Konten dari Pengguna

Menjadi Anak Muda yang Konvergen atau Divergen?

Dian Meilanita
Seorang mahasiswi S1-Fisika Murni yang memiliki ketertarikan besar dalam dunia fisika dan kepenulisan. Saat ini, saya tengah menempuh studi di Universitas Airlangga. Saya gemar mengekspresikan ide saya melalui tulisan.
10 Juni 2024 16:13 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Dian Meilanita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gambar oleh Tumisu dari Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Gambar oleh Tumisu dari Pixabay
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Menjadi Anak Muda yang Divergen atau Konvergen?
Mengutip kalimat Pak Gita Wirjawan, “lebih baik tipis tapi dalam atau lebar tapi dangkal ?.”
ADVERTISEMENT
Kita sering kali bertemu dengan orang-orang yang memiliki wawasan sangat luas dan serbabisa dalam berbagai bidang dan pekerjaan, meskipun mereka tidak terlalu mendalami satu pekerjaan tertentu. Namun, kita juga pasti pernah bertemu dengan orang-orang yang sangat ahli dalam satu bidang pekerjaan, tetapi kurang mampu dalam hal-hal lain di luar bidang keahlian mereka.
Apa Itu Divergen?
Pemikiran divergen adalah cara berpikir yang melibatkan banyak ide berbeda untuk satu masalah. Bayangkan kamu sedang brainstorming, dan kamu menghasilkan banyak ide gila dan kreatif. Itulah pemikiran divergen. Orang yang berpikir secara divergen cenderung suka mengeksplorasi banyak kemungkinan dan tidak takut mencoba hal-hal baru. Mereka adalah para inovator dan pencipta.
Misalnya, dalam dunia seni atau teknologi, pemikiran divergen sangat penting. Seorang seniman atau pengembang aplikasi harus kreatif dan sering mencari solusi unik yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Apa Itu Konvergen?
Sebaliknya, pemikiran konvergen adalah cara berpikir yang fokus pada menemukan satu jawaban yang benar atau solusi terbaik untuk suatu masalah. Ini adalah tipe pemikiran yang terorganisir dan terstruktur. Orang yang berpikir secara konvergen biasanya lebih analitis dan logis. Mereka suka memecahkan masalah dengan cara yang efisien dan efektif.
Contohnya, dalam bidang kedokteran atau teknik, pemikiran konvergen sangat penting. Seorang dokter atau insinyur harus bisa menganalisis situasi dengan teliti dan menemukan solusi yang paling tepat tanpa banyak coba-coba.
Kapan Harus Menggunakan Pemikiran Divergen atau Konvergen?
Kedua jenis pemikiran ini sebenarnya saling melengkapi. Kadang kita butuh berpikir divergen untuk menemukan ide-ide baru dan inovatif. Namun, setelah menemukan ide tersebut, kita butuh pemikiran konvergen untuk mengimplementasikannya dengan baik.
ADVERTISEMENT
Misalnya, ketika kamu sedang mengerjakan proyek kreatif seperti membuat startup, pada awalnya kamu butuh banyak ide segar (divergen). Tetapi, saat harus mengeksekusi dan menjalankan bisnis tersebut, kamu perlu fokus dan terstruktur (konvergen).
Menemukan Keseimbangan
Menjadi anak muda yang sukses berarti bisa menyeimbangkan pemikiran divergen dan konvergen. Kamu bisa kreatif dan menghasilkan banyak ide, tapi juga tahu cara menyaring dan fokus pada ide yang paling menjanjikan.
Bagi para anak muda, alangkah baiknya untuk mendahulukan pemikiran yang konvergen. Pada usia muda, kecenderungan untuk labil bisa menyebabkan kita berubah keputusan dalam waktu yang sangat singkat. Pemikiran divergen dapat memperkuat kelabilan tersebut. Namun, dengan pemikiran yang konvergen dan fokus pada satu tujuan, kita akan lebih mantap. Setelah menemukan tujuan dan pemikiran kita cukup dewasa untuk memproses semua tujuan tersebut, barulah kita bisa mengembangkan pemikiran divergen. Dengan demikian, kita dapat menjadi orang yang serbabisa dan mampu beradaptasi dengan perubahan dunia, sambil tetap memiliki satu fokus utama dalam hidup.
ADVERTISEMENT
Jadi, apakah kamu lebih suka menjadi divergen yang penuh ide atau konvergen yang fokus dan efisien? Temukan keseimbangan yang tepat untuk dirimu dan gunakan kedua jenis pemikiran ini untuk mencapai hal-hal besar dalam hidupmu!