Konten dari Pengguna

Larung Sesaji Puger: Simbol Syukur dan Keselamatan Nelayan

Dian Ulandari

Dian Ulandari

Mahasiswa Universitas Jember Program Studi Pendidikan Sejarah

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dian Ulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur. (2025, Juli 31). PETIK LAUTPUGER: TRADISI SAKRAL DAN MERIAH YANG TERUSDILESTARIKAN. https://dkp.jatimprov.go.id/unit/p3-puger//news/view/3960
zoom-in-whitePerbesar
sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur. (2025, Juli 31). PETIK LAUTPUGER: TRADISI SAKRAL DAN MERIAH YANG TERUSDILESTARIKAN. https://dkp.jatimprov.go.id/unit/p3-puger//news/view/3960

Kebudayaan Petik Laut di Puger berawal pada masa lalu sebagai ritual tahunan nelayan yang dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil tangkapan ikan yang melimpah sekaligus memohon keselamatan sekama melaut. Budaya ini kemudian mengalami perkembangan yang lebih terstruktur sejak sekitar tahun 1938, ketika seorang Lurah Puger bernama Rustam menginisiasi upacara adat nelayan yang kala itu masih bersifat sederhana. Pada upacara tersebut, masyarakat pesisir berkumpul untuk berdoa bersama dengan membawa sesaji berupa hasil laut dan hasil bumi, lalu menjatuhkannya ke laut sebagai simbol penghormatan terhadap kekuatan alam. Seiring berjalannya waktu, ritual yang bermula hanya dilakukan oleh kelompok nelayan itu kemudian melibatkan seluruh lapisan maysarakat Puger seperti tokoh adat, pemuka agama, hingga warga dari berbagai profesi. Ritual ini pun mendapat pengakuan sebagai kegiatan budaya tahunan yang diwariskan turun-temurun.

Selain itu ritual larung sesaji atau labuh sesaji di Puger sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum tahun 1938, bahkan sejak awal permukiman nelayan di pesisir selatan Jawa Timur. Tradisi ini berasal dari keyakinan masyarakat lokal terhadap kekuatan gaib yang menjaga laut selatan. Mereka percaya bahwa makhluk halus atau roh penjaga seperti Nyai Roro Kidul dan penguasa laut lainnya tinggal di sana. Laut dianggap oleh masyarakat pesisir sebagai tempat yang memiliki kekuatan besar selain sumber rezeki dan tempat yang harus dihormati dan dijaga keseimbangannya. Oleh karena itu, ritual larung sesaji dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan persembahan simbolik kepada laut dan makhluk penjaganya agar mereka tetap aman dan tidak murka. Menurut kepercayaan tradisional, larung sesaji berfungsi untuk mengatur hubungan antara manusia, alam, dan dunia spiritual, sehingga perjalanan laut aman dan menghasilkan banyak hasil. Unsur kepercayaan gaib dalam tradisi ini kemudian disesuaikan dengan nilai-nilai keagamaan dengan masuknya pengaruh Islam dan modernisasi. Namun, makna filosofis utamanya tetap sama sebagai ekspresi rasa terima kasih dan doa keselamatan bagi masyarakat Puger.

sumber: Instansi Pusat Informasi & Pemberdayaan Pesisir & Pulau Kecil. (2018, Oktober). TradisiPetik Laut Puger menonjolkan kearifan lokal.https://share.google/KRPTUOfVFatCnlWH2

Tradisi Petik Laut di Puger dilakukan sebagai cara untuk menunjukkan rasa terima kasih masyarakat kepada Tuhan atas hasil laut yang melimpah selama setahun. Mereka juga meminta doa agar para nelayan dan masyarakat pesisir senantiasa aman dari bahaya dan bencana laut. Upacara ini memiliki nilai spiritual dan merupakan cara untuk menghormati laut sebagai sumber kehidupan. Dalam pelaksanaannya, orang-orang membawa berbagai hasil bumi dan sesaji untuk dilarung ke laut sebagai cara untuk menunjukkan rasa terima kasih dan meminta berkah. Seluruh lapisan masyarakat, mulai dari nelayan, tokoh adat, hingga aparat desa, berpartisipasi dalam prosesi sakral ini dengan penuh perhatian.

Selain itu, karena dianggap sebagai warisan budaya yang harus dijaga dari generasi ke generasi, kegiatan pemetik laut juga membantu memperkuat solidaritas sosial dan kebersamaan antarwarga. Sebagai contoh “Petik laut merupakan tradisi sebagai ungkapan rasa syukur dan harapan para nelayan.” Ritual ini juga diadakan pada momen tertentu misalnya pada kalender Islam (bulan Muharram/Suro) sebagai titik waktu ritual. Oleh karena itu, tradisi ini menunjukkan adanya hubungan budaya antara prinsip-prinsip lokal dan keyakinan Islam yang berkembang di masyarakat pesisir Puger. Kepercayaan tradisional terhadap kekuatan laut dan ritual penyembahan masih digunakan sebagai tanda penghormatan terhadap alam, tetapi sekarang digabungkan dengan elemen Islam seperti doa bersama, tahlil, dan pembacaan Al-Qur'an. Perpaduan ini menunjukkan bagaimana budaya lokal menyesuaikan diri dengan ajaran agama baru, tetapi tidak menghilangkan identitas dan kearifan tradisi nenek moyang.

sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur. (2025, Juli 31). PETIK LAUTPUGER: TRADISI SAKRAL DAN MERIAH YANG TERUSDILESTARIKAN. https://dkp.jatimprov.go.id/unit/p3-puger//news/view/3960

Penelitian mengemukakan bahwa tradisi Petik Laut telah menjadi simbol identitas masyarakat Puger: “Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Petik Laut sebagai simbol kepercayaan masyarakat Puger, telah mampu menjadi identitas bagi komunitas Puger.” Artinya, tradisi Petik Laut bukan hanya upacara tahunan yang dilakukan secara turun-temurun; itu juga merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Puger sebagai kelompok nelayan yang hidup berdampingan dengan laut dan bergantung pada hasilnya. Tradisi ini mendorong kesadaran kolektif masyarakat tentang siapa mereka, di mana mereka tinggal, dan hubungan mereka dengan alam dan sejarahnya.

Tradisi ini menggabungkan berbagai aspek kearifan lokal, yang menunjukkan nilai budaya yang kuat di masyarakat Puger. Salah satu yang paling khas adalah pembuatan perahu sesaji miniatur, yang dihiasi dengan berbagai hasil bumi, makanan tradisional, bunga, dan perlengkapan simbolik lain yang menunjukkan rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki laut yang melimpah. Miniatur perahu tersebut kemudian diarak bersama menuju pantai sebelum akhirnya dilarung ke laut sebagai hadiah dan doa agar para nelayan selamat. Karena melibatkan berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial atau profesi, kegiatan bersama ini sangat penting untuk meningkatkan solidaritas sosial di antara warga pesisir. Dengan bekerja sama dalam persiapan upacara, mengarak sesaji, dan melakukan prosesi larung di laut, tercipta suasana yang hangat dan menghargai satu sama lain. Tradisi ini juga membantu mengurangi jarak sosial antara komunitas nelayan dan petani di Puger, yang menghasilkan hubungan antarkomunitas yang lebih harmonis dan inklusif.

Tradisi petik laut di Puger memiliki nilai budaya dan religius yang signifikan, serta berdampak positif pada ekonomi masyarakat pesisir. Kegiatan pendukung seperti kirab budaya, bazar, dan festival rakyat yang menyertai ritual ini memberikan ruang ekonomi kreatif bagi warga untuk menampilkan dan memasarkan produk lokal seperti hasil laut olahan, makanan tradisional, kerajinan tangan, dan pakaian khas daerah. Selain itu, momentum Petik Laut dapat menarik wisatawan lokal dan asing ke Puger, meningkatkan pendapatan pedagang, usaha kecil, dan pengelola wisata pantai. Tradisi ini berfungsi sebagai penggerak ekonomi masyarakat pesisir dan merupakan warisan budaya yang memiliki nilai simbolik dan spiritual. Nilai-nilai budaya dapat berkembang dan menguntungkan masyarakat setempat melalui tindakan seperti ini. Di sisi budaya, tradisi ini membantu menjaga identitas lokal, memperkuat solidaritas, dan meneruskan pengetahuan lokal tentang hubungan manusia-laut, sumber rezeki, dan perlindungan bersama.