Konten dari Pengguna

Gen Z Enggan Menikah: Soal Uang atau Takut Komitmen?

Diana Kholidah

Diana Kholidah

Mahasiswa Statistika Universitas Airlangga

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Diana Kholidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam salah satu video viral di TikTok unggahan akun @rahasia.wanita, beberapa anak muda diberi pertanyaan sederhana namun menohok: "Pilih besok nikah atau besok naik gaji?" Jawaban mayoritas responden kompak dan tanpa ragu memilih naik gaji. Cuplikan singkat tersebut sejatinya bukan sekadar konten hiburan, melainkan potret jujur mengenai skala prioritas generasi muda hari ini

Apakah Gen Z sekarang memang takut menikah karena ketidakstabilan ekonomi?

sumber foto: Pixabay (pixabay.com)
zoom-in-whitePerbesar
sumber foto: Pixabay (pixabay.com)

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi realitas tersebut. Angka pernikahan di Indonesia menyusut tajam hingga berada di titik terendah dalam satu dekade terakhir, yakni hanya sekitar 1,47 juta pernikahan pada 2024 dibanding 2,11 juta pada 2014. Persentase pemuda yang menikah pun anjlok dari 40,46 persen pada 2016 menjadi 27,92 persen pada 2025. Ironisnya, di saat pernikahan makin jarang, grafik perceraian justru bergerak naik.

Dompet yang Bicara Duluan

sumber foto: Pixabay (pixabay.com)

Jawaban atas pertanyaan TikTok tadi selalu bermuara pada urusan finansial. Temuan riset Jakpat mencatat 73 persen Gen Z menjadikan kondisi keuangan sebagai topik paling dominan yang dibahas bersama pasangan sebelum memutuskan menikah. Lonjakan harga hunian, biaya hidup perkotaan yang kian mencekik, hingga beban resesi sosial berbentuk pesta pernikahan mewah membuat ikatan nikah terasa seperti proyek investasi berisiko tinggi, bukan sekadar komitmen emosional.

Bukan Hanya Soal Uang

sumbee foto: Pixabay (pixabay.com)

Namun, menuding faktor ekonomi sebagai satu-satunya alasan jelas terlalu dangkal. Riset Populix mengungkapkan mayoritas Gen Z dan milenial memilih menunda pernikahan demi mengejar kestabilan karier dan menikmati ruang personal. Di saat yang sama, tren “Marriage is Scary” marak di linimasa media sosial. Sebuah cermin dari ketakutan kolektif akan potensi kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, hingga bayang-bayang perceraian. Sosiolog Universitas Airlangga, Prof. Bagong Suryanto, menilai fenomena ini mengindikasikan bahwa anak muda sekarang makin kritis dalam menghindari relasi yang toksik. Meningkatnya kesadaran atas hak-hak individu dan kesetaraan membuat keputusan menikah tidak lagi dipandang sebagai kewajiban otomatis yang harus dipenuhi di usia tertentu.

Titik Tenmu Dua Alasan Sosiolog UGM, Fina Itriyati, menawarkan sudut pandang yang menyatukan kalkulasi ekonomi dan kecemasan emosional dalam satu akar yang sama. Situasi ekonomi yang serba tidak pasti memaksa generasi muda mempertimbangkan pernikahan secara lebih rasional. Media sosial kemudian hadir mempercepat proses tersebut dengan menyajikan alternatif pilihan hidup sekaligus memperlihatkan secara telanjang risiko finansial dan mental dari sebuah pernikahan yang gagal.

Efek Panjang Bagi Masa Depan Fenomena ini punya ekor panjang. Penurunan angka pernikahan yang berjalan beriringan dengan penurunan angka kelahiran berpotensi mempercepat laju penuaan penduduk Indonesia, sesuatu yang menurut Fina perlu direspons bukan dengan mendorong orang buru-buru menikah, melainkan membangun sistem yang membuat setiap generasi mampu hidup

Gen Z sejatinya tidak sedang menolak institusi pernikahan. Mereka hanya sedang menghitung ulang masa depan mereka dengan dua alat ukur yang saling mengunci: kesiapan finansial dan kematangan mental.

Bagaimana menurutmu?