin

Sejak tahun 2014, setidaknya sudah 30.000 bibit karang yang ditanam melalui upaya swadaya dan bantuan pihak ketiga. Transplantasi terumbu karang dilakukan menggunakan dua metode:

  • Sistem Rak Meja.

  • Tanpa Rak Meja, di mana bibit diikat pada substrat yang terpasang di rak transplantasi.

David bahkan menetapkan sebuah kawasan khusus yang dijadikan lokasi stock center terumbu karang di Sungai Pinang, yaitu daerah Batu Kucing, di mana aktivitas selain konservasi dilarang. Saat ini, hasil transplantasi yang dilakukan sejak 2016 telah membuahkan hasil: ratusan terumbu karang tumbuh kembali, membuat kawasan bawah laut objek wisata Mandeh dan Sungai Pinang merona dengan karang warna-warni.

2. Pelestarian Hutan Mangrove

David juga menyadari pentingnya mangrove sebagai perisai alam yang kuat dalam membentengi dan melindungi kehidupan di pesisir. Mangrove berfungsi mencegah abrasi dan menjadi habitat bagi berbagai biota laut seperti udang, kepiting, dan ikan.

Komunitas Andespin mulai menanam dan mengelola sekitar 5 hektar tanaman mangrove sejak tahun 2014. Di Pantai Majuto Sungai Pinang, terdapat sekitar 6.000 batang bibit mangrove yang ditanam dan dirawat, dengan tingkat pertumbuhan mencapai hampir 90%. Secara total, David memperkirakan terdapat sekitar 30 hektar hutan mangrove di Nagari Sungai Pinang, dengan kondisi 90% baik.

Dari Sinis Menjadi Manfaat Ekonomi dan Ekologi

Perjuangan David tidak mudah. Awalnya, upaya pelestarian lingkungan ini mendapat pandangan sinis dan dianggap mustahil oleh sebagian masyarakat, karena belum semua orang menyadari arti penting terumbu karang dan mangrove.

Namun, ketulusan David dan Andespin berbuah manis, dan pola pandangan masyarakat pun mulai berubah. Dampak transformatif yang dihasilkan antara lain:

  • Peningkatan Stok Ikan: Para nelayan mulai merasakan manfaat ekologi. Menurut pengakuan seorang warga, dengan adanya David yang memperbaiki terumbu karang sebagai "rumah-rumah ikan," ikan sekarang sudah mulai banyak.

  • Perlindungan Pantai: Mangrove yang membesar di Pantai Majuto efektif menahan pasang laut, sehingga hempasan ombak tidak lagi sampai ke jalan.

Memuat batik tulis
  • Pemberdayaan Ekonomi: David turut memberdayakan ibu-ibu nelayan melalui aktivitas membatik tulis. Mereka memanfaatkan limbah hutan mangrove di sekitar tempat tinggal untuk pewarnaan alami, menghasilkan batik mangrove yang indah dan bernilai ekonomi, memberikan tambahan pemasukan bagi keluarga.

  • Edukasi dan Kebersihan: Anak-anak desa Sungai Pinang diajak rutin menjaga kebersihan pantai dengan mengumpulkan sampah plastik, menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian laut sejak dini.

Visi Ekowisata Berkelanjutan

Keindahan pantai, hutan mangrove yang asri, dan taman terumbu karang yang dikelola Andespin kini menarik kunjungan wisatawan. Wisatawan tidak hanya menikmati, tetapi juga bisa merasakan pengalaman menanam mangrove dan terumbu karang.

David bertekad menjadikan Nagari Sungai Pinang sebagai destinasi unggulan ekowisata, dengan mengupayakan Mangrove Park menjadi Taman Mangrove dan lokasi terumbu karang menjadi Taman Bawah Laut.

Penghargaan Nasional: Pengakuan atas Dedikasi

Meraih SATU Indonesia Awards

Pada tahun 2022, David Hidayat dianugerahi SATU Indonesia Awards di bidang Lingkungan. Penghargaan ini menegaskan bahwa David merupakan salah satu pemuda inspiratif yang sukses membawa perubahan positif signifikan bagi lingkungan dan kesejahteraan sosial di daerah pesisir, menjadikan Sungai Pinang sebagai model konservasi berbasis komunitas yang berhasil.

Bagi David, lingkungan adalah sekolah dan semua yang ada padanya adalah guru terbaik. Dengan semangatnya, David berhasil menanamkan kecintaan dan rasa tanggung jawab terhadap alam, memastikan bahwa generasi mendatang di Sungai Pinang dapat terus menikmati kekayaan laut mereka.

Kisah David adalah bukti nyata bahwa upaya konservasi yang melibatkan dan memberdayakan masyarakat lokal akan mengubah nasib lingkungan menjadi lebih baik. Ia berpesan, bahwa kita semua harus menjadi bagian dari alam, mempunyai rasa kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab untuk menjaganya agar tetap lestari.

Referensi

https://youtu.be/d1YWXbDQmMw?si=nl2DFIvLPKIk7OrQ

https://zonaebt.com/penjaga-laut-pesisir-selatan-kisah-david-hidayat/

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2025/09/28/menjaga-laut-dari-pesisir-selatan-kisah-inspiratif-david-hidayat-dan-gerakan-andespin-dee-west-sumatera

https://www.radioidola.com/2022/mengenal-david-hidayat-pegiat-lingkungan-dari-sumatera-barat-dan-peraih-satu-indonesia-award-2022/

#SatukanGerakTerusBerdampak

#KitaSATUIndonesia

#APA2025-ISB