Konten dari Pengguna

Membangun Warisan Visual di Era Digital: Dian Rana Bagikan Strategi Konten di UG

Jakarta — Menjadi seorang kreator konten di era digital tidak hanya berurusan dengan algoritma dan popularitas, tetapi juga tentang tanggung jawab dan warisan sejarah yang ditinggalkan. Hal ini menjadi sorotan dalam pemaparan Dian Rana, dokumentator independen, saat menjadi narasumber di Universitas Gunadarma.

Dian Rana di Taman Kusuma Bangsa IKN (Doc. Dian Rana 05 Oktober 2026)
zoom-in-whitePerbesar
Dian Rana di Taman Kusuma Bangsa IKN (Doc. Dian Rana 05 Oktober 2026)

Tampil dalam program Literasi Team Teaching mata kuliah Social Networking And Creative Content pada Senin (12/10), Dian berdiskusi bersama akademisi Edy Prihantoro dan Noviawan Rasyid Ohorella. Acara yang disiarkan langsung melalui saluran UGTV tersebut mengusung tema "Strategi Pendekatan Produksi Konten".

Sebelum membedah ranah teknis, Dian membuka sesinya dengan kisah reflektif yang menjadi katalisatornya terjun ke dunia dokumentasi visual. Ia mengenang masa-masa saat mendengarkan mendiang ibunda, menceritakan pengalaman hidupnya di masa lalu. Saat itu, Dian hanya bisa membayangkan kisah tersebut di kepalanya.

Dari sanalah lahir sebuah tekad. Ia ingin, kelak ketika anak-anaknya, bertanya tentang jejak langkah ayahnya, ia tidak hanya menuturkan cerita lisan, tetapi mampu menyuguhkan rekam jejak visual yang nyata. Landasan emosional inilah yang membuat Dian merumuskan empat strategi utama dalam memproduksi konten publik:

1. Tentukan Angle dan Cerita Sejak Awal

Langkah pertama sebelum kamera merekam adalah menentukan sudut pandang. Memiliki kerangka cerita yang jelas akan menjaga fokus karya agar tidak melebar.

2. Sinkronisasi Visual dan Fleksibilitas Narasi

Kreator harus memastikan ketersediaan rekaman visual yang memadai untuk mendukung alur cerita saat proses editing. Dian membagikan pengalaman nyata di lapangan, di mana tak jarang ada momen penting yang luput dari tangkapan kamera. Jika hal ini terjadi, ego kreator harus diturunkan; narasi yang sudah disiapkan sejak awal harus direvisi dan disesuaikan kembali dengan realitas visual yang ada.

3. Mitigasi Misinterpretasi

Dian sangat menekankan prinsip kehati-hatian: "Jika ada elemen yang berpotensi menimbulkan salah tafsir atau melanggar privasi, revisi sebelum tayang."

Ia tak segan membagikan pengalaman pahitnya sendiri sebagai studi kasus. Suatu ketika, ia mengunggah video yang berisi dua pesan: menjelaskan transisi gaya kontennya di YouTube (tidak lagi menerbangkan drone) sekaligus membagikan kabar bahagia bahwa sebagian dokumentasi video IKN miliknya resmi ditetapkan sebagai arsip statis oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Karena terlalu terharu dengan pencapaian sejarah tersebut, Dian tak kuasa menahan tangis dalam video. Sayangnya, ia luput menganalisis potensi misinterpretasi sebelum mengklik tombol upload. Publik justru menafsirkan tangisan itu sebagai bentuk intimidasi, memunculkan rumor tak berdasar bahwa videonya disita. Ratusan komentar kesalahpahaman membanjiri kanalnya. Insiden ini menjadi pelajaran berharga baginya tentang betapa berbahayanya sebuah bias visual di ruang publik.

4. Manajemen Krisis dan Evaluasi Berkelanjutan

Berdasarkan pengalaman di atas, Dian menyarankan strategi evaluasi cepat. Memantau komentar sesaat setelah video diunggah adalah langkah krusial. Jika bibit kesalahpahaman mulai muncul, kreator harus tanggap memberikan klarifikasi—misalnya melalui fitur pinned comment (komentar yang disematkan)—agar isu tidak meluas bak bola liar. Ia juga mengingatkan pentingnya manajemen file yang rapi agar arsip mentah mudah ditemukan untuk kebutuhan di masa depan.

Poster Team Teaching Strategi Pendekatan Produksi Konten (Doc. Postingan IG Gunadarma)

Melawan Arus Demi Kualitas

Di akhir pemaparannya, Dian membagikan strategi angle yang tengah ia terapkan saat ini. Setelah sekian lama identik dengan konten dokumentasi infrastruktur IKN, Dian mengambil langkah berani untuk mengubah arah kemudinya. Ia kini lebih banyak memotret kehidupan sosial dan menceritakan pengalaman personalnya mendokumentasikan IKN.

Pergeseran angle ini berdampak langsung pada penurunan jumlah views. Namun, Dian tidak goyah. Langkah ini adalah bagian dari misinya untuk mengedukasi publik dan mengubah cara berkonten yang lebih bermakna.

“Konten yang baik bukan hanya konten yang ditonton banyak orang, Tapi juga konten yang memiliki cerita, bisa dipercaya, dan tetap bermanfaat ketika tren sudah berlalu,” tutup Dian Rana.