Konten dari Pengguna

Hubungan Perasaan Jatuh Cinta dengan Otak Manusia dalam Perspektif Biopsikologi

Diana Rismayanti

Diana Rismayanti

hai semua! perkenalkan saya diana, mahasiswa prodi S1 psikologi universitas muhammadiyah surakarta.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Diana Rismayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi cinta dan matahari terbenam Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cinta dan matahari terbenam Foto: Shutterstock

Dalam kehidupan yang dipenuhi dengan berbagai macam perasaan, pernahkah anda merasakan perasaan jatuh cinta? Konon, setidaknya sekali seumur hidup semua orang pasti pernah merasakan yang namanya jatuh cinta kepada seseorang. Mungkin bisa saja kita jatuh cinta dengan teman sebaya, idola, atau bisa saja dengan orang asing yang kita temui di tempat umum.

Bagi sebagian orang ada yang menganggap bahwa ini adalah perasaan yang membahagiakan, karena dengan adanya perasaan ini rasanya hari-hari yang dijalani terasa lebih indah dan menyenangkan. Namun, untuk Sebagian orang perasaan ini ialah perasaan yang membingungkan serta dapat meninggalkan luka bahkan kenangan yang kurang menyenangkan untuk diingat.

Hampir setiap orang mengalami perasaan jatuh cinta, yang merupakan pengalaman emosional yang sangat kuat dan kompleks. Menurut biopsikologi, jatuh cinta adalah proses biologis dan melibatkan berbagai mekanisme di otak manusia.

Biopsikologi adalah bidang ilmu yang mempelajari bagaimana sistem saraf dan perilaku berinteraksi. Ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana otak mengatur dan memengaruhi perasaan cinta. Esai ini akan membahas hubungan antara perasaan jatuh cinta dengan aktivitas otak manusia, termasuk peran neurotransmiter, struktur otak, dan efek biologis dari pengalaman cinta.

Menurut perspektif psikologi salah satu tokoh yaitu Harry Harlow “Cinta adalah keterikatan emosional yang sangat penting untuk perkembangan psikologis yang sehat.” Secara psikologis, jatuh cinta melibatkan aspek afektif, kognitif, dan motivasional. Namun, dari sudut pandang biopsikologi, jatuh cinta adalah hasil dari interaksi kompleks antara berbagai sistem kimia dan saraf otak yang memicu perasaan dan perilaku tertentu.

Ilustrasi saraf otak. Foto: Axel_Kock/Shutterstock

Terdapat beberapa zat kimia yang berfungsi sebagai pembawa pesan antar neuron di otak. Pertama, terdapat zat dopamin karena peranannya dalam sistem reward otak, dopamin sering disebut sebagai neurotransmiter "hadiah".

Kadar dopamin meningkat saat seseorang jatuh cinta, terutama di area otak seperti nucleus accumbens dan ventral tegmental area (VTA). Perasaan euforia, motivasi tinggi, dan fokus yang intens pada objek cinta disebabkan oleh peningkatan dopamin ini.

Kedua, terdapat zat oksitosin karena peranannya dalam memperkuat hubungan sosial dan kepercayaan, oksitosin, yang juga disebut sebagai "hormon cinta" dan "hormon pelukan", dilepaskan selama interaksi fisik seperti pelukan, ciuman, dan hubungan seksual, yang memperkuat ikatan emosional antara pasangan.

Ketiga, terdapat zat serotonin mengatur suasana hati dan perasaan bahagia. Kadar serotonin yang rendah dapat menyebabkan pikiran obsesif terhadap pasangan pada awal jatuh cinta, yang mirip dengan gejala gangguan obsesif-kompulsif.

Selain itu, terdapat beberapa area otak yang terlibat ketika kita sedang mengalami perasaan jatuh cinta. Pertama, Nucleus Accumbens adalah sebuah bagian dari sistem reward yang menangani sensasi kepuasan dan dorongan. Saat seseorang melihat atau memikirkan orang yang dicintainya, aktivitas ini akan meningkat.

Kedua, Ventral Tegmental Area (VTA) ialah pusat yang menghasilkan dopamin bertanggung jawab atas perasaan euforia dan ketagihan terhadap pasangan. Ketiga, korteks Prefrontal bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan pengendalian impuls. Aktivitas ini dapat berkurang saat jatuh cinta, yang menjelaskan mengapa seseorang bisa bertindak impulsif atau tidak logis demi cinta.

Keempat, Amygdala membantu mengolah emosi dan menangani ancaman. Saat jatuh cinta, aktivitas amygdala cenderung menurun, yang dapat mengurangi ketakutan dan kecemasan dalam hubungan.

Ilustrasi Cinta. Foto: Shutterstock

Ketika seseorang jatuh cinta, otak mereka mengalami perubahan kimiawi dan aktivitas. Perubahan ini berdampak pada perasaan dan perilaku mereka. Keterlibatan fisik dan emosional memicu pelepasan dopamin dan oksitosin, yang memperkuat ikatan emosional dan rasa percaya, sementara dopamin membuat seseorang merasa "tergila-gila" pada pasangan.

Kebanyakan seseorang yang terlarut dengan perasaan ini, mereka cenderung akan melakukan semua hal yang dikatakan oleh pasangannya tanpa memikirkan apa konsekuensi yang akan di dapat, karena mereka akan merasa semua hal yang dikatakan pasangannya benar, sehingga mereka akan menuruti semua yang dikatakan oleh pasangannya.

Selain itu, penurunan serotonin menyebabkan pikiran yang terus-menerus terfokus pada pasangan, yang sering disebut sebagai "obsesi cinta." Ini terjadi karena penurunan aktivitas di korteks prefrontal dan amygdala, yang membuat seseorang lebih berani mengambil risiko dan kurang merasakan kecemasan, yang meningkatkan keinginan untuk mendekat dan mempertahankan hubungan.

Apalagi, ada beberapa orang yang terjebak dalam hubungan toxic dan akhirnya mengganggu kesehatan mental mereka karena mereka cenderung mempertahankan hubungan yang toxic, padahal sudah menyadari bahwa hubungan diantara mereka sudah tidak kondusif. Alhasil, tidak sedikit dari mereka yang harus menanggung akibat dari hubungan yang toxic dan mempengaruhi siklus kehidupan mereka sehari-hari.

Dari perspektif biopsikologi, memahami fenomena jatuh cinta membantu menjelaskan mengapa cinta bisa sangat kuat dan sulit untuk dikendalikan. Hal ini juga membantu memahami gangguan yang berkaitan dengan hubungan interpersonal, seperti perasaan kecemburuan patologis, ketergantungan emosional, dan gangguan obsesif-kompulsif yang berkaitan dengan cinta.

Pemahaman tentang fungsi hormon dan neurotransmiter dalam cinta juga dapat membantu dalam pengembangan terapi untuk masalah hubungan dan kesehatan mental. Misalnya, terapi yang menargetkan sistem dopamin atau oksitosin dapat membantu pasangan yang mengalami kesulitan memperbaiki ikatan emosional mereka.

Interaksi kompleks antara neurotransmiter, hormon, dan berbagai struktur otak menyebabkan perasaan jatuh cinta, yang merupakan fenomena biopsikologis. Efek dopamin, oksitosin, serotonin, dan vasopresin pada euforia, ikatan emosional, dan perilaku cinta. Selama jatuh cinta, aktivitas di area otak seperti nucleus accumbens, VTA, korteks prefrontal, dan amygdala mengatur reaksi kognitif dan emosi. Dengan memahami mekanisme biologis ini, kita dapat lebih memahami betapa dalam dan rumitnya pengalaman cinta. Selain itu, juga dapat lebih memahami bagaimana otak manusia membentuk salah satu aspek paling penting dari kehidupan manusia.