Fenomena Putus Sekolah: Mengapa Anak Kita Kehilangan Asa di Bangku Pendidikan?

Mahasiswi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Dian Nurul Husna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan seharusnya menjadi salah satu jalan ke masa depan yang lebih cerah bagi setiap anak. Melalui pendidikan, negara akan memiliki kekuatan baik dalam pembangunan ekonomi, menciptakan lapangan kerja yang berkualitas, masyarakat yang demokratis, penurunan kemiskinan, kejahatan dan lain sebagainya.
Namun, kenyataanya tidak sedikit anak di Indonesia yang harus mengubur mimpinya dan menghentikan langkahnya di tengah jalan. Fenomena putus sekolah saat ini masih membayangi dunia pendidikan dan sudah seharusnya mendapatkan perhatian serius di Indonesia. Fenomena ini sering terjadi terutama pada kelompok masyarakat yang rentan secara ekonomi dan sosial.
Menurut Cahyani et al. (2019) anak putus sekolah adalah seseorang yang telah meninggalkan sekolah sebelum menyelesaikan studinya atau dapat juga dikatakan anak usia sekolah yang tidak sekolah lagi dan tidak memperoleh ijazah. Fenomena putus sekolah tidak hanya terjadi di wilayah pedesaan ataupun pelosok, tetapi juga sudah banyak terjadi di kota-kota besar.
Putus sekolah pada dasarnya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, baik dari aspek internal maupun eksternal. Fenomena ini dapat menjadi masalah serius yang berdampak bukan hanya pada kehidupan anak, namun juga bagi masyarakat sekitar. Anak yang berhenti sekolah cenderung memiliki keterbatasan dalam keterampilan, peluang kerja dan akan sangat rentan terjebak dalam kemiskinan. Untuk memahami lebih dalam dan mencari solusi kedepannya, berikut ini beberapa faktor utama penyebab anak putus sekolah.
Faktor Internal
Kurangnya minat anak untuk bersekolah
Pendidikan memang hak anak serta tanggung jawab orang tua, akan tetapi hak dan kewajiban ini juga harus disertai dengan kemauan dari anak itu sendiri untuk bersekolah. Keinginan anak untuk bersekolah sangat dipengaruhi oleh tingkat motivasi seorang anak, motivasi ini bisa berasal dari keluarga, lingkungan atau bahkan anak itu sendiri. Salah satu alasan anak putus sekolah di antaranya adalah hilangnya motivasi, kemauan dan minat dalam diri anak untuk bersekolah, anak memiliki kemauan belajar yang rendah karena adanya kejenuhan dan kebosanan untuk bersekolah.
Tidak menyukai sekolah
Selain kurangnya minat, lingkungan sekolah, teman sebaya bahkan bisa saja guru yang tidak mendukung bisa menjadi sebab anak putus sekolah, ini bisa disebabkan karena anak tidak lagi menyukai sekolah, karena adanya lingkungan sekolah yang tidak mendukungnya dan membuat anak tidak menyukai sekolahnya.
Sekolah dianggap tidak menarik
Selanjutnya alasan anak bisa putus sekolah juga dapat disebabkan bahwa adanya persepsi bahwa sekolah merupakan ruang yang tidak menarik. Persepsi ini terbentuk karena kurangnya minat terhadap mata pelajaran, ekstrakurikuler atau bahkan karena kesulitan anak dalam beradaptasi di sekolah, faktor tersebut dapat menyebabkan anak kehilangan motivasi dan lebih memilih mencari ruang yang lebih menarik dari sekolah.
Faktor Eksternal
Faktor ekonomi atau pendapatan orang tua
Faktor ini muncul karena adanya ketidakmampuan orang tua anak untuk membiayai segala proses yang dibutuhkan selama menempuh pendidikan dalam satu jenjang tertentu. Walau pemerintah sudah memberi bantuan namun, rencana pemerintah wajib belajar 9 tahun juga belum sepenuhnya maksimal dalam mengurangi jumlah anak yang putus sekolah, selain itu program pendidikan gratis juga belum tersosialisasikan hingga ke level bawah dengan merata.
Faktor lingkungan dan sosial budaya
Anak yang tumbuh di lingkungan dengan budaya pendidikan yang rendah dan menganggap pendidikan merupakan suatu hal yang tidak penting semakin besar memiliki peluang untuk putus sekolah. Selain itu faktor teman sebaya yang tidak melanjutkan sekolah juga dapat mendorong anak untuk meniru perilaku serupa. Faktor sosial ini menanamkan pola pikir bahwa berhenti sekolah adalah hal yang biasa.
Adanya dorongan dunia kerja dan lingkungan sekitar
Anak-anak dari keluarga ekonomi lemah terpaksa harus masuk ke dunia kerja sejak dini untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Di tempat bekerja ini mereka akan langsung menerima imbalan uang sehingga anak lebih memilih bekerja dibanding melanjutkan sekolah yang manfaatnya baru terasa dimasa depan nanti. Faktor ini semakin diperkuat dengan adanya lingkungan yang menormalisasi anak bekerja sejak dini.
Dalam perspektif fungsionalisme struktural, sekolah memiliki peran dalam sosialisasi, pewarisan nilai dan mobilitas sosial. Ketika terjadi fenomena putus sekolah, fungsi-fungsi tersebut akan terganggu karena anak tidak lagi mendapatkan proses pembelajaran yang dapat mendukung integrasi sosial.
Putus sekolah dapat menyebabkan adanya disfungsi baik bagi individu itu sendiri maupun masyarakat di sekitarnya. Putus sekolah bagi individu akan membatasi peluang mobilitas sosial, sedangkan bagi masyarakat tingkat angka putus sekolah yang tinggi dalam masyarakat juga dapat mengurangi kualitas sumber daya manusia, menurunkan produktivitas dan tentu akan melemahkan kohesi sosial didalam masyarakat.
Dalam perspektif fungsionalisme struktural, fenomena ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam sistem sosial, ekonomi, kebijakan pendidikan, dan dukungan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama yang baik antara sekolah, pemerintah, dan orang tua untuk lebih peduli terhadap keberlangsungan pendidikan anak. Selain itu perlu juga adanya regulasi yang memastikan akses pendidikan dan bantuan beasiswa dapat tersebar merata hingga ke level bawah, sehingga hambatan akses dan ekonomi tidak lagi menjadi alasan anak untuk putus sekolah.
Dari aspek internal, diperlukan juga bimbingan konseling untuk memberikan motivasi kepada anak agar tetap semangat melanjutkan pendidikannya. Langkah-langkah ini bisa menjadi kunci dalam mencegah sekaligus menanggulangi putus sekolah, memastikan setiap anak dapat memperoleh kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih cerah.
