Jejak Sejarah Petirtaan Ngawonggo dalam Promosi Digital Wisata Budaya

Mahasiswa Destinasi Pariwisata, Universitas Airlangga
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Dian Mifthakhul Jannah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perjalanan hari ini kerap bermula dari layar. Jempol menggeser Instagram, TikTok, atau Google Maps sebelum kaki benar-benar menapaki tujuan. Satu foto, video berdurasi singkat, atau ulasan ringkas acap menjadi pemantik keputusan seseorang berkunjung ke sebuah tempat.
Jejak digital itu perlahan turut menyapa Petirtaan Ngawonggo di Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Situs peninggalan Hindu-Buddha yang dahulu lebih akrab disebut warga sebagai “Arca” karena banyaknya temuan arca di kawasan tersebut kini semakin mudah ditemukan melalui media sosial. Kisahnya tidak lahir dari strategi promosi yang megah, melainkan dari ikhtiar sederhana menjaga warisan sejarah.
Rahmat Yasin, warga asli Ngawonggo yang kini menjadi juru pelihara sekaligus penggerak pengelolaan situs, mengisahkan keterlibatannya bermula pada 2017, jauh sebelum menerima Surat Keputusan sebagai juru pelihara dari Balai Pelestarian Kebudayaan pada 2022.
“Saat itu kondisinya kurang terawat sehingga kami mulai membersihkannya bersama beberapa teman,” ujarnya.
Kegiatan membersihkan kawasan menjadi titik balik. Dokumentasi yang diunggah ke Facebook menarik perhatian Balai Pelestarian Kebudayaan. Unggahan itu bukan ajakan berwisata, melainkan penanda bahwa masyarakat masih merawat peninggalan leluhurnya. Dari sapu yang mengangkat daun kering hingga foto-foto sederhana itulah jejak digital Petirtaan Ngawonggo mulai terbentuk.
Kini pengelolaan media sosial berpusat pada akun Instagram Pustaka Ngawonggo, wadah yang memuat aktivitas budaya sekaligus informasi mengenai situs. Meski demikian, Rahmat mengakui banyak wisatawan justru mengenal Petirtaan Ngawonggo melalui video yang diunggah pengunjung di TikTok.
“Banyak wisatawan mengetahui tempat ini melalui TikTok yang dibuat oleh para pengunjung,” katanya.
Fenomena tersebut memperlihatkan wajah promosi destinasi pada era digital. Identitas dibangun melalui akun resmi, sedangkan pengalaman wisatawan beredar secara organik hingga menjangkau khalayak yang lebih luas.
Rahmat tidak menampik bahwa promosi digital masih berjalan perlahan.
“Promosi kami memang belum terlalu gencar.”
Kendala terbesar bukan sekadar produksi konten, melainkan keterbatasan sumber daya manusia. Banyak anak muda ingin terlibat, tetapi tuntutan pekerjaan membuat mereka sulit menjaga konsistensi dalam mengelola promosi maupun kegiatan wisata.
Rutinitas merawat situs tetap berjalan hampir setiap hari. Menyapu kawasan, membersihkan area petirtaan, hingga menyiapkan kebutuhan pengunjung menjadi pekerjaan yang terus dilakukan bersama warga. Keterlibatan masyarakat membuat kawasan ini tetap hidup tanpa kehilangan jati dirinya.
Rahmat juga memiliki pandangan yang berbeda mengenai keberhasilan sebuah destinasi.
“Saya tidak berharap situs ini menjadi sangat ramai, tetapi lebih kepada kunjungan yang stabil.”
Baginya, Petirtaan Ngawonggo patut dipertahankan sebagai ruang belajar dan ruang renungan, bukan sekadar latar swafoto yang sesaat menjadi viral.
Pandangan itu tercermin dari pengalaman wisatawan yang datang langsung ke lokasi.
Andini Agista mengenal Petirtaan Ngawonggo melalui media sosial. Bukan sejarah yang mula-mula memikat perhatiannya, melainkan atmosfer kawasan yang tampak teduh, hening, dan jauh dari hiruk-pikuk destinasi populer. Rasa ingin tahu itu mendorongnya menyambangi situs tersebut.
“Awalnya aku tertarik karena vibes-nya kelihatan enak,” tuturnya.
Sesampainya di lokasi, kesan yang ia peroleh melampaui apa yang dilihat di layar. Ia menikmati keteduhan kawasan petirtaan, lalu mencicipi Tomboan, sajian yang menjadi bagian dari pengalaman budaya masyarakat setempat. Perjumpaan antara suasana, kuliner lokal, dan penjelasan mengenai sejarah situs membuat kunjungannya terasa lebih utuh.
Galuh Athaya menempuh jalan yang berbeda. Ia pertama kali menemukan Petirtaan Ngawonggo melalui video di TikTok. Rasa penasarannya mendorongnya mencari informasi lebih jauh lewat akun Instagram Pustaka Ngawonggo. Dari sanalah keinginannya untuk memahami sejarah situs tumbuh semakin kuat.
“Aku awalnya lihat dari TikTok, terus setelah tahu ada Instagram Pustaka Ngawonggo jadi pengen datang buat cari tahu sejarahnya langsung,” katanya.
Menurut Galuh, media sosial hanya membuka pintu rasa ingin tahu. Makna situs justru hadir ketika ia mendengarkan penjelasan sejarah secara langsung di kawasan petirtaan. Pengalaman itu membuat cerita masa lalu terasa lebih dekat daripada sekadar menonton di layar ponsel.
Dua kisah tersebut memperlihatkan bahwa media digital sanggup mengundang langkah pertama, sedangkan pemahaman terhadap nilai budaya lahir ketika seseorang benar-benar hadir di ruang yang menyimpan sejarah.
Setiap pengunjung yang datang memperoleh pengarahan sebelum memasuki kawasan.
“Kami menjelaskan sejarah situs sekaligus mengingatkan agar pengunjung menjaga perilaku selama berada di kawasan cagar budaya.”
Pendekatan itu menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara pelestarian dan pariwisata. Pengunjung tidak sekadar menikmati tempat, tetapi diajak memahami tata krama yang menyertai keberadaan sebuah cagar budaya. Setiap langkah di kawasan situs menjadi bagian dari pengalaman untuk mengenal sejarah tanpa mengabaikan nilai yang masih hidup di dalamnya.
Semangat tersebut diperkuat melalui berbagai kegiatan budaya yang rutin digelar, seperti Peken, pasar tradisional yang menghadirkan produk lokal, serta Sinau-sinau, ruang diskusi budaya setiap Minggu Kliwon. Kegiatan itu menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan kehidupan masyarakat hari ini. Warisan budaya tak benda tidak hanya dikenang, tetapi terus diberi ruang untuk tumbuh di tengah masyarakat Ngawonggo.
Tantangan pariwisata digital tampak jelas di sini. Video singkat dapat mengangkat nama sebuah tempat dalam hitungan jam. Menjaga makna sebuah situs menuntut kesabaran yang jauh lebih panjang. Popularitas dapat datang sekejap, sementara pelestarian membutuhkan perhatian yang terus menyala.
Petirtaan Ngawonggo memperlihatkan bahwa digitalisasi tidak selalu bertumpu pada anggaran besar atau strategi pemasaran yang rumit. Perjalanannya berangkat dari kepedulian warga, dokumentasi sederhana, lalu unggahan media sosial yang perlahan memperkenalkan situs itu kepada khalayak. Dari sebuah dokumentasi kecil, cerita tentang Ngawonggo menemukan jalannya menuju ruang digital.
Pada akhirnya, media sosial mungkin hanya menjadi pintu untuk mengenal Petirtaan Ngawonggo. Menjaga situs ini merupakan tanggung jawab setiap orang yang datang. Kunjungan tidak seharusnya berhenti pada foto dan video. Ada kepedulian yang perlu dibawa pulang: menjaga kebersihan, menaati aturan, tidak merusak peninggalan, serta menghormati nilai budaya yang ada.
Petirtaan Ngawonggo bukan sekadar tempat yang ditemukan melalui layar. Ia adalah warisan yang menyimpan jejak sejarah dan kehidupan budaya masyarakat. Jika hari ini kita masih dapat melihat, mempelajari, dan merasakan jejak tersebut, generasi mendatang juga berhak mendapatkan pengalaman yang sama.
Datanglah untuk mengenal, tetapi pulanglah dengan kesadaran untuk menjaga.
