Dampak Nyata Dokumentator Independen Dian Rana, Tayang di Program "Lebih Dekat"
Tulisan dari Dian Rana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sejarah seringkali dicatat oleh mereka yang berada di balik meja kekuasaan. Namun di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), sejarah itu juga direkam dengan tekun dari balik lensa seorang dokumentator independen bernama Dian Rana.
Kisah perjalanan dan dedikasi ini baru saja diangkat secara mendalam oleh TVRI Kalimantan Timur melalui program Lebih Dekat, yang ditayangkan pada 10 Oktober 2026 pukul 12.00 WITA.
Dalam tayangan berdurasi lebih dari 20 menit tersebut, Dian hadir tak sendiri. Ia tampil bersama istri dan kedua anaknya, Alvaro dan Shakeel, membagikan narasi tentang langkah kecil yang kini menjadi bagian dari sejarah besar bangsa.
Merekam Sejarah Sejak Berupa Hutan Industri
Dalam tayangan tersebut, Dian menceritakan perjalanannya mendokumentasikan pembangunan IKN sejak kawasan itu masih berupa hutan industri. Ia mengisahkan berbagai tantangan pengambilan gambar di lapangan, proses panjang yang harus dilalui, hingga dukungan dari sejumlah pihak yang menguatkan langkahnya.
Dokumentasi yang awalnya dibuat dan dibagikan melalui media digital itu kini telah berkembang menjadi rekaman yang memiliki nilai sejarah tinggi. Dedikasi ini terbukti dari pengakuan negara, di mana sebagian rekaman audiovisual yang dihasilkan Dian telah resmi ditetapkan sebagai Arsip Statis oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Perjalanan penuh makna ini juga telah ia rangkum ke dalam buku berjudul Di Balik Layar Nusantara: Langkah Kecil di Tengah Sejarah Besar, yang diterbitkan pada Mei 2026. Buku tersebut memuat pengalaman pribadinya dalam mengikuti dari dekat denyut nadi pembangunan IKN.
Dampak Nyata bagi Masyarakat Desa
Pencapaian Dian ternyata melampaui sekadar mengabadikan pembangunan fisik ibu kota baru. Aktivitasnya sebagai dokumentator independen juga membawa perubahan nyata bagi masyarakat di sekitarnya. Hal ini terungkap dari tanggapan Kepala Desa Wonosari, Kasiono, yang wilayahnya berada tidak jauh dari kawasan IKN.
Kasiono menceritakan bagaimana Dian turun tangan membantu memperkenalkan Goa Batu Tapak Raja—salah satu destinasi wisata di desanya—kepada khalayak luas melalui konten digital. Publikasi tersebut sukses membuka perhatian berbagai pihak terhadap potensi wisata Desa Wonosari.
“Kami sangat berterima kasih kepada Mas Dian yang membantu memviralkan wisata Goa Tapak Raja. Kami akhirnya mendapat support dari berbagai pihak, pemerintah daerah sampai kementerian,” ungkap Kasiono.
Lebih lanjut, Kasiono menekankan bahwa seluruh bantuan promosi yang dilakukan Dian dilakukan sepenuhnya tanpa meminta bayaran. Ia menutup pernyataannya dengan sebuah apresiasi yang sangat menyentuh:
“Mungkin usahanya Mas Dian, pekerjaannya Mas Dian, penghasilannya enggak seberapa, tapi manfaatnya untuk semua orang luar biasa.”
Pesan Tanggung Jawab dalam Berkarya
Menjelang akhir tayangan Lebih Dekat, Dian memberikan pesan moral kepada masyarakat, khususnya bagi mereka yang ingin mulai berkarya melalui media digital. Ia menekankan pentingnya rasa percaya diri, semangat belajar, dan etika tanggung jawab dalam membuat konten.
“Jangan pernah kalian merendahkan diri sendiri, selalu percaya pada kemampuan diri. Kalau kalian tidak bisa, belajar. Zaman sekarang sudah banyak media sosial, Google, kita bisa cari referensi dengan baik. Setiap kita bikin sesuatu, pastikan tidak menyinggung orang lain, tidak menyebarkan berita bohong pada saat kita bikin konten,” pesannya.
Kisah Dian Rana membuktikan bahwa dokumentasi yang dilakukan secara mandiri dan konsisten tidak hanya mampu merawat ingatan sejarah, tetapi juga bisa menjadi sarana kuat untuk mengangkat potensi daerah dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas.

