Menyusuri “Akar Kehidupan”, Bagian Awal Buku Di Balik Layar Nusantara

Dian Rana adalah dokumentator independen Indonesia yang dikenal atas kontribusinya dalam penyelamatan dan pelestarian arsip terkait pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dian Rana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebuah buku autobiografis karya Dian Rana berjudul Di Balik Layar Nusantara: Langkah Kecil di Tengah Sejarah Besar direncanakan terbit pada Mei 2026. Buku setebal sekitar 420 halaman ini disusun dalam tiga bagian besar yang menggambarkan perjalanan hidup penulis dari masa kecil hingga berbagai pengalaman penting dalam kehidupannya.
Selain edisi cetak, buku tersebut juga akan tersedia dalam format digital melalui Google Play Books. Versi digitalnya dibagi menjadi tiga seri yang mengikuti struktur tiga bagian pada edisi cetak.
Bagian pertama yang membuka keseluruhan kisah diberi judul “Akar Kehidupan.” Dalam bagian ini, pembaca belum langsung diajak pada cerita tentang berbagai peristiwa besar atau perjalanan Nusantara yang menjadi latar buku. Sebaliknya, penulis membawa pembaca kembali pada fase awal kehidupannya.
Dalam pengantar buku, Dian Rana menjelaskan bahwa bagian pertama ini memang ditujukan untuk menggambarkan asal-usul perjalanan hidupnya—masa ketika berbagai pengalaman kecil mulai membentuk arah hidup di masa depan.
Alih-alih memulai dari cerita besar, penulis memilih memulai dari hal yang paling mendasar: keluarga, masa kecil, dan lingkungan tempat ia tumbuh.
Dari Bandung ke Desa Transmigrasi
Kisah awal dalam seri ini dimulai dari Bandung, kota tempat penulis dilahirkan. Namun masa kecilnya tidak berlangsung di kota tersebut.
Sejak usia dini, kehidupannya diwarnai perpindahan tempat mengikuti ibunya. Hingga akhirnya keluarga mereka mengambil keputusan besar untuk mengikuti program transmigrasi ke Sulawesi Tengah.
Perjalanan menuju lokasi transmigrasi tidaklah singkat. Mereka harus menempuh perjalanan laut menggunakan kapal, lalu melanjutkan perjalanan darat menuju kawasan yang saat itu masih didominasi rawa dan hutan.
Di tempat yang jauh dari kota itulah kehidupan baru dimulai.
Sosok “Ibu Sunda” dalam Cerita
Dalam bagian awal buku ini, tokoh yang paling menonjol adalah sosok ibu penulis. Ia digambarkan sebagai figur yang kuat dan menjadi pusat kehidupan keluarga di tengah berbagai keterbatasan.
Di lingkungan desa transmigrasi, ibunya dikenal oleh masyarakat dengan panggilan “Ibu Sunda.” Selain mengurus keluarga, ia juga kerap membantu warga sekitar, termasuk mengurut orang yang sakit atau memberi pertolongan ketika ada tetangga yang membutuhkan bantuan.
Di tengah kondisi desa yang masih minim fasilitas—listrik yang belum tersedia dan kehidupan yang serba sederhana—peran sang ibu menjadi sangat penting dalam menjaga keluarga tetap bertahan.
Namun perjalanan hidup keluarga ini tidak selalu berjalan mudah. Kehilangan, perpisahan keluarga, serta berbagai tantangan hidup menjadi bagian dari pengalaman masa kecil yang turut membentuk kedewasaan penulis.
Pengalaman Kecil yang Membentuk Pandangan Hidup
“Akar Kehidupan” bukan sekadar cerita nostalgia tentang masa kanak-kanak. Bagian ini juga memperlihatkan bagaimana pengalaman sederhana dapat membentuk karakter seseorang.
Kehidupan di desa transmigrasi, membantu pekerjaan di ladang sejak kecil, hingga menghadapi berbagai peristiwa yang menuntut kedewasaan lebih cepat menjadi bagian dari perjalanan hidup tersebut.
Berbagai pengalaman itu kemudian menjadi fondasi bagi kisah-kisah berikutnya dalam buku Di Balik Layar Nusantara: Langkah Kecil di Tengah Sejarah Besar—sebuah perjalanan yang menunjukkan bagaimana langkah-langkah kecil dalam kehidupan pribadi dapat bersinggungan dengan cerita yang lebih besar tentang Nusantara.
