Konten dari Pengguna

Kesehatan Mental di Tempat Kerja: Mengapa Penting dan Bagaimana Menjaganya

Pemaparan materi kesehatan mental di tempat kerja dalam kegiatan Motivasi September Ceria di Gedung B Kanwil DJP Aceh, Selasa (29/9). (Foto: Dok. Kanwil DJP Aceh)
zoom-in-whitePerbesar
Pemaparan materi kesehatan mental di tempat kerja dalam kegiatan Motivasi September Ceria di Gedung B Kanwil DJP Aceh, Selasa (29/9). (Foto: Dok. Kanwil DJP Aceh)

Berapa lama waktu yang kita habiskan di tempat kerja setiap hari? Menurut pemateri dalam kegiatan Motivasi September Ceria di Kanwil DJP Banda Aceh, Selasa (29/9), sekitar separuh waktu sadar kita berlangsung saat bekerja. Artinya, suasana kerja ikut menentukan bagaimana kondisi mental kita dari hari ke hari.

Persoalan ini juga menjadi perhatian dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 12 miliar hari kerja hilang setiap tahun akibat depresi dan kecemasan, dengan kerugian produktivitas mencapai sekitar US$1 triliun per tahun. WHO menegaskan bahwa lingkungan kerja yang aman dan sehat dapat melindungi kesehatan mental, sedangkan lingkungan kerja yang kurang baik dapat menjadi risiko.

Stres Itu Wajar, Cara Mengelolanya yang Penting

Kepala Seksi Pengawasan V Kanwil DJP Aceh, Yusniawaty Hasibuan, menjelaskan bahwa stres merupakan reaksi alamiah tubuh. Target kerja yang tinggi dan waktu bekerja yang panjang memang dapat menimbulkan tekanan. Namun, menurutnya, hal terpenting adalah mengetahui cara mengelolanya, bukan hanya menyalahkan beban kerja.

Kondisi mental yang terjaga juga berpengaruh pada banyak hal, mulai dari konsentrasi dan ketelitian dalam bekerja, kualitas pelayanan kepada masyarakat, hingga keharmonisan suasana kantor dan produktivitas organisasi.

Faktor yang Memengaruhi Kesehatan Mental di Kantor

Sejumlah faktor dapat memengaruhi kesehatan mental di tempat kerja, antara lain beban kerja yang berlebihan, kurangnya dukungan dari atasan dan rekan kerja, peran yang tidak jelas, perlakuan yang kurang adil, serta lingkungan kerja yang kurang nyaman. WHO juga mencatat beban kerja berlebihan, diskriminasi, dan ketidakpastian pekerjaan sebagai risiko bagi kesehatan mental.

Sebaliknya, lingkungan kerja yang sehat ditopang oleh otonomi dalam bekerja, kejelasan peran dan harapan kerja, pengakuan atas kinerja, serta dukungan dari atasan dan rekan kerja.

Lima Langkah Sederhana yang Bisa Dilakukan

Menjaga kesehatan mental bisa dimulai dari kebiasaan kecil sehari-hari:

1. Salurkan emosi secara sehat dan jangan memendam masalah seorang diri. Bercerita kepada orang yang dipercaya dapat membantu meringankan beban.

2. Rawat diri melalui pola makan, tidur, olahraga, dan hobi yang teratur.

3. Jangan mudah menghakimi rekan kerja, karena setiap orang mungkin sedang menghadapi beban yang tidak terlihat.

4. Cari informasi kesehatan mental dari sumber yang kredibel, dan jangan mendiagnosis diri sendiri.

5. Cari bantuan profesional apabila kondisi mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau berlangsung lama dan semakin berat. Bantuan dapat diperoleh melalui puskesmas, rumah sakit, atau klinik.

Peran Atasan dan Lingkungan Kerja

Menjaga kesehatan mental bukan tugas pegawai semata. Atasan berperan menjadi teladan dalam menjaga keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi, membangun komunikasi yang terbuka, memberikan apresiasi, serta menciptakan lingkungan kerja yang aman dan saling menghormati. “Atasan yang peduli adalah kunci tim yang sehat, produktif, dan berdaya,” ujar Yusniawaty.

Menciptakan Lingkungan Kerja yang Nyaman

Pada akhirnya, kesehatan mental adalah tanggung jawab bersama. Ketika pegawai berani berbagi dan mencari dukungan, serta atasan dan rekan kerja bersedia mendengarkan, lingkungan kerja yang nyaman bukan lagi sekadar harapan. Sebab, seperti diingatkan Yusniawaty, kita cukup lama berada di tempat kerja setiap hari.

Catatan: Artikel ini bersifat edukasi umum. Kondisi kesehatan mental setiap orang dapat berbeda menurut latar belakang, lingkungan kerja, dan kebutuhan masing-masing. Apabila membutuhkan bantuan, konsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional.