Konten dari Pengguna

Pukul 02.00: Dapur, Skuter 10 Kg, dan Perjuangan ASN Gen Z

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Risdiana Damayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pukul 02.00 saya masak. Pukul 04.00 saya gendong skuter 10 kilogram. Pukul 07.00 saya ngantor. Ini kisah perjuangan ASN Gen Z, yang orang bilang paling susah diatur, paling suka pindah kerja, dan paling takut komitmen.

Tapi saya memilih jadi ASN Gen Z yang punya komitmen.

Saya ASN muda. Merintis karier dari muka imut hingga mulai dari gaji yang ‘imut’ juga. Saat Jakarta masih lelap, dapur di Bogor sudah mengepul. Sebelum seragam ASN saya kenakan, apron ibu rumah tangga sudah lebih dulu saya pakai.

Saya tidak mengabdi dengan melawan alam di pelosok. Saya mengabdi dengan melawan lelah, melawan jarak, dan melawan ego.

Perjalanan Dimulai dari Dapur

Ilustrasi Pukul 02.00: Dapur, Skuter 10 kg, dan Perjuangan ASN Gen Z. Sumber: Pexels

Pukul 02.00 alarm pertama bunyi. Bukan karena ada bencana, bukan karena ada keadaan darurat. Tapi karena ada janji. Janji untuk hadir di kantor jam 07.00, karena harus ikut apel setiap pagi.

Sebelum itu, pukul 02.00 sampai 03.30 adalah waktu saya. Waktu saya untuk menanak nasi, mengiris sayur, menggoreng lauk dan menyajikan menu sederhana itu di meja makan.

Mengapa harus secepat itu? karena jarak dari ujung Bogor hingga Jakarta tidak dekat. Saya memilih berangkat lebih awal bukan karena rajin. Tapi karena strategi. Meski pada akhirnya harus mengaktifkan radar bertahan hidup di diri saya juga.

Skuter Perjuangan

Ilustrasi Skuter Perjuangan. Sumber: Pexels

Kendaraan saya bukan mobil dinas. Hanya skuter listrik kecil yang mentok bisa dibawa 25 kilometer per jam. Beratnya 10 kilogram, bisa dilipat dan dibawa seperti tas gendong.

Jangan tanya berat atau tidak, bagi saya 10 kilogram ini lebih ringan dari tanggung jawab hidup yang sedang saya bawa saat ini.

Ini bukan soal gaya, ini soal hitung-hitungan. Harga bensin, tol, dan parkir di Jakarta bisa menghabiskan setengah gaji. Pakai skuter ini saya bisa hemat.

Hemat itu artinya bisa menabung untuk sekolah anak. Hemat itu artinya bisa memberikan fasilitas yang baik di antara yang terbaik untuk anak-anak saya.

Kereta Commuter Line

Ilustrasi Kereta commuter line. Sumber: Pexels

Perjalanan di kereta bisa menghabiskan waktu lebih dari satu jam. Saya berdiri sambil pegang strap, sambil gendong tas skuter 10 kg dan tas kerja di depan dada. Pernah ada ibu-ibu nawarin duduk, saya tolak. Saya bilang "makasih bu, saya masih kuat". Padahal dalam hati, kaki udah kesemutan.

Saya cuma enggak mau jadi beban, di sini saya belajar sabar level dewa. Belajar menghargai satu meter ruang pribadi di tengah ribuan orang.

Perjuangan yang Berlapis

'Hemat’ punya konsekuensi. Ada hari di mana hujan deras, terjebak di kereta commuter line yang berdesakan di jam sibuk, atau harus lembur pulang malam. Dari situ saya belajar soal rasa aman.

Saya membeli alat perlindungan diri. Ada 'My Secret Angel' di tas, ada kunci gembok kecil di skuter, ada powerbank dan senter kecil, hingga pepper spray yang selalu saya bawa.

Bukan karena penakut. Tapi karena saya ibu dari dua anak. Saya harus pulang. Opsinya, saya akhirnya memutuskan untuk naik transportasi umum.

Siapa sangka, di situ juga empati saya ditempa.

Saya ASN. Tugas saya mungkin tidak bertemu masyarakat di loket. Saya bekerja di balik meja. Menyelesaikan dokumen, menginput data, hingga berkoordinasi. Tugas yang memang tidak terlihat.

Tapi dari perjalanan inilah saya ingat untuk siapa semua kertas dan rapat itu.

Ilustrasi perjuangan yang berlapis. Sumber: Pexels

Ternyata untuk bapak ojek yang usianya sudah senja tapi ingin anaknya terus sekolah. Untuk sopir bajaj yang kendaraannya sudah ringkih tapi tetap ingin menafkahi keluarga kecilnya, dan untuk anak-anak saya yang berhak hidup di negara yang lebih baik.

Perjuangan saya mungkin tidak langsung. Tapi ia berlapis.

Capek, tapi Memilih

Pukul 17.00 saya kembali. Rumah sudah menunggu. Ada sepasang anak batita lucu yang langsung datang memeluk dan menyambut sambil bertanya “mami pulang bawa apa?". Ada cucian, ada cerita sebelum tidur, dan ada tenaga yang harus saya isi lagi untuk besok pukul 02.00.

Ilustrasi capek, tapi memilih. Sumber: Pexels

Ini keputusan paling waras dalam lima tahun terakhir jadi ASN, yang kata orang 'gaji imut' dan semangat yang tidak imut-imut.

Karena saya percaya, perjuangan seorang ASN, Gen Z, perempuan, dimulai dari rumah. Dan pulang ke rumah dengan kepala tegak adalah bentuk perjuangan juga.

Untuk anak-anak saya. Untuk negeri ini.