Konten dari Pengguna

Anak Konten yang Katanya 'Cuma' Nulis

Dian Rosalina

Dian Rosalina

Ini bukan aksara, ini sekadar ucapan belaka. Tanpa punya arti, tanpa punya makna. Kamu hanya melihat satu sisi, tidak keduanya.

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dian Rosalina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menulis konten. Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menulis konten. Pixabay.

"Anak konten? Kan cuma nulis. Kerjaannya mah gampang."

"Cuma nulis aja kan? Itu mah tinggal tutup mata juga jadi."

"Kerjaan kamu kan cuma nulis, kok gajinya besar banget sih?"

"Kerja jadi penulis konten? Memangnya punya karier apa di masa depan?"

Dan seterusnya...

Lelah enggak sih, kalau dengar hal-hal ini dari keluarga, teman terdekat, atau bahkan atasan kamu sendiri. Padahal pekerjaan menulis itu enggak hanya 'cuma' sih. Menulis itu lebih dari yang kamu atau mereka tahu.

Banyak banget orang yang enggak paham atau bahkan memang kurang cari tahu (mungkin ya) bahwa pekerjaan kreatif seperti menulis, visual, grafis, itu membutuhkan proses kreatif yang panjang lho.

Ilustrasi content specialist. Pixabay

Content Specialist

Misalnya aku. Aku adalah seorang content specialist, tugasku ini lumayan banyak lho. Enggak hanya 'cuma' nulis. Content specialist bertugas buat strategi. Lho, konten emang perlu strategi?

Ya iyalah perlu! Content specialist itu tugasnya membangun konten yang kredibel dengan melakukan riset. Seperti mencari sumber tepercaya dan memeriksa fakta-faktanya.

Ada beberapa tugas memang hampir sama seperti jurnalis, tapi content specialist menggunakan konten untuk membangun suatu merek dan menarik pelanggan untuk tertarik dengan produk yang ditawarkan. Jadi perlu riset dulu kan?

Content specialist ini harus memastikan bahwa website perusahaan atau industri ini meningkat lewat SEO (Search Engine Optimization) yang digunakan dan menjadi peringkat terbaik di halaman Google. Enggak hanya itu lho, kita juga membuat strategi dengan listing email seperti newsletter kepada user.

Selain itu, kemampuan berkomunikasi juga sangat penting di sini. Sebab, content specialist harus berkoordinasi dengan penulis lainnya dan desainer grafis untuk menentukan konten seperti apa yang menarik bagi pelanggan. Nah itu hanya content specialist lho.

Ilustrasi copywriter. Pixabay

Copywriter

Ada lagi copywriter yang juga tugasnya ada 'nulis'-nya. Tapi bukan sekadar nulis, seorang copywriter harus punya kreativitas lebih banyak untuk lebih menarik para pembaca.

Apalagi kata-kata yang ditulisnya dibatasi lho, karena sebagian besar copywriter harus menulis dengan bahasa iklan. Jadi peran mereka sangat penting nih dalam promosi sebuah produk atau jasa. Selain itu, mereka juga bertanggung jawab memberikan citra baik perusahaan.

UX Writer

Kemudian UX Writer atau singkatan dari user experience. Nah tugasnya dia ini harus membuat kata-kata yang indah dan enak dibaca oleh konsumen dalam produk digital yang ditawarkan. Terlihat mudah memang, tapi sebenarnya susah lho.

Mereka harus menguasai diksi-diksi dan menggabungkannya menjadi kalimat yang enak dibaca oleh pengguna atau pelanggan yang berminat untuk membeli produknya.

Nah, pola pikir UX writer ini bukan lagi penulis artikel atau blog ya, melainkan seperti desainer aplikasi, karena mereka akan langsung bersinggungan dengan desain sebuah aplikasi dan memecahkan masalah terkait desain.

Nah, jadi enggak hanya 'cuma' nulis kan? Tanpa adanya penulis konten, tentu banyak produk atau informasi yang tidak tersampaikan kepada masyarakat. Yuk, mulai apresiasi kinerja mereka!