Konten dari Pengguna

Kontribusi Negara Jepang dalam Memfasilitasi Penyandang Disabilitas

Azzahra Diandra Putri

Azzahra Diandra Putri

hai! saya adalah seorang mahasiswi dari Univeritas Airlangga yang sekedar meluangkan waktu untuk menuliskan kata-kata disini :D

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azzahra Diandra Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Toilet penyandang disabilitas (Source: Pixabay/Csaba Nagy)
zoom-in-whitePerbesar
Toilet penyandang disabilitas (Source: Pixabay/Csaba Nagy)

Nama: Azzahra Diandra

Program Studi: Studi Kejepangan

Fakultas: Ilmu Budaya

Istilah Disabilitas pasti sudah tidak asing lagi bagi kita, meskipun terkadang kita belum sepenuhnya mengerti apa arti dari kata tersebut. KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) menyebutkan disabilitas adalah keadaan tidak mampu melakukan hal-hal dengan cara yang biasa. Disabilitas dapat terjadi karena bawaan dari lahir, penyakit, kecelakaan dan lainnya. Jika diserap dari bahasa Inggris, disabilitas diambil dari differently abled. Yang berarti bahwa mereka tetap bisa melakukan apa saja, namun hanya dengan cara yang berbeda.

Penyandang disabilitas sering dianggap tidak berguna dan menyusahkan di masyarakat, bahkan penyandang disabilitas sendiri beranggapan bahwa dirinya hanya merepotkan orang-orang di sekitarnya. Seseorang yang mengalami kecacatan, apapun faktor-faktor penyebabnya, baik faktor bawaan maupun faktor dari luar mempunyai pandangan negatif terhadap kondisi cacatnya, dan menjadi subjek stereotype prejudice, serta limitation baik dari masyarakat yang memandangnya maupun dirinya sendiri karena merasa tidak mampu (Lahey, 2004).

Penyandang disabilitas dapat melakukan apa saja, namun seringkali mereka membutuhkan bantuan dari sekitarnya. Contoh paling mudah adalah dengan menggunakan fasilitas. Fasilitas umum dapat memudahkan mereka untuk menjalani kesehariannya. Biasanya, fasilitas umum tersebut dapat dijumpai ditempat umum seperti bandara atau stasiun. Namun, jumlah yang ada masih kurang memadai. Bahkan terkadang kondisi dari fasilitasnya sudah tidak bisa digunakan. Maka dari itu, seringkali harus dilakukan pemeriksaan dan penggantian fasilitas umum yang lama dengan yang baru, agar selalu dapat digunakan sesuai manfaatnya.

Salah satu negara yang membantu penyandang disabilitas dengan memberikan fasilitas-fasilitas yang memadai adalah Jepang. Jepang adalah salah satu negara dengan jumlah penyandang disabilitas yang cukup banyak di Asia. Di Jepang sebanyak 5,9% dari populasinya merupakan penyandang disabilitas. Jumlah ini selalu bertambah setiap tahun seiring dengan bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk.

Hal ini yang mendasari pemerintah dan warga negara Jepang menjadi sangat khawatir dengan keadaan para penyandang disabilitas. Berbagai fasilitas publik disiapkan, sekolah-sekolah luar biasa dibangun dengan sistem dan fasilitas memadai, para pengajar khusus yang sudah dilatih dan diberdayakan untuk mengajar para siswa dengan keterbatasan, lalu teknologi dibuat khusus untuk memfasilitasi mereka, dan yang paling penting adalah masyarakat Jepang diminta untuk menerima keberadaan mereka tanpa adanya diskriminasi ataupun pandangan negatif lainnya kepada para penyandang disabilitas. Kesiapan sistem dan pola pikir masyarakat tersebutlah yang mendukung para penyandang disabilitas di Jepang dapat menjalani kehidupan yang nyaris sama dengan warga normal pada umumnya. Bahkan cukup banyak penyandang disabilitas fisik dan mental yang dapat menjalani keseharian dan kehidupannya tanpa bantuan dari orang lain.

Sejak 30 tahun yang lalu, pemerintah Jepang sudah mengeluarkan undang-undang yang menjamin para penyandang disabilitas untuk mendapatkan kesempatan yang sama dengan orang normal untuk bekerja di perusahaan. Pada tahun 1960 no. 123, pemerintah Jepang mengesahkan undang-undang mengenai promosi kerja bagi penyandang disabilitas yang mengharuskan setiap perusahaan memiliki tenaga kerja penyandang disabilitas. Undang-undang mensyaratkan kuota sebesar 1,8% untuk perusahaan swasta dengan jumlah karyawan 56 orang, dan 2,1% untuk kantor pemerintahan. Hal ini tercantum dalam undang-undang Jepang mengenai promosi pekerjaan dan lain-lain. Dengan didukung oleh undang-undang tersebut, maka dapat dipastikan bahwa para penyandang disabilitas di Jepang sudah dijamin kehidupannya untuk dapat hidup mandiri tanpa bergantung kepada orang lain. Para penyandang disabilitas pun dalam melakukan aktivitas sehari-harinya ditunjang oleh fasilitas umum yang disediakan oleh pemerintah Jepang.

Peranan pemerintah Jepang terhadap kehidupan penyandang disabilitas di Jepang dapat dikatakan sangat diperhatikan oleh pemerintah Jepang. Beberapa hal penting yang mendapatkan perhatian dari pemerintah Jepang antara lain:

A. Pendidikan

Pemerintah Jepang telah membuat keputusan untuk membentuk sistem pendidikan inklusif bagi anak-anak penyandang disabilitas. Menurut Special Committee on the Future Direction of Special Needs Education of the Subdivision on Elementary and Secondary Education of the Central Council for Education, sistem pendidikan inklusif mengacu pada "sistem yang memungkinkan anak-anak dengan dan tanpa kecacatan untuk belajar bersama-sama dengan tujuan mengembangkan rasa hormat terhadap perbedaan orang dan mengembangkan secara maksimal kemampuan mental dan fisik anak-anak terlepas dari ada tidaknya keterbatasan, dan untuk mewujudkan masyarakat bebas di mana semua orang bisa berpartisipasi dengan efektif."

B. Sarana dan Prasarana

1. Toilet Khusus

Toilet khusus sering dijumpai di rumah sakit, tempat belanja, supermarket dan di rest area di dalam jalan tol. Toilet yang ukurannya lebih luas dari toilet biasa ini biasanya berisi banyak pegangan pada pinggiran tembok, pinggiran wc dan pada wastafel. Keadaan dalam toilet disesuaikan dengan keadaan orang-orang yang berkebutuhan khusus.

2. Parkir Khusus

Parkir khusus ini sangat mudah kita temukan dimana-mana, sama seperti toilet khusus, biasanya ada di pusat pertokoan, rumah sakit, service area/rest area, supermarket, taman, dan lain sebagainya. Parkir khusus ini akan ditempatkan di depan atau di pinggir pintu masuk gedung. Parkir khusus ini diperuntukkan untuk kaum manula dan penyandang disabilitas.

3. Tenji Blocks

Pemerintah Jepang sangat peduli dengan para penyandang disabilitas dengan mengadakan tenji blocks di jalan-jalan umum, seperti pusat pertokoan, supermarket, toko buku, stasiun kereta api, halte bus, perempatan jalan, dimana-mana. Tenji Blocks (Tactile Paving) adalah huruf Braille, tulisan sentuh ala Jepang (hiragana dan romaji, alfabet yang disadur ke dalam bentuk karakter khusus) yang berfungsi untuk memudahkan penyandang tuna netra untuk menyusuri jalan. Dimana lantainya itu terdapat tanda-tanda berupa karakter khusus, dot characters. Fungsinya untuk memudahkan penyandang tuna netra untuk mengenali jalan yang sedang dilaluinya. Pemerintah Jepang juga begitu peduli akan pengadaan dan perawatan Tenji blocks ini.

4. Kursi Khusus

Kursi khusus adalah tempat duduk yang khusus disediakan di bus kota untuk penyandang disabilitas. Tempat duduk ini memiliki tali yang bisa diikatkan pada tiang dan bisa dilipat untuk memberikan ruang bagi kursi roda. Begitu pula di dalam kereta ada ruang khusus yang disediakan bagi penyandang disabilitas.

5. Lift Bagi pemakai kursi roda

Hampir di setiap stasiun yang bertingkat disediakan lift sehingga memudahkan para pengguna kursi roda naik atau turun dan tombol lantai lebih pendek dari biasanya di samping lift sehingga terjangkau oleh pemakai kursi roda. Jika ada pemakai kursi roda ingin naik kereta maka akan didampingi petugas yang khusus untuk melayani pemakai kursi roda tersebut.

6. Bel Khusus

Sistem bel yang di taruh di depan pintu supermarket ini berfungsi untuk memberikan bantuan kepada para penyandang disabilitas, orang yang memang membutuhkan pertolongan untuk dipandu saat akan berbelanja. Salah satu cara agar menarik pelanggan bukan dengan pemberian harga yang bersaing tetapi memberikan pelayanan kepada pelanggan yang memerlukan bantuan.

7. Jembatan Khusus

Supir akan memasang alat khusus untuk mempermudah akses penyandang disabilitas agar mudah masuk ke dalam kereta api atau bus. Jika ada penumpang penyandang disabilitas yang akan naik bis maka supir bis akan turun tangan sendiri mempersiapkan papan untuk jalan naik bagi yang berkursi roda. Sementara penumpang yang lain akan menunggu dan mempersilahkan penyandang disabilitas naik terlebih dahulu. Begitu pula ketika penyandang disabilitas akan naik kereta api maka petugas di stasiun akan membantu memasangkan jembatan. Pada saat turun di stasiun yang dituju oleh penyandang disabilitas, petugas sudah siap membantu.

Dengan melihat fasilitas yang tersedia inilah, maka dapat dikatakan bahwa Jepang merupakan negeri ramah bagi para penyandang disabilitas, karena semua fasilitas umum ini bisa dengan mudah untuk ditemukan dan cari dimana-mana. Fasilitas-fasilitas inilah yang bisa memudahkan para penyandang disabilitas untuk bisa menjalankan kehidupannya seperti biasa, tanpa perlu merasa disisihkan, dipinggirkan ataupun merasa dipandang sebelah mata karena kebutuhan mereka selalu menjadi perhatian khusus dan prioritas utama, baik itu oleh pemerintah maupun oleh lingkungan sekitarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Lahey, B. 2004. Psychology An Introduction. New York: McGraw Hill Companies Inc.

Stevens, Carolyn S. 2013. Disability In Japan. New York: Routledge